Disbudpar Jatim Gelar Surabaya Full Music

Penulis : M. Irfan Ilmie
Surabaya – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar “Surabaya Full Music” (SFM) ke-7, pada 18-21 Oktober 2009. Materi yang disajikan dalam SFM ini terdiri atas berbagai kelompok musik yang berkembang di sekolah, kampus, sanggar, Dharma Wanita, dan musikus ekperimen yang bertumpu pada alat musik tradisional, seperti angklung, kulintang, dan gamelan, papar Arief Rofiq, selaku penanggung jawab teknis SFM, di Surabaya, Sabtu.

Pembukaan SFM ke-7 itu berlangsung di Royal Plaza, Minggu (18/10), dengan menampilkan paduan suara ITS. Komposisi yang disajikan oleh kelompok mahasiswa tersebut merupakan materi unggulan yang siap ditampilkan pada ajang kompetisi nasional di Bandung, Jawa Barat.

Setelah mahasiswa ITS turun panggung, giliran 18 grup angklung dan kulintang tampil secara parade, di antaranya dari Petrokimia Gresik, PLN Surabaya, kelompok SMU, dan Dharma Wanita dari Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

SFM dilanjutkan di gedung Cak Durasim, Senin (19/10), dengan menampilkan Bambang Sukmo Pribadi dari Surabaya yang piawai mengolah segala alat musik daerah.

Ada dua komposisi yang dipersiapkan Bambang, yakni “Lungmelung” dan “Bara 10 November” dengan menggunakan gamelan pelok, drum set, dan bas elektrik.

Repertoar “Lungmelung” merupakan kritik sosial atas kondisi yang berkembang sekarang. Liriknya berupa petuah dan doa serta anjuran untuk berserah pada Tuhan.

Pada malam kedua SFM itu, Bambang yang pernah menerima penghargaan dari Gubernur Jatim sebagai Seniman 2009 akan tampil sepanggung bersama Ki Toro dari Sidoarjo.

Hari ketiga SFM, Selasa (20/10), akan menyajikan parade musik gamelan yang digelar di plaza CITO. Sebanyak 20 grup karawitan dari kelompok mahasiswa, pelajar, dan sanggar kesenian siap menunjukkan permainan terbaiknya.

Kemudian SFM akan berakhir di Pusat Kebudayaan Prancis CCCL, Jalan Darmokali 10 Surabaya, Rabu (21/10) malam, dengan menampilkan musik etnik karya Johan dari Pacitan dan Redy Eko Prasetyo asal Malang.

Kedua musikus tersebut menyajikan hasil eksplorasinya terhadap musik tradisi seraya menawarkan warna baru.

antarajatim, Sabtu, 17 Okt 2009 21:05:14|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: