"Si Mbah, Monumen dan Spirit Berkesenian"

Oleh : Yanuar Yahya (Wartawan Radar Mojokerto)

Tiba-tiba saja, rencana patung atau monument atau taman untuk mengenang Mbah Surip dibatalkan. Pemkot Mojokerto yang menjadi “empunya hajat” untuk merealisasikan usulan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf itu menganggap tak perlu dibangun patung Mbah Surip yang bernilai ratusan juta. Alasannya sederhana, masyarakat pro-kontra.

Padahal sebelumnya, Wali Kota Mojokerto Abdul Gani getol dan semangat menyambut usulan mendirikan patung untuk mengenang seniman nyentrik asal Magersari, Kota Mojokerto. Seniman yang menjadi simbol kesederhanaan, semangat di tengah carut marut meraih sukses dari bawah itu. pendek kata, Mbah Surip adalah salah satu ikon Kota Mojokerto di tengah miskinnya tokoh yang lahir di Kota Onde-Onde itu.

Getolnya menghidupkan semangat “hidup berkesenian” dan “berkesenian kehidupan” itu juga disambut masuknya proposal-proposal berbentuk miniature Mbah Surip. Modelnya macam-macam plus asumsi dana dari “proyek” mini ini. Meskipun akhirnya wali kota menyetujui patung dengan harga sekitar 150 juta. Rencananya ongkos pembuatannya bakal ditanggung dari kantong pribadi wali kota ditambah sokongan wakil gubernur ditambah donatur-donatur lain, minus APBD.

Jika kemudian tiba-tiba rencana monumen itu dibatalkan oleh Pemkot Mojokerto dengan alasan pro-kontra masyarakat tentu agak kurang tepat saja. Apalagi jika sebagian serbuan kritikan dari masyarakat yang kurang sepakat dengan monumen Mbah Surip menganggap si mbah yang jarang terlihat di Mojokerto sejak 20 tahun terakhir itu “kurang berprestasi” bagi kota kelahirannya. Atau alasan lain, si mbah yang kondang dengan “merek” I love you full-nya itu kalah pantas jika dibandingkan sang juara dunia tinju kelas bulu versi WBA Chris John. Agaknya, justifikasi komparatif tentang pantas dan tidaknya si mbah dimonumenkan dengan tokoh-tokoh luar Kota Mojokerto kurang tepat.

Tampaknya ada alasan lain yang membatalkan rencana itu. Karena sejak awal ide digulirkan, memang pembangunan monumen itu semacam “proyek” yang menjadi rebutan. Sisi bisnis kental terasa dari proyek kecil-kecilan ini. Pemkot sendiri juga terlihat setengah hati mewujudkan monumen Mbah Surip. Hanya karena rencana itu usulan wakil gubernur, pemkot agak “sungkan” tidak mengiyakan. Karena jika mau, sesungguhnya proyek monumen ini masalah sepele bagi pemkot. Kota dengan dua kecamatan itu cukup berlimpah anggarannya untuk membangun ini dan itu sesuai kehendak hati.

Padahal, seharusnya pemkot perlu merealisasikan monumen Mbah Surip ini. Maklum saja, Kota Mojokerto minim tokoh. Sejak dulu nyaris tak terdengar tokoh hebat yang muncul dari Kota Onde-onde ini. Mojokerto hanya dikenal sebagai Kota Onde-onde, itupun sekarang onde-ondenya sudah kalah bersaing dengan puluhan makanan asing seperti pizza, kebab, hot-dog, chicken dan sejenisnya yang semakin akrab di lidah anak-anak Mojokerto.

Bagaimana dengan tokoh? Mungkin Mbah Surip hanya satu “jarum” di antara tumpukan jerami yang tiba-tiba lalu hilang tiba-tiba. Jika kemudian dimonumenkan, tentu yang menjadi “alasan” tidak harus prestasi sekelas internasional, atau mengukir gelar atau jabatan tertentu. Karena memang Mbah Surip kebetulan berkiprah di bidang kesenian. Karena kebetulan Mbah Surip fenomenal di pengujung usianya.

Namun yang jelas Mbah Surip made in Mojokerto. Kota Mojokerto sedikit banyak dikenal karena nama Mbah Surip yang terdengar ke mana-mana dengan rambut gimbalnya itu. Melalui Mbah Surip, penikmat musik, penikmat seni, penikmat tabung ajaib atau bahkan masyarakat Indonesia melek jika Kota Mojokerto pernah melahirkan seniman tahan banting. Seniman yang menjual jiwa keseniannya hanya karena urusan makan.

Semangat meraih sukses yang ditunjukkan Mbah Surip, itulah yang pantas dikenang, seperti ide awal yang dilontarkan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf. Selain itu, pendirian monumen atau patung Mbah Surip, hanya rel menuju kreatifitas berkesenian saja. Target sesungguhnya adalah mewadahi para seniman atau calon seniman agar lebih kreatif lagi. Setidaknya jika sudah dibangun taman kesenian plus patung atau monument Mbah Surip. Karena selama ini, seniman di Mojokerto kurang punya tempat berlabuh. Tempat diskusi, tempat menggodok inspirasi dan mewujudkannya. Rencana monumen atau patung Mbah Surip plus taman kesenian inilah rel menuju ke sana.
Semangat berkreasi talenta-talenta atau anak-anak muda Mojokerto bakal terus hidup jika realisasi monumen ini terealisasi. Namun jika benar-benar batal tentu akan kembali ke justifikasi lama bahwa seniman sejak dulu memang kurang mendapat tempat di benak birokrasi.

Mbah surip sebenarnya tanpa monumen pun tak masalah. Karena semangat berkeseniannya masih tertinggal. Lagu-lagunya masih mengalun, seperti mengalunnya lagu-lagu Gombloh atau penyiar si Burung Merak WS Rendra yang tak perlu monumen atau patung untuk mengenang tajamnya sajak-sajak pamfletnya. Semangat berkesenian Mbah Surip ada di mana-mana, di benak anak-anak muda yang menenteng gitar di jalanan dan mendendangkan lagu-lagu tentang kehidupan. Semangat berkesenian Mbah Surip tetap bisa digendong ke mana-mana….(*)

Radar Mojokerto, Senin, 28 September 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: