Dosen Universitas Airlangga Pemenang Anugerah Sayembara Telaah Sastra DKJ

Jakarta, 15 Januari 2009 – Naskah telaah sastra karya Bramantio dari Jawa Timur bertajuk “Metafiksionalitas Cala Ibi: Novel yang Bercerita dan Menulis tentang Dirinya Sendiri”, keluar sebagai pemenang pertama Sayembara Telaah Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2009. Diantara hampir 100 naskah yang diseleksi dewan juri -yang terdiri dari sastrawan Jakob Sumardjo, Mudji Sutrisno dan Nirwan Ahmad Arsuka- karya Bramantio dianggap relatif paling memenuhi seluruh kriteria penilaian, terutama pada aspek craftamanship (ketukangan) sastrawi. Telaah Bramantio sanggup mengatasi kerumitan susunan novel Cala Ibi yang tampak membingungkan hingga kian terbuka.

Selain mendapatkan piagam penghargaan, Bramantio yang sehari-harinya bekerja sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Surabaya, berhak menggondol hadiah uang tunai Rp 20.000.000 atas kemenangannya. Sementara itu naskah karya Tia Setiadi bertajuk “Benda-benda, Bahasa dan Kala: Mencari Simetri Tersembunyi dalam Teman-temanku dari Atap Bahasa Karya Afrizal Malna” meraih juara kedua dan berhak mendapatkan hadiah uang tunai Rp 15.000.000. Juara III pada sayembara kali ini diraih Ridha al-Qodri dengan karya berjudul “Sapardi dan Tanda : Telaah Semiotik atas Kumpulan Puisi dan Kolam”.

Dewan juri juga memilih 4 naskah unggulan selain 3 pemenang tadi. Karya-karya itu adalah “Konvensi dan Improvisasi Dalam Novel Misteri Perkawinan Maut karya S. Mara” yang ditulis oleh Adrianus Pristiono, naskah “Rahasia yang Tersembunyi dalam Sajak “Pembawa Matahari” karya Abdul Hadi WM” oleh Arif Hidayat, naskah “Asmara dalam Sajak ‘Asmaradana’ karya Goenawan Mohamad” yang ditulis Baban Banita serta naskah “Dari Jagat Fantasi, Konsep-konsep Sufistik hingga Sihir Retorika: Telaah atas Novel Cala Ibi” karya Tjahjono Widjanto. Selain mendapat piagam, keempatnya berhak mendapatkan hadiah uang tunai Rp 2.000.000.

Peluncuran Buku Naskah Telaah Sastra DKJ

Pada acara malam penganugerahan yang berlangsung Jumat (15/1) malam di Teater Kecil Studio, TIM, Dewan Kesenian Jakarta juga meluncurkan buku kumpulan naskah telaah sastra dari sayembara 2007 dan 2009.

Menurut Ketua Komite Sastra DKJ, Zen Hae, buku itu merupakan gabungan dari dua kumpulan telaah sastra (17 telaah dari 13 penulis) yang dihasilkan dari dua sayembara.

“Sebagai sebuah gabungan ia memperlihatkan keberagaman cakupan dan gaya penulisan. Dengan gayanya masing-masing, para penulis telaah dalam buku ini mencoba mengupas, sejauh yang bisa dilakukan, segi-segi terdalam dalam sebuah karya sastra. Baik yang mencoba menggunakan pisau bedah teoretis maupun analisis pribadi yang mempertajam telaah dengan pengutipan teori-teori tertentu”, papar Zen.

Tentang Sayembara Telaah Sastra DKJ

Sayembara Telaah Sastra adalah sayembara yang mulai menjadi tradisi Dewan Kesenian Jakarta sejak 2005. Sayembara ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali (tahun ganjil), berselang-seling dengan Sayembara Menulis Novel DKJ yang sudah dimulai sejak awal 1970an. Pada 2006 acara ini bertajuk “Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007” dan bertema “Sastra Indonesia memasuki Abad ke-21”. Untuk 2009, demi memaksimalkan penggunaan bahasa Indonesia, kami mengganti kata “kritik” dengan “telaah”, dengan tema “Kepengrajinan (craftsmanship) dalam Sastra Indonesia Mutakhir.”

Bagi Dewan Kesenian Jakarta sayembara semacam ini penting untuk menjawab kebutuhan akan telaah sastra yang serius, mendalam, inspiratif, dan menyuarakan zamannya. Sudah menjadi rahasia umum, suburnya penciptaan dan apresiasi sastra mutakhir ini ternyata belum dapat diimbangi dengan telaah sastra yang memadai, apalagi untuk dapat berkembang menjadi tradisi pemikiran pelbagai wacana sastra. Telaah sastra masih menjadi barang langka. Jika pun tumbuh, ia hanya menjadi kegiatan akademis yang sangat terbatas jangkauannya. Di saat yang sama kita juga tidak memiliki majalah atau jurnal yang benar menyediakan dirinya untuk telaah sastra. Adapun lembar sastra di koran-koran, hanya bisa menyediakan ruang yang sangat terbatas untuk keluasan dan kedalaman yang dibutuhkan sebuah telaah. Ya, meminjam jargon Thomas Robert Malthus, telaah sastra tumbuh menurut “deret hitung”, karya sastra berkembang menurut “deret ukur”.

Dimas Fuady
Humas Dewan Kesenian Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: