Pelukis Kota Malang Pameran di Ubud

Denpasar – Pelukis asal Kota Malang Yosa Batuprasada akan menggelar pameran berjudul “Howmuch 2 Homage” di “T” Art Space, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, mulai 4 hingga 11 Oktober 2009.

“Pameran ini merupakan wujud penghargaan terhadap karya-karya pelukis lama, seperti Van Goh, Pablo Picasso dan lainnya. Jadi yang saya garap adalah karya artistik orang lama dengan perlakuan seni rupa modern,” kata Yosa saat ditemui di Pusat Kebudayaan Bali di Denpasar, Jumat.

Menurut dia, kalau zaman seni post impresionis itu bekas guratan kuasnya sangat terlihat, saat ini sudah tidak lagi karena dunia seni rupa sudah banyak dipengaruhi oleh kecanggihan komputer atau cetakan sehingga banyak menampilkan warna blok.

Pelukis yang sempat mengenyam pendidikan seni rupa di ISI Yogyakarta itu mengemukakan, bentuk-bentuk lukisan seniman lama tersebut diambil kemudian digarap dengan teknis melukis masa kini.

Ia manata ulang karya tersebut sehingga goresan warnanya lebih tegas dan jelas.

Yosa yang akan menampilkan 15 karyanya itu menyebutkan, dengan pameran tersebut mengaku dirinya ingin menegaskan bahwa sebetulnya sudah sulit dicari mengenai kelokalan budaya, khususnya di kalangan masyarakat Jawa, tempat ia menjalani hidup.

“Kita diajak melawan budaya Barat, padahal yang digunakan untuk melawan itu bukan budaya Jawa, tapi dari Timur Tengah. Jadi sebetulnya terhadap budaya luar, kita sebagai orang Jawa tidak usah menolak, melainkan terima saja,” katanya.

Ia sendiri mengemukakan, sudah sulit dikatakan sebagai orang Jawa asli. Hal itu karena pakaian yang digunakan berasal dari budaya Amerika Serikat, rambutnya yang gimbal meniru Jamaika, pendidikan yang dijalani adalah warisan Belanda dan keimanannya berasal dari Timur Tengah.

“Faktanya seperti itu, ya harus diterima. Orang tua biasanya merasa sebagai generasi yang lebih murni. Padahal mereka tidak sadar bahwa mereka juga berangkat dari budaya yang tidak murni tadi karena banyak pengaruh dari luar,” ujarnya.

Karena itu, katanya, dia menggunakan gaya pelukis lama dan kemudian digabung dengan gaya melukis masa kini. Ia tidak lagi percaya dengan isu kelokalan, khususnya dalam dunia seni rupa.

Ia sendiri mulai menekuni gaya lukisan yang seperti itu sejak 2005 dan baru secara terbuka menampilkan karyanya tersebut sejak 2008.

antara jatim, Jumat, 02 Okt 2009 16:48:31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: