Musik Patrol Jember Terancam Punah

Jember – Kesenian musik patrol di Kabupaten Jember, terancam punah karena jumlah kelompok musik patrol semakin berkurang tiap tahun. “Musik patrol memang terancam punah, apalagi tidak ada perhatian dari pemerintah,” kata Fanani, juru bicara pemain musik patrol di Jember dalam acara karnaval musik patrol yang digelar di jalan kembar (double way) Universitas Jember, Sabtu malam.

Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) Universitas Jember menggelar karnaval musik patrol ke-9. Acara tersebut selalu digelar pada bulan Ramadan setiap tahun.

Menurut Fanani, pemain musik patrol prihatin terhadap perkembangan musik patrol di Jember karena tidak ada pembinaan yang serius dari pemkab setempat, sehingga banyak pemain musik patrol yang terlantar.

“Perkembangan musik patrol berjalan di tempat, bahkan tidak ada acara yang digelar pemkab untuk mengembangkan musik patrol,” katanya.

Ia mengemukakan, masyarakat di beberapa kabupaten mengenal musik patrol sebagai musik khas Jember, namun tidak ada kepedulian dari sejumlah pihak di Jember.

“Saya khawatir musik patrol di Jember akan punah, apabila pemkab dan masyarakat tidak melestarikan kesenian musik patrol,” katanya.

Ia menilai, acara karnaval musik patrol yang digelar oleh UKMK Unej setiap bulan Ramadan merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kesenian musik patrol Jember.

“Hanya mahasiswa Unej yang peduli terhadap kesenian musik patrol di Jember. Ini sungguh ironis,” katanya.

Sementara Ketua UKMK Unej, Halim Bahris, mengatakan, acara karnaval musik patrol yang digelar setiap tahun bertujuan untuk memelihara kesenian khas Jember itu supaya tidak punah.

“Kalau tidak ada yang peduli, kesenian patrol akan punah,” katanya.

Ia menilai, musik patrol merupakan kesenian khas Jember sehingga harus dilestarikan dengan menggelar festival atau karnaval setiap tahun.

“Kami berharap musik patrol tidak hanya menjadi tontonan saja, namun bisa menjadi kesenian tradisi masyarakat Jember yang patut dibanggakan,” katanya.

Sejauh ini, kata dia, perhatian pemkab melalui Dinas Pariwisata masih kurang sehingga tidak ada pembinaan yang serius untuk paguyuban kelompok patrol di Jember.

“Tiap tahun jumlah peserta festival dan karnaval musik patrol selalu berkurang, tahun lalu jumlahnya mencapai 17 dan tahun ini jumlahnya hanya 12 kelompok saja,” katanya.

Peserta karnaval musik patrol tersebut akan melalui sejumlah ruas jalan yakni Jalan Kalimantan-Jalan Mastrip-Jalan PB Sudirman-Jalan Ahmad Yani-Jalan Trunojoyo-Jalan Samanhudi-Jalan Sultan Agung dan berakhir di alun-alun kota Jember.

Zumrotun Solicha

antarajatim, Sabtu, 12 Sept 2009 22:43:44

2 Responses

  1. Yahh.. memang susah mas kalau bupati serta pejabat tinggi di Jember bukan asli orang Jember, Kebanyakan mereka datang ke Jember awal mulanya hanya untuk sekolah/kuliah. tetapi begitu melihat indah dan majunya Jember waktu itu, selesai sekolah mereka tidak mau kembali ke daerahnya dan mencari penghidupan di Jember, artinya mereka hanya numpang cari hidup dam kekayaan di Jember.

  2. pie,qita sbgai kaum yang pduli trhadap bdya qita ,trutama musik patrol.hrus bisa mnjga kbudyaan qita,agar satu dri seribu pimpinan qita ada yang perduli…
    dengan tetap mnjga alunan musik ptrol pada saat bulan ramadhan.
    jujur,,,saya kangen,terhadap musik yang dulu sering saya mainkan saat di kampung.
    dan,,rasa kangen sya berubah menjadi rasa sedih,melihat ade” saya,sudah jarang yang bermain musik tersebut.
    soo…
    qita sebgai pemuda yang peduli trhadap kbdyaan qita,hrus ttap mnjagaxa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: