Impian Semusim di Pameran 'Gank Demokrasi'

impian-semusimImpian Semusim adalah judul video dokumenter karya DOCNET (Documentary Networking) tentang
seputar PEMILU 2009 di kota Surabaya.

Video ini menggambarkan realitas yang terjadi di Kota Surabaya sebagai ilustrasi fenomena yang juga terjadi
di kota-kota lain di Indonesia menjelang agenda PEMILU 2009. Meriahnya janji-janji Partai Politik dan Para CALEG yang hanya terjadi di musim kampanye dan seakan-akan ‘hilang di telan bumi’ setelah perhitungan suara PEMILU selesai, menjadi fokus utama karya ini.

Kondisi-kondisi yang dijanjikan, perbaikan ekonomi, murahnya pendidikan, mudahnya akses kesehatan dll.seakan-akan tak pernah lagi menjadi isu penting untuk dilaksanakan.

Masyarakat seperti diposisikan ‘mimpi indah’ sejenak saat musim kampanye. Gemuruh orasi penuh janji, semiotika kampanye yang hanya 5 tahun sekali, ibarat sebuah musim tersendiri. Barangkali inilah yang menjadi inspirasi DOCNET untuk membuat video dokumenter berjudul Impian Semusim.

Dokumenter yang berdurasi 10 menit ini merupakan cuplikan singkat dari video dokumenter berjudul ’38’ yang ikut dalam ajang YAMAGATA INTERNATIONAL DOCUMENTARY FILM FESTIVAL (YDIFF) di Kota Yamagata Jepang pada bulan Mei 2009 nanti.

Juslifar M. Junus sebagai Penggagas DOCNET, menyatakan bahwa keikutsertaan DOCNET di ajang YIDFF 2009 adalah untuk mendapat input dan respon yang lebih luas tentang tema-tema dokumenter yang menjadi point of interest kelompok ini.

Dalam produksi kali ini, DOCNET didukung oleh anggota-anggota baru dari berbagai kampus di Surabaya, diantaranya ada mahasiswa dari Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), IAIN Sunan Ampel Surabaya dan UNITOMO Surabaya.

DOCNET yang ‘dibesut’ oleh Juslifar M.Junus berdiri di tahun 2004 dan langsung membuat Dokumenter Serial Kampung-kampung Surabaya. Karya pertama ini pernah di pamerkan di CCCL Surabaya bersanding dengan Video Dokumenter tentang kampung-kampung di Perancis.

Video Dokumenter DOCNET berjudul ‘Apartemen Rakyat’ mendapat kehormatan diputar di Taman Ismail Marzuki dalam Forum ‘FirstDocs’ pada tahun 2004 dan karya lain yakni’Kampung Maut’ diputar di Transit Forum yang diadakan Dewan Kesenian Jawa Timur pada tahun 2006.

Video dokumenter ‘Kampung Maut’ yang awalnya ditanggapi secara negatif oleh pihak PT. Kereta Api Indonesia, justru sekarang dijadikan acuan untuk melakukan penataan ulang kawasan sepanjang rel Kereta Api yang dijadikan pemukiman liar.

Bahkan ‘Kampung Maut’ secara resmi diajukan oleh HUMAS PT.KAI yang saat itu dijabat oleh Darsono sebagai bahan kajian ke Departemen Perhubungan Pusat di Jakarta, Hasilnya antara lain pembenahan kawasan di daerah Sidotopo ke arah Ujung Surabaya. Secara bertahap daerah tersebut diberi sosialisasi tentang bahayanya apabila bermukim di daerah yang terlalu dekat dengan lintasan kereta api yang masih aktif. ‘Kampung Maut’ sendiri memang dari awal di design untuk memberi masukan penting pihak-pihak terkait agar lebih peduli pada keselamatan warga yang tinggal di daerah tersebut.

Bahkan, SNCF, perusahaan kereta api Perancis yang sedang mempelajari lintasan kereta api jalur utara tersebut untuk proyek pengembangan KOMUTER Lamongan-Surabaya, juga meminta ijin DOCNET untuk menggunakan ‘Kampung Maut’ sebagai salah satu bahan kajian mereka.

Kini DOCNET kembali memproduksi dua video dokumenter berjudul : Pasar Maut (Mortal Market) dan 38
(Tentang fenomena PILKADA 2009 di Kota Surabaya).

DOCNET yang sejak 2009 ini telah menjadi member dari International Documentary Association (IDA) dan Documentary Film Network International ini juga sering membantu kota-kota lain yang ingin melakukan studi komparasi kampung dan persoalan kota lewat Video Dokumenter. Salah satunya pada Tahun 2005, adalah dengan Kota SOLO saat Hari Jadi Kota tersebut, beberapa Karya Video Dokumenter DOCNET tentang kampung-kampung Surabaya diputar dalam acara ‘Katakan Pada Solo’.

Persoalan karya Dokumenter adalah isu yang seringkali diangkat menjadi tema bukan sekadar untuk ditonton, tapi untuk disikapi lebih lanjut ke tingkat ‘perubahan’.

Tugas Dokumenter adalah memberi ketukan pada pintu hati dan pintu pikiran yang tertutup. Apabila karya Dokumenter direspon secara positif dan ditindak lanjuti ke tingkat perubahan, itu adalah tugas pihak-pihak berwenang yang terkait.

DOCNET punya keyakinan bahwa masih banyak orang-orang di Pemerintahan yang masih punya hati nurani dan akal sehat yang terjaga. Dengan dasar seperti itulah Docnet terus membuat video dokumenter. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: