Dunia Makna Angkutan Kota

Oleh : Rakhmat Giryadi

Mojokerto, dalam peta sena rupa di Jawa Timur, seperti tidak tercatat dengan jelas. Selama beberapa periode, perupa yang sempat menghiasi perkembangan seni rupa di Jawa Timur, hampir-hampir ‘tidak ada’.
Namun sejatinya, di Mojokerto punya potensi seni rupa yang cukup menarik disimak. Paling tidak dalam catatan seni rupa, perupa Mojokerto, sempat berpameran di Galery Surabaya tahun 2001. Pameran itu ternyata berlanjut pada tahun berikutnya, di Dewan Kesenian Malang.

Gerilnya perupa Mojokerto tidak sampai disitu. Pameran berikutnya bertajuk ‘Dulur Mojokerto Menyapa (DMM)3’ merupakan kelanjutan pameran sebelumnya, seakan ingin menegaskan eksistensi perupa Mojokerto. Betapa tidak. Pameran seni rupa itu diselenggarakan besar-besaran di gedung Kusuma Bangsa, Mojosari, bulan Mei tahun 2005 dan diikuti lebih kurang 65 perupa.

Selain pameran bersama, Mojokerto punya sosok perupa yang bisa dikatakan memperkuat perkembangan seni rupa di Mojokerto. Bisa disebut sosok itu bernama Joni Ramlan, Alfie Fauzie, Pak Cip, panggilan akrab Hadi Sucipto, Yusach NH (pematung), Eminx Sujalma, Nanang Money (Pemilik gallery), Ribut Sumiyono (Pemahat Batu), Hariadi Sabar (perajin kuningan).

Sosok-sosok inilah yang boleh dikatakan memperkuat perjalanan seni rupa kontemporer di Mojokerto. Joni Ramlan misalnya sudah cukup populer di kancah dunia seni rupa tanah air. Penerima Radar Mojokerto Award Tahun 2007 Bidang Seni Budaya ini, beberapa aktivitas pameran bergengsi pernah diikutinya di berbagai kota, Salah satu karyanya masuk balai lelang Masterpiece dan menjadi rebutan para kolektor Jakarta.

Joni Ramlan adalah satu-satunya pelukis yang karyanya termasuk dalam 36 finalis karya seni Indonesian Art Award 2008. Untuk masuk final, Joni menyisihkan 3.200 karya seni. Di antara 3.200 kontestan itu, 2.900 adalah lukisan. Karya Joni Ramlan menjadi ilustrasi cerpen Harian Kompas serta lolos Biennale Jogja.

Ini menjadi bukti, perupa Mojokerto semakin diperhitungkan diperhelatan tingkat regional maupun nasional. Kenyataan ini dipertegas, keikutsertaan perupa Mojokerto di ajang Biennale Jogjakarta X tahun 2009 ini.

Para perupa asal Mojokerto yang tergabung dalam Mojokerto Art Club menyiapkan sebuah angkutan kota (angkot) untuk meramaikan ajang bergengsi Biennale Jogja 2009.
Menurut Hadi Sucipto, pimpinan produksi Mojokerto Art Club, menceritakan awal terbentuknya komunitas Mojokerto Art Club yang berdiri awal September 2009 tersebut. Dari beberapa perupa dan pekerja seni yang ada di wilayah Kabupaten Mojokerto, mencoba saling berinteraksi dan berkolaborasi dalam menciptakan beberapa bentuk proses karya seni. Komunitas ini merespon acara Biennale Jogjakarta X yang diselenggarakan 10 Desember 2009 sampai 10 Januari 2010.

Perupa kelahiran Mojokerto, 8 Oktober 1963 tersebut, menambahkan perupa dan pekerja seni dari Mojokerto Art Club yang terlibat dalam “Angkot Project“ ini adalah Sucipto, Joni Ramlan, Nanang Warhol, Alfie Fauzi, Rahmad Widadi, Wirawan Argono. Dibantu juga M Nur Baderi dan Arief Hariyanto untuk dokumen visual dan audio.

”Juga didukung sejumlah pelukis cilik dari Ored Studio, masing-masing Dhea Galuh Rakasiwi, Allicia Sandra Meirisa, Mellisa Sandra Aliani, Ide Bagus Pinaringan,” katanya.

Karya yang diusung dalam Biennale X Jogjakarta ini, memiliki konsep yang menarik. Menggabungkan ruang publik (angkutan kota, red) dengan teks-teks verbal yang bersliweran di dalamnya. Teks-teks itu kemudian disusun sedemikian rupa menjadi bahasa visual yang menyatu dalam ruang publik itu.

“Ini penyatuan konsep ruang dan bahasa,” kata Nanang salah satu konseptor project ini. Menurut Nanang, angkutan kota identik dengan masyarakat menengah ke bawah, bahasa-bahasa lisan dan verbal juga mengandul makna yang sama. Karena itu, dalam konteks ruang, antara angkot, penumpang, dan dialog-dialog para penumpang merupakan bagian yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Bagi masyarakat golongan menengah sampai bawah pada dekade 90-an, angkot sangat memberikan jasa yang besar dalam menjalani kehidupan sehari-hari di perkotaan.

”Bagaimana tidak? Tiap hari angkot banyak diandalkan masyarakat kota dalam menempuh berbagai tujuan karena pertimbangan faktor ekonomis serta gaya hidup masyarakat pada saat itu yang memang berbeda dengan era kini,” katanya.

Fenomena yang terjadi didalam angkotpun sangat menarik untuk dicermati, mulai dari berbagai macam karakter, jenis profesi penumpang sampai kejadian-kejadian yang terjadi di dalam angkot.”Dari peristiwa romantisme sampai peristiwa kriminal juga muncul,” tambahnya.

Untuk pendanaan, Pak Cip yang juga Ketua Bidang Program Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto menjelaskan, setiap pelukis urunan, ada yang Rp 150 ribu, ada juga yang Rp 300 ribu. “Alhamdulillah dukungan dari banyak kawan datang bergantian. Irwan Mojosari membantu 6 kaleng cat, Pak Edy Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto membantu dana transportasi 400 ribu.”Saat ini kami sedang mencari dana untuk mengangkut mobil angkot ini dengan truk ke Jogyakarta,” katanya.

Angkot, menurut interpretasi komunitas Mojokerta Art Club, telah menjadi ‘panggung’ gagasan yang silang sengkarut dan menjadi satu sisi potret sosial masyarakat urban. Berbagai macam fenomena yang terjadi dalam angkot tersebut ditangkap, kemudian digrafitikan dalam dinding angkot.

Sebagai potret sosial masyarakat urban, tidak heran, kalau grafiti-grafiti itu bermakna kritik, harapan, cita-cita, mimpi, dan lain sebagainya. Semua seakan menggambarkan wilayah publik yang netral, tidak ada batasan. Maka lihat saja grafiti tulisan Nanang, ‘Tuku gerdu bantal kenthongan, pengin kenthu gak onok bolongan, sorry cak ! iki guyonan jula-juli angkota mojokertoan’ (Nanang).

Harapan dan kritikan dilontarkan oleh Rahmad Widadi. Grafitinya bertuliskan ;‘Saya datang untuk mencari bibit unggul di bumi, apa masih ada?’ (Rahmad Widadi). Seperti ingin menuding situasi politik yang tidak terkendali akhir-akhir ini Nanang juga menulis : ‘Jamu galian kendel’

Joni Ramlan menulis tentang mimpi wong cilik : ‘Urip sing ideal iku, karepku yo ongkang2x duwik teko dewe ngonolo.’(Joni Ramlan).

Semua itu mengingatkan kita pada grafiti di bak truk yang sering dijumpai di jalan raya. Ada ekspresi individu yang mencuat dan mengganggu ingatan kita akan realitas hidup. Terkadang kita dipaksa merenung seketika. Kata-kata: ‘Doa ibu sepanjang jalan’ ketika kita baca di dalam teks biasa, mungkin akan berbeda ketika membaca dalam hubungannya dengan ruang. Dan realitas itulah yang dibaca oleh Mojokerto Art Club, bahwa dalam ruang publik, terkadang mampir renungan-renungan yang tak terkirakan dalam hidup ini. (ina)

[ SURABAYA POST (BERANDA) : Minggu, 6 Desember 2009 | 00:21 WIB ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: