Kritik Lewat Permainan Simbol

SURABAYA – Bagaimana jika kritik sosial diungkapkan melalui permainan simbol yang dituangkan di atas kanvas. Setidaknya itulah yang dilalakukan oleh Eko Sandianto, salah seorang seniman asli Surabaya. Dalam pemeran tunggalnya yang digelar di Galeri Surabaya, pria kelahiran 5 Oktober 1972 ini memberikan tajuk Dream Theatre yang merupakan wujud dari obsesi dan mimpi-mimpinya.

Pelukis yang akrab disapa Ucup ini menjelaskan, dirinya ingin membahas tentang pentingnya mimpi dan fantasi. Baginya mimpi adalah ungkapan khas yang bersifat spontan dari alam bawah sadar, yang memiliki kemampuan untuk menafsirkan dirinya sendiri. “Terlepas dari pengertian itu, pameran ini juga sebenarnya merupakan obsesi saya,” tambahnya.

Mimpi dan fantasi, dalam pameran yang digelar hingga 7 Maret mendatang ini, diwujudkan dalam bentuk goresan-goresan yang ekspresif. Dijelaskan oleh Eko, nuansa absurd yang dipilihnya, karena karya-karya absurd lebih dapat menjelaskan isi dan makna dari sesuatu. “Kalau realis, menurut saya hanya dapat mengungkap kulitnya saja. sedangkan kalau absurd dapat lebih menjelaskan isi dan maknanya,” terangnya.

Absurditas dalam lukisan Eko, sejatinya merupakan perpaudan antara warna dan simbol. Seperti yang dijelaskannya, dirinya menggunakan simbol hanya semata-mata untuk mengungkapkan isi dan makna dari suatu fenomena. Misalnya dalam karya yang berjudul Follow The Leader, dia menggunakan simbol hewan-hewan seperti babi dan tikus untuk menggambarkan watak dan karakter dari para pemimpin bangsa dalam karyanya yang berjudul.

Sementara itu, staf pengajar keramik STKW, Nuzurlis Koto mengatakan, pameran ini lebih merupakan perwujudan dari keinginan dan semangat yang begitu besar dari seorang seniman muda. Guna mewujudkan mimpinya itu, menurutnya Eko menggunakan bahasanya sendiri yang bersifat alegorik. “Dalam pameran ini, dia berbicara dengan bahasanya sendiri. dia menyampaikan sesuatu tidak secara langsung,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, pameran tunggal Eko kali ini juga merupakan bentuk dari sosok Eko sendiri yang termarjinalkan di kalangan seniman lain. “Melalui pameran inilah, dia sepertinya ingin juga hadir sebagai seniman,” katanya.

Ditambahkannya, meski kualitas karya yang dipamerkan oleh Eko kali ini terbilang tidak terlalu baik, namun dirinya mengaku turut salut dan bangga atas keberanian Eko dalam menggelar pameran tunggal. Diakuinya bahwa sebenarnya kualitas tidak menjadi suatu yang prioritas, namun keberanian dan keinginan kuatlah yang sebenarnya perlu dijadikan modal untuk menggelar suatu pameran tunggal. “Saya kenal baik Eko. Jadi saya tahu benar bagaimana potensinya,” tambahnya.a3

Surabaya Post, Selasa, 3 Maret 2009 | 08:22 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: