Tan Tjing Siong: Berbicara Melalui Karya

Nama Tan Tjing Siong selama ini pernah dikenal sebagai sastrawan yang produktif dan menjadi aktivis berkesenian, bermukim di Kota Batu. Ternyata, sejak tahun 1997 sudah pindah ke Sidoarjo. Dan ketika tulisan ini dibuat, sudah hijrah lagi ke Surabaya, meski tetap bekerja dengan berwiraswasta di Sidoarjo. Domisili itu memang tidak penting, dimanapun berada, karya-karyanya terus mengalir.

Sulit menemukan publikasi mengenai sosok pribadinya. Yang banyak tersebar justru karya-karyanya di berbagai media dan buku-buku. Lelaki kelahiran Surabaya, 27 Mei 1966 ini, pertama berkesenian bergabung dengan Sanggar Seni Slake kota Batu (1984). Di situ awal menulis puisi, cerpen, dan kemudian novel untuk koran. Pernah aktif di komunitas Kaca Mata Kecil Kota Batu (bergerak di sastra), FDST (Forum Dialog Sastra & Teater) Batu, pernah ‘membantu’ di Lingkaran Komunikasi Batu (bidang seni budaya).

Cerpen pertama berjudul “Tamu” dimuat di Suara Indonesia (Malang, 1984). Sampai sekarang sudah ratusan cerpen terpublikasi di berbagai media massa, seperti Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Nova, Horison, dan beberapa media massa lainnya,lokal maupun nasional. Kumpulan cerpen yang pernah terbit: Bau (Batu, 1989), Wibawa (Batu, 1993), Dua Wajah (Batu, 1997), Sang Kuni (LingKom & Narasi Jogja 2003), Mamat atawa Cung (Sava Media Malang, 2004).

Kumpulan cerpen bersamanya: Nyanyian Pedalaman II (kumpulan bersama RSP, 1994), Bermula dari Tambi, 30 Cerita Pendek Jawa Timur (DKJT, 1999). Kumpulan puisi bersamanya, antara lain: Pertarungan, Gelombang, Langkah, Jejak Derap, Malsasa 1991 & 1992, Festival Puisi PPIA XIII dan XIV, Semangat Tanjung Perak, dan masih banyak lagi.

Novel yang sudah dipublikasikan dalam bentuk cerita bersambung adalah Tarmi (Surabaya Post, 1995), Warisan (tabloid Nova, 1996), Laki-laki dari Selatan (Surabaya Post, 1997), Konser Pasar (Jawa Pos, 2002), dua novel yang disebut terakhir ini kemudian dibukukan dan diterbitkan Grasindo 2004, bersama dengan Sang Penari (Grasindo, 2004). Novel bersambung lainnya adalah Tembang Kain (Surya, 2002).

Memang, setelah itu Tjin Siong lebih disibukkan urusan kerja di kontraktor, lebih “realistis” menghidupi keluarga. Namun karya-karyanya tetap saja mengalir, berupa cerpen dan puisi yang dimuat di beberapa media, meski sudah tidak lagi, menerbitkan buku. Dunia sastra, dan kesenian pada umumnya, ternyata memang belum berpihak kepadanya dalam bentuk finansial yang memadai.

Karena itu, selain tetap berkarya dalam sastra dan bekerja wiraswasta, Bapak tiga anak ini menyempatkan diri juga berkecimpung membuat sinetron pesanan, seperti Rumahku Rumahmu (kerjabareng dengan Lan Fang, Yoyok RAF, Leres dan Siong, dengan nama Vajra Metta). Juga membuat sinetron pesanan berjudul Bapaku yang Baik (kerjasama dengan Yoyok RAF, Nuri & Siong dengan nama kelompok SelArt Communication). Bahkan, Tan Tjing Siong, juga pernah menjadi bapak asuh sebuah band beraliran punk-rock bernama Atlas, Sidoarjo.

Dia juga sesekali masih bergaul bersama komunitas sastra. “Tapi sastrawan sekarang muda-muda ya,” ujarnya berkomentar tentang peserta Temu Sastra Jatim yang dihadirinya.

Alamat rumahnya: Villa Valencia PA 2/30 Pakuwon Jati, Surabaya.

naskah dan foto: henri nurcahyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: