Bahasa Visual Budi Sulaiman

Bagaimanakah memahami karya-karya seni lukis Budi Sulaiman? Bahasa visual memang tidak linier sebagaimana kata-kata verbal. Bahasa seni rupa, memang tidak mono interpretable sebagaimana rambu lalu lintas. Dalam karya-karya lelaki kelahiran Jombang ini, tersimpan banyak kisah, pesan dan kesan serta ungkapan jiwa yang bernuansa religius. Jam terbangnya sebagai aktivis LSM, wartawan majalah kriminal, event organizer pameran lukisan, pelatih seni teater, serta pergaulannya dengan berbagai kalangan, akhirnya bermuara dalam karya-karyanya. Setidaknya, itulah yang masih terus menerus diperjuangkannya.

Lahir di desa Kedungpapar, Sumobito, Jombang, 13 Maret 1963, lepas menyelesaikan SMA di Jombang, Budi sempat berada di lingkaran dalam Emha Ainun Najib di Yogyakarta. Di kota budaya itulah Budi banyak terasah jiwa kesenimanannya. Dan ketika kemudian menjadi wartawan majalah terbitan Surabaya, dia merasa ternyata bukan di situ dunianya. Budi merantau ke Jakarta, mendirikan galeri sendiri, menjadi guru lukis anak dan pelatih teater di perguruan tinggi, sempat berjaya, hingga akhirnya bangkrut terimbas peristiwa Mei 1998. Surabaya kemudian menjadi lahan kiprahnya, merintis dari bawah, aktif dalam kepanitiaan pameran, sampai akhirnya berani tampil sendiri dalam pameran bersama maupun pameran tunggal dua kali di Jakarta dan sekali di Surabaya.

Lukisan kaligrafi, adalah pilihannya yang pertama ketika mengawali karier sebagai pelukis. Putra sulung dari delapan bersaudara ini belajar dan “tergoda” dengan kaligrafi karena pergaulannya dengan Siradjuddin, yang kemudian diseriusi dengan belajar pada Lembaga Kaligrafi (Lemka) IAIN Syarif Hidayatullah selama beberapa tahun. Lukisan Kaligrafi, berbeda dengan Seni Kaligrafi, yang hanya berupa seni menulis huruf indah. Lukisan Kaligrafi adalah perpaduan seni Lukis dan seni Kaligrafi. Dia juga dekat dengan Syaiful Adnan, mengagumi pelukis Amang Rahman, yang juga melukis kaligrafi, terutama dari sisi religiositasnya. Aroma kaligrafi khas Amang Rahman agaknya masih terasa dalam karya-karya lukisan kaligrafinya hingga sekarang ini. Dan itu sah-sah saja.

Mengapa memilih lukisan kaligrafi? Sebagaimana diketahui, dalam lukisan kaligrafi tidak hanya sekadar memindahkan ayat dalam kanvas, namun setidaknya si pelukis sendiri harus memahami makna ayat yang diambil dari Al Qur’an tersebut. Kandungan makna itulah yang kemudian menjadi semacam alarm bagi pelukis untuk “selalu berada di jalan-Nya”. Bahkan, sebelum melukis kaligrafi, dia menyempatkan diri berwudlu. Kesemuanya itu bukan hanya berguna bagi diri sendiri, namun anak kampung yang berasal dari lingkungan santri ini juga merasa berdakwah ketika karya lukisan kaligrafinya dikoleksi orang lain.

Dalam perjalanannya, bapak dua anak ini juga menjelajah lukisan non kaligrafi. Lewat bahasa visual inilah pelukis otodidak ini ingin menyuarakan apa yang digelisahkannya sebagai anak bangsa. Dia ingin memberikan sesuatu terhadap kondisi kebangsaan yang digambarkan ibarat seorang ibu tua mendekap merah putih. Budi yang punya nama julukan Budi Gudhel ini berupaya tidak tinggal diam mengamati situasi negeri yang bergejolak. Bahkan dia juga mengungkapkan ekspresinya tentang perang paling besar yang harus dihadapi manusia, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Namun satu hal yang layak diapresiasi, kegelisahannya mengumbar semangat kontrol sosial itu tidak disalurkannya secara verbal. Upaya untuk menuangkannya secara artistik masih tetap dilakukan. Bahkan, Budi yang juka pernah dijuluki mBah Moro ini masih juga tetap membuat Lukisan Kaligrafi. Nah, dalam lukisan kaligrafi inilah yang belakangan ini nampaknya ada sebuah ikhtiar untuk memadukan “keliaran dan keteduhan”. Bahwasanya jiwa manusia selalu bergerak bagaikan bandul jam, antara kebebasan berekspresi di satu sisi dengan sikap pasrah sebagai makhluk yang tak punya kuasa atas hidupnya sendiri.

Dari kesemuanya itu, memang masih harus ditunjang dengan kemampuan teknis bagaimana mengolahnya menjadi bahasa visual yang dapat dibaca khalayak. Sebagai pelukis yang tak pernah belajar secara akademis, apa yang menjadi karyanya sekarang ini adalah sebuah capaian yang luar biasa. Perjalanan Budi masih panjang. Beruntung dia masih menekuni Lukisan Kaligrafi, yang mau tak mau juga memberikan sebuah sinyal, bahwa manusia tak boleh bersikap jumawa. Kreativitas manusia sehebat apapun tidak akan dapat menandingi Sang Maha Kreator. Itulah akhir dan sekaligus awalnya. Tancep kayon.

HENRI NURCAHYO
Aktivis budaya dan lingkungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: