Monolog “Racun Tembakau” di RRI Surabaya

KEMBALI monolog Racun Tembakau (On the Harmful Effects of Tobacco) karya Anton Chekov dipentaskan Komunitas Teater Keluarga. Pertunjukkan atas prakarsa CeRCS (Center for Relegious and Community Studies) ini digelar Sabtu 8 Agustus 2009 Pukul 20.00 WIB. Bertempat di Auditorium RRI Surabaya, Jalan Pemuda 8 Surabaya. Digarap oleh sutradara sekaligus merangkap aktor S.Jai, Racun Tembakau disajikan dengan konsep estetik realisme-primitif dan artistik model testimoni.

Gagasan realisme primitif berangkat dari hasrat untuk “bermain” lebih dari naluri-naluri dasar insting manusia di hadapan kenyataan hidup yang semakin miskin dari slogan “hidup yang benar-benar hidup.” Termasuk sepakat untuk menggali hasrat demi tujuan “gaib” seperti halnya dilakukan para shaman dahulu membersihkan diri dari stereotif kehidupan sehari-hari, sekalipun itu mengakar di ingatan. Jalan yang ditempuh teater ini adalah “mengaku” dan “bersaksi” atas nama kekuatan gaib—bermain dengan kekuatan yang lebih tinggi.

Sebelumnya, pertunjukkan yang terselenggara atas inisiatif CeRCS (Center for Relegious and Community Studies) ini dipertontonkan Komunitas Teater Keluarga (Kelompok Intelektual Asal Lingkungan Jalan Airlangga) di FIB Universitas Airlangga 25 Oktober 2008 lalu. Saat itu disutradarai oleh S.Jai dan dimainkan oleh penyair F Aziz Manna—dua nama yang di bawah bendera Komunitas Teater Keluarga pernah sukses membawakan monolog drama Alibi dalam durasi kurang lebih 3 jam.

Dari besutan S.Jai, monolog Racun Tembakau berusaha menyingkap problem kejiwaan manusia modern dan menyoal batas-batas dari pelbagai konflik kejiwaan itu—antara lelaki dan perempuan, masalah pribadi dan keilmuan, kepribadian dan hilangnya kepribadian, keluarga dan masyarakat, juga masalah ingatan akan masa lalu, masa kini dan hari depan.

Masalah merokok dan bahaya asap rokok bisa jadi adalah pemantik. Namun, bukan mustahil hal itu justru menjadi ruang yang luang, bagi seorang yang sangat peka karena memiliki masalah kejiwaan yang akut dan komplek seperti terjadi pada tokoh Pak Harman ini. Artinya, ada estetika yang unik bisa dikembangkan di situ, yakni “estetika mempersulit diri” dari setiap soal sederhana perjalanan hidupnya. Semacam sentimentalia, meski bukan berarti percuma.

Barangkali, alam bawah sadarlah, ruang yang luang untuk mengembangkan estetika paling sulit ini. Yakni samudera jiwa yang selama ini abai karena serbuan nalar-nalar yang sangat cerdas. Trauma pun tak pelak jadi puncak pencapaian alam bawah sadar yang penting diziarahi. Peluang lain ada pada mitos, agama, dan kepercayaan dalam menjalani kesulitan hidup tokoh Pak Harman ini.

Meski tampak keseriusan penggarapan naskah ini, terkesan dari usaha adaptasi yang dilakukan S. Jai ini dari naskah On the Harmful Effects of Tobacco melalui terjemahan Jim Adhi Limas, namun ia tak bekerja sendiri. Di belakang pentas teater berdurasi kurang lebih 60 menit ini, ada sejumlah nama selaku kontributor gagasan demi pengutuhan konsep teater. Diantaranya ada nama Indra Tjahyadi dan F Aziz Manna dari FS3LP (Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar), serta Siti Nurjanah dan Diana Monade dari Center for Relegious and Community Studies.

Tokoh Penganjur
Drama ini berkisah tentang, seorang suami berumur, bercambang panjang tapi dipingit. Namanya Harman. Harman ini perokok berat. Dia pria yang selalu merasa tertekan oleh istrinya—yang punya sekolah musik partikelir dan indekos buat anak perempuan. Istrinya seorang pekerja atas nama sosial dan amal.
Suatu ketika Harman diminta ceramah tentang ”Bahaya Racun Tembakau” di sidang komunitas ilmiah. Tugas itu bukanlah soal baginya. Sebaliknya, masalah justru ada pada Harman. Diantaranya, ia perokok berat dan telanjur tahu bahaya asap rokok. Buntutnya, ada kekuatan “gaib” mendesak bawah sadarnya untuk membocorkan kebenciannya pada istrinya. Karena hanya dengan itu ia menemukan jalan pembebasan dari ceramah rokok yang menggurita baginya. Sekaligus mengurai melalui pengakuannya bahwa istrinya telah meracuni jiwanya, seperti halnya rokok meracuni hidupnya. Rokok itu seperti istri, atau istri itu seperti rokok. Entahlah mana yang benar? Dia mau bebas tapi tidak bisa.

Dia hanya jadi tokoh penganjur yang jujur, tapi tidak pada dirinya sendiri. Demikianlah, tampaknya menjadi penganjur adalah kepribadian paling mutakhir manusia masa kini untuk selamat meski hal itu bukanlah hidup yang sebenar-benarnya bagi dia. Hidup yang serba palsu. Lalu kalau semuanya palsu, untuk apa tetap berlalu? Walhasil pentas teater “Racun Tembakau” dengan gagasan estetik realisme-primitif dan teknik artistik testimoni kelisanan ini tak boleh dilewatkan begitu saja. (*)

(trims buat s. jai)

One Response

  1. artikel bagus 🙂

    ijin nyimak dulu …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: