Berkunjung ke Museum RUDI ISBANDI

Merasakan Evolusi Seni Rupa Perlawanan

suarasurabaya.net| Berangkat dari kekhawatirannya terhadap nasib ribuan karya seni yang telah dilahirkannya, RUDI ISBANDI perupa senior Surabaya membangun sebuah museum pribadi. Museum ini didirikan di lantai dua rumah pribadinya di Jl. Karang Wismo I/10 Surabaya. Di sana, sekitar 150 karya terpilih yang telah dihasilkannya sejak tahun 1954 memiliki rumah baru.

Ditemui suarasurabaya.net, Selasa (08/12) di Rudi Isbandi’s Museum, perupa 75 tahun ini mengatakan langkah ini diharapkan bisa menjadi pemicu para seniman untuk mulai serius memikirkan penyimpanan karya terbaik untuk masa depan.

“Ide ini mulai terbersit pada awal 1970-an saat berdiskusi dengan teman-teman seniman Bandung dan Jakarta. Mereka meminta saya untuk memikirkan masa depan karya saya karena saat itu belum banyak instansi pemerintah atau swasta yang mengoleksi karya seni. Bahkan museum seni rupa atau galeri nasional saat itu belum ada,” paparnya.

Cita-cita itu baru terlaksana pada tahun 1991. Dengan modal secukupnya, mantan anggota Dewan Kesenian Surabaya (1974-1983) ini membangun rumah panggung di belakang rumah yang bisa menampung lebih dari 50-an lukisan besar. “Bukan museum sebenarnya, lebih cocok disebut galeri atau pra museum pribadi. Ternyata keberadaannya bukan hanya membantu saya, para mahasiswa yang sedang menyusun skripsi juga ikut terbantu,” kata dia.

Barulah pada akhir dekade 2000-an cita-citanya memiliki museum pribadi tercapai. Museum ini rencananya bakal dibuka Minggu (20/12) bersamaan dengan ulang tahunnya ke-76 dan ulang tahun pernikahannya ke-51. “Ini jadi bagian penting dalam hidup saya. Selama 2 minggu, museum saya ini akan dibuka 24 jam untuk umum. Kita bisa menikmati karya saya dan berdiskusi bebas,” paparnya.

Di dalam museum seluas sekitar 800 meter persegi itu, evolusi karya RUDI benar-benar terlihat. Berangkat dari tahun 1954, karyanya lebih banyak berupa torehan cat akrilik di atas kanvas. Awal 2000-an, pengembaraannya di seni lukis di atas kanvas bermetamorfosis menjadi mix media. Belakangan, diakuinya, karyanya lebih banyak berupa seni instalasi. “Saya tidak linier. Tapi saya tegaskan sampai beberapa tahun ke depan, tampaknya saya lebih intens di seni instalasi ini,” paparnya.

Sebagian besar karya yang dihasilkan murid pelukis besar AFFANDI ini memang sarat perlawanan. Lihat saja Pengadilan Soeharto berupa mix media besutan tahun 2000 yang ia buat sebagai protes atas tidak jelasnya proses pengadilan terhadap SOEHARTO.(edy)

Teks Foto :
1. RUDI ISBANDI diantara karyanya berjudul Gombloh. Karya instalasi ini memang untuk menghormati seniman GOMBLOH.
2. Diantara karyanya yang lain bertajuk Jahe. Menurutnya, jahe dengan bentuknya yang multi dimensi ini bisa membuat manusia berimajinasi.
Foto : EDDY suarasurabaya.net

08 Desember 2009, 18:33:12| Laporan Eddy Prasetyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: