Parmin Ras, Koreografer Surabaya yang Siap Taklukkan Amerika

Usung Dua Karya Lawas, Lolos berkat Pengalaman di Eropa

Koreografer Surabaya Parmin Ras kembali mendapat undangan tampil di luar negeri. Kali ini, dia akan melakukan serangkaian aktivitas di Amerika Serikat selama tiga bulan. Di antaranya akan mementaskan dua koreografinya di New York dan Washington.

Pukul 16.00 kemarin (2/3), Parmin Ras dijadwalkan terbang dari Bandara Juanda menuju AS. Dia memenuhi undangan ASEAN Cultural Council (ACC) untuk sebuah hibah kesenian di Negeri Paman Sam itu.

Penari 55 tahun tersebut mengaku sebagai satu-satunya wakil Indonesia untuk seni tari dalam program itu. Selain Indonesia, ACC mengundang seniman dari Thailand, Malaysia, dan Filipina.

”Program itu merupakan pertukaran kebudayaan dan observasi perkembangan seni tari,” ujar penata tari yang mempunyai nama lengkap Soeparmin Ras tersebut ketika ditemui di Hotel Arjuna, Minggu (1/3).

Selama di AS, Parmin juga diminta ACC untuk memberikan workshop di beberapa universitas serta lembaga kebudayaan di Amerika. Dia berharap bisa melakukan kolaborasi dengan beberapa seniman di sana untuk menciptakan sebuah performance yang dahsyat.

”Di mana pun saya berada (luar negeri, Red), saya selalu membawa nama Indonesia, walaupun pemerintah nggak pernah nyangoni,” ucapnya.

Sepuluh tahun lalu, Parmin juga mendapat kesempatan keliling Eropa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari setengah tahun dia berkunjung ke sejumlah negara Eropa. Di antaranya ke Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Dia mengaku sempat bekerja part timer sebagai penjaga toko dan cleaning service untuk membiayai hidupnya selama tur keliling tersebut.

Untuk bisa menembus program ACC, Parmin mengaku harus melalui beberapa tes yang diikuti 200-an seniman Indonesia dari berbagai bidang seni. ”Saya dapat poin plus karena punya pengalaman keliling Eropa itu,” ujar penari yang pernah mencatatkan rekor di Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan koreografer kontroversialnya, Surabaya Bergetar, pada Mei 2004 itu.

Pada tur kelilingnya di AS nanti, Parmin menyiapkan dua karya. Judulnya Empty Plates (Piring Kosong) dan 10.10 (Ten Past Ten). Kedua tarian tersebut akan dia tampilkan secara solo dengan musik minimalis.

Dalam tariannya, Parmin juga bertutur tentang petuah hidup. Semua karyanya merupakan pengalaman pribadi yang diaplikasikan dalam tari. Empty Plates menceritakan tentang pengalamannya di waktu kecil, sedangkan 10.10 mengingatkan bahwa pada akhirnya kita akan kembali kepada Sang Pencipta Waktu.

”Sebenarnya, dua koreografi itu karya lama. Tapi, pas untuk program di Amerika ini,” tegas penari yang membuka warung gado-gado di Jalan Arjuna tersebut. (ika/ari)

Jawa Pos, Selasa, 03 Maret 2009

3 Responses

  1. Selamat jalan pak Parmin. Bawalah nama Indonesia dengan harum khususnyaJawaTimur. Doa kami sekeluarga,pencinta seni dan budaya Jawa Timur.

  2. assalamu alaikum wr wb,
    Yth mas brang. boleh tau kontak person pak parmin yang sekarang. dulu saya sempat mendokumentasikan setiap acara beliau dari 30 thn meretas jalan s/d 12 jam parmin ras bergetar.
    trims mas sebelumnya atas infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: