Sastrawan Gagap Berbahasa

Surabaya-Salah satu kelemahan substansial sastrawan Indonesia dalam interaksi sastrawan mondial adalah buruknya penguasaan bahasa asing khususnya Inggris. Meskipun terdengar klise, fakta tersebut masih terjadi hingga kini. “Saya menyesal mengapa tidak ikut kursus bahasa Inggris,” ujar M.Faizi, penyair asal Madura, saat peluncuran buku Reasons for Harmony, antologi karya sastrawan peserta Ubud Writers and Readers Festival 2008 Jumat (27/2) di Dewan Kesenian Jawa Timur.

M.Faizi merupakan salah satu peserta di festival tahunan bertaraf internasional dan karyanya tercantum dalam buku berbahasa Inggris itu. Selain M. Faizi, pemenang sayembara novel DKJ 2006, Mashuri, juga menjadi peserta di festival tersebut.

“Waktu ada sesi pesta puisi, setiap peserta bebas membacakan karyanya dan berinteraksi akrab dengan peserta lainnya. Saya menyesal tidak lancer ngomong Inggris,” lanjut M.Faizi.

Menurut M.Faizi, kendala bahasa itu juga yang membuat karya para sastrawan Indonesia tak banyak dikenal publik internasional. Oleh karena itu, panitia Ubud Writers and Readers Festival membukukan karya para sastrawan Indonesia ke dalam bahasa Inggris.

“Ini yang pertama karya peserta dibukukan. Festival sebelumnya tidak,” ujarnya dengan aksen Madura kental. Proses aliterasi yang dilakukan panitia bukan tanpa masalah. Faizi mengaku terjadi beberapa kekeliruan prinsipil saat karyanya disunting dalam bahasa Inggris.

“Misalnya, and dan nor. Itukan sangat berbeda,” ujarnya. Namun ia mahfum, proses aliterasi selalu menyisakan perdebatan. Yang terpenting, lanjut Faizi, terjadi proses interaksi dengan sastrawan dunia lainnya.

Sementara itu, salah satu pembicara lainnya, Indra Tjahyadi, lebih mengkritisi buku Ubud Writers and Readers Festival 2008, yang membuat karya sastra para peserta. Secara isi, menurut Indra, karya Ubud Writers and Readers Festival 2008 sebenarnya tak terlalu isimewa.

Mengusung tema Tri Hita Karana, festival tersebut terkesan repetitif: gathering sastrawan yang mengusung tema lokalitas tempat acara tersebut berlangsung. Tri Hita Karana adalah konsep kehidupan berbasis kearifan lokal masyarakat Bali. “Tri Hita Karana itu kan sangat filosofis melingkupi manusia, alam, dan yang-tak-kasat mata. Kaitannya dengan sastra sebagai karya seni saya kira sangat jelas,” ujar Indra Tjahjadi, panelis yang juga penulis buku Kitab Sjair Diancuk Djaran.

Begitu juga spirit harmony dan keindahan yang diusung buku itu. Menurutnya, keindahan adalah kebutuhan setiap manusia. Masalahnya saat ini, kebutuhan itu diraih dengan cara-cara yang tak sehat. Lalu, apa yang istimewa dari buku maupun festival ini? Baik Indra maupun Faizi tak mampu memberi paparan yang signifikan.

Hanya saja keduanya mengamini, kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan sebagai syarat pergaulan sastra mondial dan inovasi Ubud sebagai festival sastra ada pada pembukuan karya-karya peserta sehingga event tersebut tidak menguap dalam ingatan, namun juga memiliki bentuk kongkret. a1

Surabaya Post, Minggu, 1 Maret 2009 | 09:06 WIB

2 Responses

  1. Untung aku cuma penikmat seni budaya tradisi,jadi gak harus kursus,hehehe..

  2. eh.. ada Sang Bayang..

    Emmm.. Kalo sastrawan-nya lulusan Sastra Inggris, baru deh gak gagap bahasa Inggris.. Lagipula, sastrawan kan gak perlu2 amat menguasai bahasa asing, itu mah sudah tugas-nya penerjemah..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: