Makhfoedh: Si Pelukis Perjalanan

Oleh : Arief Junianto

MakhfoedhAdalah Makhfoed, seorang perupa putra asli kampung Peneleh yang sejak pertengahan Januari lalu didera penyakit stroke. Meski begitu, di sisa tenaganya yang semakin menua, pelukis kelahiran 1942 itu terus mencoba melukis.

Sejak didera stroke, Makhfoed mengalihkan tempat melukisnya, dari sanggar Aksera (Akademi Seni Rupa Surabaya) ke teras rumahnya yang kini ditinggali di Manukan Rejo. Karena itu di teras rumahnya kini terpampang puluhan lukisan karyanya yang terbaru.

Jika memasuki rumahnya yang berpagar rendah, tampaklah lukisan  yang penuh warna itu dipajang di teras. Puluhan lukisannya juga berdesakan dengan etalase untuk menjual beraneka merek nomor perdana operator ponsel. Di teras yang berukuran 2×3 meter itu, Makhfoed mengeksekusi imajinasinya. ”Itu anak saya yang jual pulsa. Dan di sinilah, saya melukis,” ujar perupa yang tahun 2008 mendapat penghargaan Gubernur Jawa Timur Imam Utomo sebagai seniman berprestasi.

Di rumahnya di kawasan Perumnas itu dengan pakaian kebesarannya, kaos putih, celana kain panjang, dia menceritakan panjang lebar tentang semua proses kreatifnya mulai dari pelukis realis sampai ke periode terakhir yang beberapa pengamat menyebutnya sebagai lukisan ‘perjalanan.’

”Sejak pertama melukis tahun 68-an, saya itu masih melukis realis seperti yang lain seperti pemandangan. Pokoknya semua yang realis. Maklum kan masih belajar,” katanya memulai cerita.

Lukisan-lukisan abstrak berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran besar yang tergantung dan tersandar di tempok seperti menjadi saksi perjalanannya. Pada periode tahun 1980-an Makhfoed sangat produktif. Kemudian juga bersambung pada periode 1990-an, ia malah lebih berproduktif melukis. Hingga kini, sapuan kuasnya sudah menghasilkan lebih dari 457 lukisan, yang semuanya karya-karya periode terbaru Makhfoed.

Untuk menghasilkan sebuah lukisan, bagi Makhfoed, ide menjadi hal yang sangat penting. Sebelum menyapukan kuasnya di atas kanvas, penggalian ide dan konsep merupakan hal penting yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Konsep itu ia tuangkan dalam lukisan yang diberinya judul X. Lukisan X yang  dikatakannya, hingga mencapai 56 buah. Menurutnya lukisan ini merupakan manifestasi dari ide dan konsep yang sedang menggelisahkan dirinya.

Selama era lukisan berjudul X, tepatnya tahun 1981 sampai 1990-an dirinya mengaku terbelenggu oleh segala ide dan konsep yang akan dituangkannya ke atas kanvas. Karena itu, konsep ini tidak bertahan lama. ”Sebelum melukis, saya sering masih harus dipaksa untuk berpikir, apa yang akan saya sampaikan. Saya pernah sampai gak bisa tidur karena kepikiran lukisan,” kenangnya.

Huruf X diambilnya dari istilah faktor X. Seorang perupa, tentunya memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas. Untuk memahami pesan tersebut, tentunya diperlukan sebuah interpretasi mendalam pada sebuah lukisan. Untuk menangkap pesan tersebut, harusnya perupa sudah tidak memiliki peran apa-apa lagi. ”Perupanya sudah tidak usah lagi ikut-ikut menjelaskan apa makna lukisannya,”

Itulah alasan Makhfoed selalu menghindar ketika ditanya mengenai makna lukisan abstraknya. Memang, objek yang dipakai Makhfoed adalah objek-objek abstrak yang tidak bisa dilihat secara terpisah. Perpaduan warna, garis dan bidang oleh Makhfoed diterjemahkan sebagai rangkaian pesan ide dan konsep-konsep filosofis yang bergelut di otaknya, yang memang harus disampaikannya pada masyarakat.

Untuk itulah, diperlukan sebuah faktor X untuk menyampaikan pesan itu. Ketika perupa sudah tidak berhak bicara panjang lebar mengenai karyanya, maka memang faktor X itulah yang bertugas menjadi jembatan antara karya itu sendiri dan masyarakat penikmat karya tersebut. Itulah yang kemudian membuat Makhfoed terinspirasi untuk memberikan judul X pada setiap karyanya, mulai dari X 1 sampai pada X 56.

Selepas itu, Makhfoed kemudian lebih dikenal sebagai pelukis ‘perjalanan’.  Kini, Makhfoed tidak lagi menggunakan X sebagai judul, karena baginya, sebagai pelukis, dirinya mengalami sebuah pergeseran paradigma atau cara pandang dalam memperlakukan sebuah karya lukisan.

Setelah masuk era 1991-an, Makhfoed, memang mengubah cara kerjanya. Dari yang semula lebih mendahulukan ide serta konsep, kemudian lebih membebaskan pikirannya ketika melukis. Jadi, warna, tekstur, garis, bidang, yang disapukannya di atas kanvas pun menurutnya terasa lebih bebas dari kekangan konsep apapun.

Kini dia punya prinsip melukis harus bersih dari segala konsep dan ide. Dengan cara demikian, lebih bebas mengguratkan warna di atas kanvas. Teknisnya, bertolak belakang dengan beberapa tahun sebelumnya. Jika beberapa tahun dulu, dirinya pasti menggambar objek terlebih dahulu, baru menggambar background, kini, dengan menunjuk lukisan setengah jadi yang diberinya judul Perjalanan 459, dirinya menjelaskan, objek bisa ditemukannya setelah warna latar tampak memenuhi kanvas. ”Kalau sudah begini, tuh, saya sudah bisa melihat, nantinya saya akan gambar apa,” ujarnya sambil menunjuk lukisan besar yang tersandar di dinding teras rumahnya.

Dengan cara seperti itu, dirinya juga merasa lebih bisa tenang dan tidak dikejar-kejar oleh target lukisan. Jika dulu, lukisan yang dikerjakannya, harus selesai seketika itu juga, kini dirinya bisa meninggalkan sementara lukisan yang belum jadi itu teronggok begitu saja, tanpa harus terbebani pikiran-pikiran tentang lukisan itu. Oleh karena itulah, yang menyebabkan lukisan abstrak yang dihasilkan pun terasa berbeda.

”Ya itu, yang saya maksudkan sebagai perjalanan,” tegasnya sambil menunjuk pada lukisan yang dibungkus dengan plastik, yang diberi judul Perjalanan 222.

Memang, dari sekian lukisan yang ada di teras rumah, lukisan berjudul Perjalanan 222 tersebut adalah lukisan yang Minggu (26/7) dilelang dan akhirnya dilepas dengan harga Rp 9,5 juta di Balai Lelang Tunjungan. ”Kebetulan saya itu ditawari sama teman. Katanya untuk solidaritas Makhfoed. Ya sudah, saya nurut saja,” kisahnya.n

Biodata

Nama                           : Makhfoed

Tempat/Tanggal Lahir   : Surabaya, 10 Mei 1942

Pendidikan                   : Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA)

Istri                              : Juleha

Anak                            :1. Putri Handini

2. Nuari Bramasastri

Cucu                            : 5 orang

Pameran:

1. AKSERA, tahun 1973

2. Galeri Cipta, TIM, 1997

4. Bentara Budaya, JKt, 2001

6. Galeri 678, JKT, 2001

7. Galeri Popo Iskandar, bdg, 2002

8. Museum Ronggo Warsito Semarang 2004,

9. Galeri nasional, Jakarta, 2008

10.Galeri Krisna Mustajab. 2009

Penghargaan.

Profesional muda, International, professional of The Year, 2004

Penghargaan seniman berprestasi, Gubernur Jawa Timur, 2008

Surabaya Post, Senin, 27 Juli 2009 | 15:50 WIB

One Response

  1. saya mau liat sample lukisan pemandangan, buat di foto studio..
    kirm ke email saya paling telat 1 minggu..
    Royid_zzz@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: