Menyandingbandingkan Sandur Manduro

Oleh: Nanda Sukmana, Ketua Tim Revitalisasi Sandur Manduro, Jombang
Sebuah pertunjukan musti akan berakhir. Dan akhir itu tidak musti harus mati. Sebab kematian adalah kekonyolan. Pertunjukan hidup adalah ritualitas pengabdian manusia. Dan pengabdian tak pernah kenal kata akhir. Sebab akhir pengabdian adalah awal kekonyolan. Manusia boleh berakhir kerana kematiannya, namun kematian itu bukannya sebuah kekonyolan, melainkan keharusan takdir yang musti terjadi. Pendeknya, kematian manusia tidak berambivalensi dengan kematian pengabdian.

Membiarkan Sandur adalah awal kekonyolan dan itu artinya adalah akhir dari sebuah pengabdian. Apa artinya Sandur bila terlalu lama dibiarkan (?), toh keberadaannya tidak signifikan membawa pengaruh terhadap derajad kenaikan ekonomi. Tapi kita boleh percaya atawa tidak bahwa kematian sebuah kesenian adalah awal kematiannya peradaban. Dan sebuah masyarakat yang tak berberadapan adalah masyarakat yang barbar. Barangkali ini adalah salah satunya saja, maka sepakatlah manakala kita musti menjaga, merawat, mengelus, menyayang, dan mencinta.

Sebenarnya, Ada apa dengan Sandur? Paling-paling ya itu-itu saja. Sama dengan yang lain. Ah, apa iya? Tentu, tidak sedemikian cepat untuk mengambil kesimpulan. Soalnya, menyoal Sandur Manduro tak dapat dibiarsandingkan dengan bentuk seni tradisi yang lain.

Sebagai pertunjukan rakyat, Sandur Manduro mempunyai beberapa sifat yang menonjol: pertama, kesederhanaan. Hal ini tercermin terlihat dari aspek tempat pertunjukan, busana, rias, property, peralatan musik, tari, dan cerita. Kedua, keluwesan (mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pertunjukan). Aspek keluwesan ini terpantul dari spontanitas dan improvisasi pendialogannya. Dialog-dialog yang dibangun sentiasa bertalian dengan situasi dan kondisi pada saat Sandur tersebut dipertontonkan.

Ketiga, ketotalan dan keintiman. Aspek ketotalan ini tercermin dalam hal bahwa pertunjukan Sandur memadukan beberapa unsur, yang meliputi tari, musik, sastra, kriya, perupaan, dan seni acting, sedangkan aspek keintiman terlihat dari ketiadaan jarak antara pemain dan penonton. Aspek ini memperkuat fungsi sosial sandur yakni kemampuannya sebagai pembangun / pemelihara solidaritas kelompok serta pemahaman kembali nilai-nilai dan pola perilaku yang berlaku dalam lingkungan sosialnya.

Menyandingkan Sandur manduro dengan Sandur-Sandur lain yang berkembang di daerah selain Jombang, ternyata memberikan informasi tersendiri bagi kita. Setidak-tidaknya dengan informasi ini kita mengetahui atawa baru sadar bahwa keberadaan sandur Manduro ternyata memiliki kekhasan. Kekhasan tersebut dapat diuraikan seperti di bawah ini.

Ketika menyaksikan pertunjukan Sandur Manduro, ada beberapa catatan yang dapat kami buat. Catatan pertama, dalam pertunjukan Sandur Manduro tidak kami jumpai adegan kalongking, seperti yang terdapat dalam sandurnya orang Tuban dan Nganjuk. Kalongking merupakan adegan pemain yang naik di atas tambang yang dipancangkan antara dua tiang. Di atas tambang tersebut pemain berakrobatik dengan lincah dalam suasana trance.

Pertunjukan Sandur Tuban atau Nganjuk mempunyai banyak kemiripan, yakni diawali dengan upacara ritual yang disusul dengan tari-tarian yang diarak keliling panggung sembari ada seseorang yang memanggul anak kecil, yang selanjutnya diteruskan dengan adegan kalongking. Dalam pertunjukan Sandur Manduro yang ada kemiripannya adalah ritual awal dan adanya serangkaian tari-tarian yang selanjutnya diteruskan dengan cerita. Nampaknya dalam Sandur Manduro, yang mendapat penekanan adalah aspek kesastraan yakni serangkaian cerita-cerita tersebut, bukan aspek akrobatiknya.

Catatan kedua yakni bertalian dengan pendialogan cerita. Dalam pertunjukan Sandur Mandura cerita disampaikan dengan menggunakan bahasa campuran, yakni bahasa Madura dan Jawa. Penggunaan bahasa Jawa yang dimaksud adalah mengacu pada penggunaan bahasa Jawa Timuran. Percakapan tersebut menggunakan dialek Jombangan (kadang dialek suroboyoan), yang khas dan unik, sedangkan bahasa Madura kemunculannya terdapat dalam lirik lagu yang dinyanyikan ketika giro dan transisi antaradegan cerita.

Pemakaian kedua bahasa ini tidak bersifat ketat. Bila penontonnya kebanyakan dari etnik Madura, maka bahasa Madura-lah yang paling dominan dalam percakapan; sebaliknya, bila penontonnya kebanyakan dari masyarakat etnik Jawa, maka bahasa Jawa-lah yang mendapat porsi yang cukup besar. Sedangkan dalam Sandur Nganjuk, Bojonegoro, dan Tuban tidak ada pendialogan antartokoh karena penonjolannya dalam hal gerak dan akrobatik.

Keberadaan puisi rakyat, yakni parikan sesindiran, banyak bermunculan dalam pertunjukan Sandur Manduro, baik lewat dialog maupun lirik-lirik lagu, sedangkan dalam pertunjukan Sandur Tuban, Bojonegoro, dan Nganjuk tidak menguat aspek peparikannya.

Ketiga, dari aspek tatarias, pertunjukan Sandur Manduro kebanyakan menggunakan kedok. Oleh kerana itu pertunjukan Sandur Manduro juga dapat disebut dengan pertunjukan Topeng Sandur Manduro. Kedok yang terdapat dalam pertunjukan Sandur Manduro dibedakan dua jenis, yakni kedok binatang dan kedok wajah tokoh manusia. Pewarnaan yang mendominasi kedok Manduro yaitu warna hitam, merah, dan putih. Warna-warna tersebut merupakan pencerminan dari karakter etnis Madura. Sementara penggunaan kedok untuk pertunjukan Sandur-nya wong Nganjuk, Bojonegoro, dan Tuban bukannya sesuatu yang ditonjolkan.

Adapun catatan keempat yaitu bertalian dengan aspek tari. Keragaman dan kekayaan gerak tari dalam Sandur Manduro sangat sederhana, namun dibalik kesederhaan tersebut memiliki kekuatan spiritual yang dahsyat. Meskipun gerakannya terbilang sederhana, namun terpancar akan roh/spirit pertunjukannya. Kesederhanaan ragam gerak tari ini dimungkinkan lantaran masyarakat Manduro sebagai pemilik kesenian tersebut mendiami wilayah yang terisolasi dari keramaian, — meski sekarang lama kelamaan Manduro tidak terisolasi lagi.

Pendeknya, sebagai sebuah bentuk kesenian, Sandur Manduro mempunyai karakter yang berbeda dengan bentuk Sandur yang berkembang di daerah lain. Maka, sudah selayaknya bila Sandur Mandura menarik untuk disandingbandingkan.

Majalah MASSA, edisi 117, Nopember 2008
Sumber: http://www.djombang.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=467

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: