Melukis Kaligrafi dari Nol

Oleh: Arief Junianto
BTESSETELAH bergelut dengan lukisan beraliran realis dan surealis sekitar 20 tahun, akhirnya Bambang Tri ES, berganti memilih melukis kaligrafi di atas kanvas dengan media akrilik. Awal tahun 2000-an, adalah masa ia harus memilih antara meneruskan melukis realis atau menekuni lukisan kaligrafi. Namun, ketertarikannya dengan keindahan huruf-huruf Arab, ia memilih melukis kaligrafi.
Uniknya, pemilihan itu tanpa didasari oleh kemampuannya membaca huruf Arab (Alquran). Namun berkat ketekunannya belajar, ia nekat melukis kaligrafi di atas kanvas dengan bantuan istrinya yang sudah bisa membaca Alquran.
”Pertama yang saya tulis dari surat-surat pendek. Intinya saya benar-benar dari nol,” kata Betes, panggilan akrab Bambang.
Pelukis lulusan IKIP Negeri Surabaya 1984 ini (Sekarang Universitas Negeri Surabaya), melihat huruf Arab punya tipografi yang menarik. Betes memaparkan, banyak aliran kaligrafi yang ia pelajari, tetapi dari beberapa aliran itu, Betes mengaku hanya mengambil kaidah-kaidahnya. ”Dan terpenting, tipografinya yang artistik itu yang saya ekplorasi menjadi bentuk kaligrafi,” katanya.
Didukung elemen rupa yang telah dikuasainya, Betes mengkombinasikan dengan teknik menulis kaligrafi. Dari pertemuan itu, Betes mengaku menemukan bentuk kaligrafi yang sampai hari ini dibuatnya.
Dari sekian karya kaligrafinya, beberapa hal yang bisa dijadikan benang merah adalah teknik pelukisannya, yakni teknik tekstur pada huruf kaligrafi, sehingga huruf kaligrafi terkesan lebih ditonjolkan. Selain itu, teknik menarik garis tegak ke atas lebih panjang pada 1-2 huruf yang memiliki unsur garis tegak.
Memang, dari huruf-huruf objek kaligrafinya, selalu diambil 1-2 huruf yang mengandung garis tegak, lalu ditariknya garis tegak itu setinggi-tingginya. Dengan demikian tampak satu atau dua huruf dengan garis panjang tegak ke atas.
Diakuinya, teknik itu memang dilakukannya di bawah alam sadar, bukan karena faktor kesengajaan, apalagi dengan maksud menyisipkan sebuah semiotika tertentu dari ditariknya garis tegak lurus tersebut. Baginya, teknik tersebut murni karena aspek estetika dan artisitik saja. ”Sebab dengan mengetahui makna kalimat itu saya bisa belajar banyak hal. Tapi kalau untuk urusan karya, sepenuhnya saya tergantung pada aspek estetika semata, bukan aspek spiritualitas,” jelasnya.
Memang, dalam melukis kaligrafi, sepenuhnya apresiasi dan pemaknaan visual dia serahkan pada penikmat lukisannya. Hal tersebut disebabkan dirinya merasa tidak pantas untuk memaknai sendiri lukisan kaligrafinya. Baginya, upaya memaknai kata atau kalimat suci tersebut hanya sebatas untuk proses kreatifnya saja. Menurutnya, tanpa dimaknainya, kata atau kalimat tersebut sudah memiliki makna sendiri yang akan susah dimaknai oleh manusia, termasuk dirinya. ”Itu bukti ketakjuban saya akan ayat suci Alquran. Oleh karena itu, saya merasa tidak pantas untuk memaknainya secara verbal dan visual,” ungkapnya.
Ketertarikannya terhadap kaligrafi muncul bukan tanpa alasan, melainkan karena dirinya seolah menemukan sesuatu yang estetis dari huruf-huruf Arab. Baginya, huruf-huruf tersebut tanpa dilenggak-lenggokkan sudah mengandung nilai artisitik yang cukup tinggi. Oleh karena itulah kemudian dirinya mencoba beralih pada kaligrafi. Untuk itu pun dirinya mengaku tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Memang semula diduganya, dirinya tidak akan kesulitan menggoreskan kuasnya membentuk guratan-guratan huruf arab. Hal ini karena selain dirinya sendiri sudah cukup familiar dengan huruf-huruf tersebut, juga karena selama kuliah, dirinya juga mengaku sudah pernah mendapatkan materi tentang lukisan kaligrafi atau huruf-huruf Arab.
Akan tetapi anggapan itu dibantahnya sendiri. Ternyata untuk melukis kaligrafi, tidak semudah yang dia bayangkan sebelumnya. Banyak persiapan yang harus dilakukannya sebelum melukis. Mulai dari riset hingga memadukan antara gaya dan karakter huruf kaligrafi dengan elemen-elemen lainnya seperti tekstur, garis, warna, dan bidang.
Kenyataannya, gaya dan karakter huruf kaligrafi memang terdiri dari banyak macam, mulai dari Nashki, Tsulatsi, Riq’an, Raihani, Farisi, Diwani, hingga Khufi. Gaya dan karakter tersebut dipakainya hanya sebatas dasar untuk melukis huruf kaligrafi. ”Selepas itu saya kembangkan sendiri, menjadi gaya saya sendiri,” akunya bangga.
Meski demikian, bukan berarti huruf yang dikreasi sesuai gayanya sendiri tersebut lepas dan lari dari pakem yang sudah ada. Diterangkannya, bagaimanapun modifikasi dan kreasi dari seorang pelukis kaligrafi, karakter dari huruf tersebut harus tetap tampak dan bahkan dominan.
Meski secara keseluruhan, proses yang dia alami tidak jauh berbeda dengan melukis karya realis ataupun karya seni rupa lainnya, namun diakuinya dalam melukis kaligrafi lebih dibutuhkan ketelatenan dalam melakukan tafsir dan pemaknaan baik terhadap huruf, kalimat, ayat, ataupun surat yang dijadikannya kaligrafi.
Keputusannya untuk beralih pada kaligrafi ternyata mendatangkan beberapa keuntungan baginya. Keuntungan itu dirasakannya pada aspek wawasan keagamaan, yang baginya bersifat sangat kompleks. ”Praktis dengan bertambahnya wawasan keagamaan saya, maka wawasan saya mengenai arti hidup pun akan bertambah,” akunya.
Selain itu, dirinya juga mendapatkan keuntungan dalam hal spiritual. Diakuinya, dengan melukis kaligrafi, dirinya harus melakukan tafsir dan pemaknaan lebih jauh terhadap sebuah ayat atau kalimat. Dengan begitu, secara spriritual dirinya akan mendapatkan sebuah ketenangan batin. ”Dengan melakukan pendalaman pada ayat-ayat suci Alquran, saya juga mendapatkan sebuah pelajaran tentang arti kedewasaan,” akunya.
Betapa tidak, dalam menghasilkan sebuah karya kaligrafi, dirinya mengaku harus melakukan pembacaan sangat jauh dari sebuah ayat yang akan dijadikannya lukisan kaligrafi. Dalam menyelesaikan sebuah karya, dirinya mengaku harus berulang kali membuka buku tafsir Alquran.
Seperti pada lukisan yang barjudul Ya Rab, misalnya. Diakuinya, dalam menyelesaikan sebuah lukisan kaligrafi yang mengandung huruf Ya Rab tersebut dirinya harus berusaha keras mencari makna yang terpendam di balik kata Ya Rab. Dirinya harus membuka banyak referensi tentang kekuatan makna kata Ya Rab.
Hasilnya, dia menemukan sebuah makna yang luar biasa besar dari kata tersebut. Itulah yang dimaksudkannya sebagai pengalaman spiritual yang didapatkannya selama melukis kaligrafi. Oleh karena maknanya yang luar biasa dari kata tersebut, dirinya merasa sangat bertanggung jawab terhadap karyanya.
Memang, dalam melukis sebuah kaligrafi, dirinya merasa bertanggung jawab penuh atas ketepatan kaligrafi yang dilukisnya. ”Memang kaligrafi itu banyak. Tapi banyak juga yang sering salah eja dan salah tulis, mulai dari harokat, hingga hurufnya,” ungkapnya.
Dalam melukis kaligrafi, kesalahan tersebut terbilang sering terjadi. Meskipun demikian, kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang sangat fatal, sebab dalam kaidah huruf Arab, salah harokat saja bisa menyebabkan bergesernya arti dari huruf atau kalimat yang ditulis.
Akan tetapi, bagi orang awam, hal ini kerap lolos dari pengamatan. Meski demikian, baginya yang seorang perupa dan seniman, hal ini harusnya tetap menjadi tanggung jawab dari perupanya. ”Apalagi yang dia lukis itu kan diambil dari ayat suci Alquran. Ga bisa sembarangan itu,” tegasnya.

Bambang Tri ES
Tpt Tgl Lahir : Madiun, 20 Februari 1963
Pendidikan Terakhir : Seni Rupa IKIP Negeri Surabaya
Istri : Meta Suhardina
Profesi : Pelukis kaligrafi
Penghargaan : Desain poster dari Menteri Lingkungan

Surabaya Post, Selasa, 23 Juni 2009 | 12:41 WIB

2 Responses

  1. to mas tri..
    saya baru mau usaha melukis kaligrafi..cuman bisa sedikit tapi sudah 5x khatam qur’an. Sukses mas.

  2. wah…keren mas….saya pengen banget bisa belajar kaligrafi, udah bisa sih dikit-dikit cuman penguasaan kaidahnya belum begitu ngeh….bisa bagi tips ga, mas…terimakasih sebelumnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: