Suara Perupa Jelang Pemilu

Jakarta – Bagi warga Surabaya, pernahkah memperhatikan secara jeli pusat perbelanjaan Royal Plaza?. Simbolnya yang menyerupai maskot, menjadi ide kreatifi perupa Surabaya, Ivan Haryanto dan dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), 3 – 12 Februari. Tema pameran “Vox Populi”.

Lukisan Ivan disandingkan dengan karya delapan perupa lainnya, seperti Wayan Kun Adnyana (Bali), Nasirun, Ipong Purnama Sidhi, Hanafi dan Hari Budiono, masing-masing dari Jogjakarta. Kemudian karya Tisna Sanjaya dan Erik Muhammad Pauhrizi (Bandung) serta AS Kurnia (Semarang).

Karya Ivan dengan maskot Royal Plaza itu tersaji lewat tajuk Berebut Simpati. Media cat minyak dengan ukuran 1,200 x 300 cm. Maskot yang menyerupai maskot raja atu ratu itu digambarkan Ivan sebagai calon pemimpin bangsa. Banyak bendera putih diibaratkan masyarakat golongan putih (golput) di Pemilu 2009.

Kenapa golput?. Karena sekarang masyarakat banyak yang tidak percaya dengan Pemilu. Jalannya Pemilu seakan percuma, karena semua pemimpin di negeri ini masih memiliki karakter sama. “Belum bisa memberikan perubahan yang signifikan terhadap masyarakat Indonesia,” kata Ivan di BBJ.

Fenomena golput dicermati Ivan dalam tampilan bendera kosong, dipandang dari dalam mobil yang melaju, terkesan enigmatik, dan ambigu. Interior mobil dan cara pandang ke luar itu seolah mendedahkan sikap para kelas menengah yang berjarak. Inikah realitas (sebagian) masyarakat kita – termasuk di dalamnya sang seniman itu sendiri?

Pada pameran ini, karya perupa lain pun hampir ‘bersuara’ sama dengan Ivan. Mereka menggambarkan Pemilu 2009 adalah sesuatu yang blur alias buram. Itu terlihat dari karya Erik Pauhrizi lewat Republican Favorite Series (3) berupa sun blash sticker on door glass 142×216 cm, di mana gambar-gambar sosok muda diwujudkan dalam rupa blur.

“Artinya, memang generasi muda sekarang banyak yang tak tahu apa sih sebenarnya Pemilu 2009. Apakah benar sebuah proses melahirkan pemimpin yang baik? Semua masih tidak jelas,” ujar Erik.

Sementara Kun Adnyana menggambarkan rakyat ini sebagai sosok tak berwajah. Dia umpakan NKRI, sebagai mobil sarat penumpang dengan tujuan tak jelas. Sopir dan seluruh penumpangnya tak berwajah. Entah siapa sopir Indonesia itu.

Kurator Pameran, Tubagus P Svarajati mengatakan, pameran ini diniatkan sebagai sikap (protes) politik seniman, advokasi publik, partisipasi rakyat madani, ekspresi kebahasan (tekstualitas) yang mendusin/berjaga, retorika atau dialektika ‘baru’, catatan sejarah atau bahkan cara menulis sejarah ‘secara lain’ yang barangkali tak mesti gegap-gempita, namun dalam kesenyapan itu ada gemuruh – suwung, tapi berisi – bernas.

“Katakanlah, semacam silent politics. Arkian, kampanye politik mejadi perkara yang kompleks dengan sisi sebelah bernuansa intriktif, koruptif, manipulatif, dan sekaligus – raut lainnya – adalah suatu dunia imajiner. Nah, suara seniman mengandung aspek moralitas. Apa yang disuarakannya adalah hasil ‘penerawangan’ panjang dan bijak yang bisa jadi ialah perikehidupan masa depan yang bakal terjadi,” terang Tubagus.

Posisi, peran, sikap atau cara pandang seniman atas fenomena kehidupan politik tak jarang mengundang perbincangan hangat. Cara pandang seperti ini, antara lain, dilatari oleh pendapat bahwa posisi seniman adalah unik, khusus, penting dalam konstelasi kehidupan masyarakat modern.

Maka, seniman dari BBJ, Efix Mulyadi mengatakan, semangat seperti itulah yang kiranya mendorong para perupa ini berkarya untuk pameran Vox Populi. (ary)

Surabaya Post, Rabu, 11 Februari 2009 | 10:09 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: