Racun Tembakau Pentas di Sejumlah Kampus

ISU perihal tembakau belakangan amat santer. Utamanya semenjak “korupsi” ayat UU Kesehatan terbaru oleh tangan-tangan misterius di DPR. Namun kali ini, bukanlah isu bila Monolog Racun Tembakau yang dibesut sutradara sekaligus aktor S.Jai dari Komunitas Teater Keluarga hadir di sejumlah kampus di Surabaya, Malang dan Bangkalan. Adakah keduanya saling berhubungan?

Racun Tembakau yang disadur dari (On the Harmful Effects of Tobacco) karya Anton Chekov ini pada Senin, 19 Oktober 2009 pukul 19.00 WIB bakal digelar di Ruang Moch. Saleh Gedung F Lantai 5 Universitas dr Soetomo Surabaya, jalan Semolowaru 84 Surabaya.
Pertunjukkan yang disajikan dengan konsep estetik realisme-primitif dan artistik model testimoni ini merupakan rangkaian pentas kelilingnya di sejumlah kampus. Setelah sebelumnya di FIB Universitas Airlangga, dan RRI Surabaya Agustus lalu, Racun Tembakau juga bakal digelar di Universitas Negeri Malang di Gedung Serbaguna J9 Fakultas Sastra pada Senin 26 Oktober, serta di Universitas Trunojoyo Bangkalan bertempat di Gedung Student Center Jalan Raya Telang Kamal pada Kamis, 29 Oktober 2009.
Kali ini dalam pertunjukkan yang diprakarsai Center for Relegious and Communty Studies (CeRCS) ini S.Jai menggandeng tim artistik dan musik dari Teater Gapus FIB Universitas Airlangga. Selain juga tour monolog di sejumlah kampus ini terselenggara atas kerjasama dengan beberapa komunitas: Teater Keluarga, Teater Pelangi (Universitas Negeri Malang), Teater Joss (Fikom-Unitomo) serta Detail Advertaising.
Dari konsep S.Jai yang dibeber pada katalog pertunjukkan, terungkap gagasan realisme primitif berangkat dari hasrat untuk “bermain” lebih dari naluri-naluri dasar insting manusia di hadapan kenyataan hidup yang semakin miskin dari slogan “hidup yang benar-benar hidup.” Termasuk sepakat untuk menggali hasrat demi tujuan “gaib” seperti halnya dilakukan para shaman dahulu membersihkan diri dari stereotif kehidupan sehari-hari, sekalipun itu mengakar di ingatan. Jalan yang ditempuh teater ini adalah “mengaku” dan “bersaksi” atas nama kekuatan gaib—bermain dengan kekuatan yang lebih tinggi.

Perihal Amnesia
Dari besutan S.Jai, monolog Racun Tembakau berusaha menyingkap problem kejiwaan manusia modern dan menyoal batas-batas dari pelbagai konflik kejiwaan itu—antara lelaki dan perempuan, masalah pribadi dan keilmuan, kepribadian dan hilangnya kepribadian, keluarga dan masyarakat, juga masalah ingatan akan masa lalu, masa kini dan hari depan.
Masalah merokok dan bahaya asap rokok bisa jadi adalah pemantik. Namun, bukan mustahil hal itu justru menjadi ruang yang luang, bagi seorang yang sangat peka karena memiliki masalah kejiwaan yang akut dan komplek seperti terjadi pada tokoh Pak Harman ini. Artinya, ada estetika yang unik bisa dikembangkan di situ, yakni “estetika mempersulit diri” dari setiap soal sederhana perjalanan hidupnya. Semacam sentimentalia, meski bukan berarti percuma.
Barangkali, alam bawah sadarlah, ruang yang luang untuk mengembangkan estetika paling sulit ini. Yakni samudera jiwa yang selama ini abai karena serbuan nalar-nalar yang sangat cerdas. Trauma pun tak pelak jadi puncak pencapaian alam bawah sadar yang penting diziarahi. Peluang lain ada pada mitos, agama, dan kepercayaan dalam menjalani kesulitan hidup tokoh Pak Harman ini.
Tampaknya keseriusan penggarapan naskah ini, terkesan dari usaha S. Jai untuk menafsirkan dalam estetika mempersulit diri ini, ke dalam eksplorasi ingatan si tokoh—betapa ia merindukan sesuatu yang hampir mustahil, ia menghendaki menderita amnesia. Dalam usahanya ini, melalui terjemahan Jim Adhi Limas, S.Jai tak bekerja sendiri. Di belakang pentas teater berdurasi kurang lebih 60 menit ini, ada sejumlah nama selaku kontributor gagasan demi pengutuhan konsep teater. Diantaranya ada nama Indra Tjahyadi dan F Aziz Manna dari FS3LP (Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar), serta Siti Nurjanah dan Diana Monade dari Center for Relegious and Community Studies.
Selanjutnya dalam katalognya, ditegaskan S.Jai betapa tokoh Pak Harman teater ”Racun Tembakau” ini menyadari bahwa memiliki ingatan menjadi sebuah hukuman seumur hidup. Kerinduan satu-satunya hanyalah pada kemampuan untuk tidak mengingat. Merindukan kepala, pikiran, perasaan, emosi yang bersih dari segala noda bernama ingatan. Bersih seperti kertas putih yang dihapus dari catatan harian, angka-angka dan daftar utang piutang. ”Ingatanlah yang telah membawa manusia melompat-lompat, menyeret-nyeret pada jurang masa lalu, masa kini dan masa depan. Ingatanlah yang menyebabkannya muter-muter ke sana kemari,” demikian salah satu kutiban dialog tokoh Harman.
Ingatanlah yang menyebabkan si tokoh terus dihantui perasaan tersiksa, kesulitan hidup sepanjang masa. Karena itu ia rindu saat diri tidak tahu berapa umur, siapa nama anak-anak istri, dan apa yang bakal diperbuat esok hari. Membayangkan bila tak memiliki ingatan adalah mendapatkan kenyataan betapa jernih hidup sehari-hari. Tak perlu lagi mengisahkan bagaimana ada saling hisap dalam kehidupan sehari-hari, rumah tangga, negara dan sebagainya apalagi yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya.
Membayangkan bila tanpa ingatan, maka hanyalah perlu ruang (tanpa waktu) untuk bermain sesuka ria, bermain drama sekehendak hati, karena bagi yang tanpa ingatan setiap waktu adalah masa kini. Kehidupan dalam teater juga tak bakal serumit dan sesulit pertunjukan malam ini. Tetapi kenyataan harus berkehendak lain. Malam ini peristiwa teater tidak sebegitu enteng. Kenyataannya, masih perlu menggagas ”estetika mempersulit diri” dalam bermain drama biar katanya lebih berbobot. Padahal itu jelas-jelas saling menyiksa, menganiaya. []

S.JAI (081-335-682-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: