Malam Gandrung Tayub

Beragam versi Tayub di Jawa Timur bakal beradu pesona dalam Malam Gandrung Tayub di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, Sabtu, 12 Maret 2011, mulai pukul 19.00. Sejumlah daerah di propinsi ini memiliki gaya Tayub sendiri-sendiri. Jenis Tari Pergaulan ini di Jawa Barat disebut Jaipong, sedangkan di Jawa Tengah dinamakan Gambyong. Gandrung Tayub, maksudnya cinta setengah mati terhadap Tayub.

Versi Tayub yang berbeda di beberapa daerah Jatim itupun ternyata juga memiliki sebutan yang berlainan. Sebutan tayub itu sendiri dikenal di Tulungagung, Kediri, Trenggalek dan Blitar, juga Malang dan Situbondo, meski gayanya berbeda. Sedangkan Surabaya dinamakan Tandhakan, Tuban, Bojonegoro dan Lamongan menyebutnya Sindiran, di Nganjuk disebut Salepo, di Banyuwangi disebut Gandrung. Lumajang dan Probolinggo menyebut Lengger, dan di Madura dinamakan Sandur.

Kali ini, yang bakal tampil adalah kelompok Tari Tayub yang berasal dari lima kota, yaitu: Tuban, Nganjuk, Tulungagung, Probolinggo dan Malang. Pilihan ini berdasarkan kondisi riil Tayub di beberapa daerah tersebut yang memiliki perbedaan karakter cukup mencolok, disamping karena alasan teknis. Beberapa perbedaan terdapat pada gaya menarinya, gending yang mengiringi dan juga bagaimana cara menyajikannya.

Di daerah asalnya, Tayub biasanya digelar pada saat orang punya hajat keluarga. Namun bisa jadi digelar secara khusus atas alasan tertentu menurut kebutuhan komunitasnya. Tayub pernah dihebohkan karena dianggap tarian erotik, karena penonton yang ingin menari bareng dengan penari tayub harus memberikan uang saweran (ini istilah Sunda, di Jatim disebut Tembel) yang langsung dimasukkan ke sela-sela payudara penari. Alternatifnya, disediakan tempat khusus berupa seperti tatakan gelas (baki) untuk menempatkan Tambal, atau ada juga yang menyediakan semacam stoples (Tombang).

Dalam seni Tayub ada beberapa elemen yang mendukungnya. Penari Tayub (Waranggana) tentu merupakan elemen utama. Sedangkan orang yang mengatur giliran pengunjung menari disebut Pelandang atau Pramugari (laki-laki). Pemusiknya disebut Pengendang dan Pembalung, sedangkan pengunjung yang ikut menari disebut Pengibing. Sebetulnya ada yang menarik di Madura, yaitu penarinya dibawakan oleh laki-laki berdandan wanita.

Ciri khas tarian ini ditandai dengan penggunaan selendang atau Sampur yang dikenakan penari atau pengibing. Pihak Pelandang yang akan mengatur siapa pengunjung yang berhak menari akan dikalungi sampur sehingga kemudian pengunjung maju ke arena dan menjadi Pengibing. Biasanya, dalam hajatan yang disemarakkan dengan Tayub, minuman yang disajikan berupa Tuwak (arak) dengan menggunakan gelas terbuat dari bambu. Minuman keras ini yang kadang membawa dampak kurang baik berupa mabuk, sehingga kemudian dikendalikan sedemikian rupa.

Meski disebut Tari Tayub, namun pertunjukan ini tidak mengutamakan tariannya, melainkan bagaimana menciptakan suasana yang akrab di kalangan pengunjung, dengan memberi kesempatan mereka ikut maju ke arena menari bersama Waranggana. Itulah sebabnya pertunjukan ini disebut Tari Pergaulan. Tidak heran pula Tayuban sering dijadikan sajian penghibur untuk mencairkan suasana dari pertemuan formal yang berlangsung sebelumnya. (hn)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: