Merasa Beruntung Punya Kesempatan Melukis meski Terlambat

Melukis kini menjadi semacam “berkah” bagi Djojo Sunjoto. Kegiatan membuat gambar itu mengubah hidupnya. Usia lanjut kini tak dirasakan lagi sebagai sebuah hal tak menyenangkan.

DALAM seminggu, Djojo Sunjoto mengatakan bisa bermain golf tiga kali. Dia sangat menggemari olahraga ayun stik tersebut dan aktif selama belasan tahun. Namun, itu merupakan cerita lama. Kini Djojo mempunyai hobi baru yang membuatnya banyak berubah. Yaitu, melukis. Sejak senang melukis, Djojo lebih banyak menghabiskan waktunya di depan kanvas daripada di atas lapangan rumput. ”Kalau sekarang, golf bisa dua bulan sekali,” tuturnya.

Meski demikian, bapak empat anak itu tidak mengalami kemunduran secara fisik. Sebaliknya, melukis bisa meningkatkan semangat hidupnya. Itu membuatnya terus termotivasi dalam menjalani hidup. “Saya punya tujuan hidup yang harus dilakukan keesokan hari. Sebab, lukisan saya selalu menunggu. Dengan spirit itu, tentu saya tidak akan loyo,” ucapnya.

Meski demikian, dia masih menjaga kondisi fisik dengan berenang. Dia berenang sepekan dua kali. “Itu saat pagi,” ujarnya.

Pengalaman pribadi Djojo di Beijing, Tiongkok, pada Januari 2008 membuatnya berjanji tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Saat ini Djojo memang tetap mengurusi bisnis. Tapi, perannya dikurangi, dia sebatas menjadi pengawas. “Ya, prinsipnya harus tetap berkarya meski sudah memasuki masa pensiun. Jangan anggap usia lanjut itu merupakan waktu untuk berhenti berusaha,” imbuhnya.

Dia pun membandingkan kehidupan para lanjut usia (lansia) di Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Menurut dia, di tanah air, banyak lansia yang membuang waktunya dengan sia-sia. Mereka menghabiskan waktu dengan menonton televisi saja. “Ditambah dengan kegiatan tidur siang berjam-jam. Itu tidak pernah terjadi di AS,” katanya.

Berdasar pengalamannya studi banding di negara Barack Obama itu, banyak lansia yang mencari kesibukan untuk mengisi waktu luang. “Ada yang berusia 75 tahun ikut belajar melukis. Belajar tidak ada batas umurnya,” ujarnya.

Dengan banyak kegiatan, lanjut dia, banyak yang diperoleh para lansia. Berdasar pengalaman, dengan aktif berkegiatan, otak terus berpikir. Itu yang membuat orang bergairah menjalani kehidupan. Dengan lukisan itu, Djojo bisa mengingatkan orang lain bahwa setiap detik, menit, jam adalah sangat penting. Setelah lewat, waktu tidak akan kembali lagi. Karena itu, setiap orang harus memanfaatkan waktu dengan bekerja sungguh-sungguh dan menghasilkan karya terbaik. “Meski terhitung terlambat untuk mulai melukis, saya tetap merasa beruntung masih diberi kesempatan,” katanya. (dio/ayi)

Jawa Pos, Jum’at, 06 Februari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: