Ponimin, Perupa Wakil Indonesia dalam Eksplorasi Keramik Terakota Tingkat Dunia

Kuliah Dibiayai Tembikar, Timbun Tanah di Ruang Tamu

Ponimin telah menekuni dunia tembikar dan keramik semenjak 30 tahun lalu. Dia kini termasuk salah seorang trainer pembuatan keramik dan tembikar di Jatim dan Indonesia. Dari berbagai perbandingan yang dia lakukan, teknik pijat dalam pembuatan keramik dan tembikar Indonesia paling unggul dibandingkan negara lain.

Yosi Arbianto

————————–

Tiga buah keramik berbentuk Raja Rahwana kemarin menghiasi ruang tamu sekaligus workshop Ponimin di Jalan Martorejo 157 Dadaprejo, Junrejo, Kota Batu. Ukuran yang paling besar tingginya sekitar 80 sentimeter. Sedangkan dua ukuran yang lebih kecil tingginya sekitar 40 sentimeter.

Bentuk dan ekspresi wajah ketiga raja angkara murka itu nyaris sama. Menoleh ke kanan, menyeringai dengan taringnya dan tampak sedang marah. Rambutnya seperti nyala api. Tangannya meronta, seolah-olah ada yang tengah membuatnya sakit. Sementara, puluhan keramik berbentuk kera dengan ukuran lebih kecil menempel di sekujur badannya.

Kera-kera itu terlihat menyerang sang Rahwana. Menggigit, mencakar, dan menusuk dengan pedang pendek. Puluhan kera lainnya mengelilingi nama alias Dasamuka itu sembari membawa pedang. Sedangkan kera-kera di bawah tubuh Rahwana terlihat menunggu, seakan mencari titik lemah lawan untuk diserang.

Cerita yang ingin dimunculkan dari keramik terakota itu adalah Rahwana tengah berkelahi melawan Anoman dan pasukan kera. Simbolisasinya menceritakan pertarungan sifat jahat dengan sifat baik. Pertarungan dua kubu itu, menurut Ponimin -pembuatnya-, akan selalu terjadi sepanjang kehidupan manusia. “Nanti yang saya bawa satu karya saja. Saya akan buat lainnya di India sana. Saya angkat tema dari cerita pewayangan,” kata Ponimin seraya memoles patung dari tanah liat tersebut menggunakan kuas.

Mulai 4 hingga 27 Februari mendatang, Ponimin bakal adu teknik pembuatan keramik dengan puluhan perajin sedunia. Lokasinya di New Delhi, India. Dalam even Delhi Blue Pottery Trust, Exploration of Terracotta 2009 tersebut, negara yang ambil bagian antara lain India, Indonesia, Pakistan, Turki, Jepang, Australia, Finlandia, Kenya, dan Bangladesh.

Dalam even itu, ada sesi pembuatan keramik selama dua minggu. Lalu, hasil keramik yang telah dibuat dipamerkan di Visual Art Gallery, New Delhi. Karya-karya itu bakal dijual untuk para kolektor sedunia. “Saya berangkat disponsori yayasan luar negeri, Prince Claus Fund. Kalau yang lain didanai negaranya masing-masing,” kata pria kelahiran Jombang 44 tahun lalu itu.

Di tangan Ponimin nanti, sejarah dan perkembangan keramik Indonesia dan Malang akan dipaparkan. Mulai dari tradisi nenek moyang membuat keramik earthenware alias tembikar hingga perkembangan pembuatan keramik stoneware (keramik yang diglasir dan dioven dalam suhu tinggi). Termasuk juga paparan tentang perkembangan cara pembuatan keramik menggunakan teknik putar (seperti membuat kuali dan alat-alat dapur). Begitu juga pembuatan keramik dengan teknik pinching (pijat) dan pilin. “Teknik pijat Indonesia unggul dibandingkan negara lain. Bahkan milik Jepang sekalipun. Inilah salah satu keunggulan kita dalam pembuatan keramik,” ungkap pemilik gelar sarjana dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini.

Ponimin mencontohkan, perupa dari negara lain tak bakal bisa membuat model Rahwana seperti yang dia buat. Keramik tersebut dibuat murni dengan keterampilan tangan, bukan dengan cetakan. Dalamnya pun berongga. Tidak ada kerangka atau penyangga untuk membuat keramik Rahwana bisa berdiri. Ketika dipanaskan pun, keramik itu tidak pecah. “Ini keunggulan kita. Ini murni tanah liat dengan komposisi tertentu,” kata dosen Universitas Negeri Malang (UM) yang dulunya perajin keramik di Kasongan, Jogja, ini.

Menurut Ponimin, keunggulan pembuatan keramik Indonesia dia bandingkan saat mengikuti dua even internasional 2006 lalu. Yakni Asian Biennale di Bangladesh dan Third Asna Clay International di Pakistan. Saat itu, para perupa menggunakan bubur kertas terlebih dahulu untuk membentuk kerangka keramik berwujud aneka patung. Bubur kertas yang telah berbentuk itu kemudian ditempeli tanah liat. Barulah tanah liat yang sudah menempel itu dibentuk.

Hasilnya, tebal tipis permukaan tidak sama. Efeknya, keramik pun mudah pecah ketika dipanaskan. Selain itu, detailnya kurang maksimal. Lekuk dan bentuk patung terbatas karena ada bubur kertas di dalamnya. “Negara lain tak ada yang bisa membuat tanpa kerangka. Kalau toh mereka mencoba, pasti blonyot (tanah liatnya seperti meleleh sehingga bentuknya berubah). Kalau kita, tanpa kerangka bisa,” tutur pembuat patung replika tujuh arsitektur keajaiban dunia di objek wisata Taman Wisata Bahari Lamongan ini.

Apabila menguasai tekniknya, waktu pembuatan patung tinggi satu meter itu juga singkat. Ponimin mengaku membutuhkan waktu sehari saja untuk menyelesaikan sebuah karya. Yang penting, komposisi bahan sesuai standar yang diinginkan. “Begini ini, yang paling sulit kalau tanah liatnya kebanyakan air. Untuk tema wujud yang akan kita buat, budaya di Indonesia sangat kaya dengan tema-tema itu,” terang dia.

Bergelut dengan tanah liat seakan sudah menjadi jalan hidup Ponimin. Di rumahnya, dia menimbun lebih dari tiga meter kubik tanah liat. Tumpukan pertama dia letakkan di sebelah ruang tamu. Agar tidak kering, tanah liat yang sudah digiling itu ditutupi dengan terpal. Sedangkan satu gundukan tanah liat lainnya diletakkan di gudang. Siapa pun dia tawari tanah liat itu ketika berkunjung ke rumahnya. “Saya punya banyak tanah liat. Silakan kalau mau ambil. Untuk buat-buat patung atau apa gitu,” ungkap pencipta patung Ganesha Bermuka Dua di Taman Safari Indonesia Prigen ini.

Semenjak duduk di SMP Dharma Bakti Jombang, bapak berputera dua ini mengaku senang dengan tembikar. Karena itulah, Ponimin melanjutkan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jurusan Kriya Jogjakarta. Lulus dari SMSR 1986, Ponimin melanjutkan ke ISI. “Pas kuliah, saya di Kasongan hingga 15 tahun lamanya. Saya banyak belajar juga mencari uang untuk kuliah. Dari dulu saya kuliah dengan menjual tembikar. Kuliah dibiayai tembikar ha..ha,” ungkap Ponimin yang sempat mengenyam training pembuatan keramik di Kyoto, Jepang, ini.

Dengan berbagai kelebihan teknik pembuatan keramik Malang dan beberapa daerah di Indonesia, Ponimin mengaku ingin banyak menularkannya kepada perajin-perajin muda. Dia yakin menggeluti keramik bisa untuk gantungan hidup. Terutama pembuatan keramik bernilai seni tinggi. Bukan membuat keramik tradisional sejenis tembikar yang biasanya untuk alat-alat dapur. “Saya inginnya begitu. Ajak anak-anak muda untuk seriusi membuat keramik bernilai seni tinggi,” kata suami Titin Sumarmi ini.

Keinginan untuk mengajak anak muda, lanjut Ponimin, ternyata tidak mudah. Di sentra-sentra keramik atau tembikar, sebagian besar perajinnya golongan tua. Karena umur dan orientasinya sudah berbeda, jarang perajin tua yang mau diajak berkembang. Sebaliknya, perajin muda juga sudah jarang. Kalau toh ada, kerjanya tidak secara total. “Itu sulitnya, Mas. Yang muda jarang yang mau. Padahal, kalau belajar tekun, pasti bisa,” ucap perupa yang punya hobi menari ini. (yn)

Radar Malang, Senin, 02 Februari 2009

One Response

  1. Mas Poninin saya salut dengan anda, tetapi yang ingin saya tahu jenis tanah liatnya yang saya butuhkan tanah liat yang berwarna putih atau abu abu mendekati warna biru langit.Karena untuk keperluan memasak daun kates supaya tidak pahit, sebab saya tinggal di Samarinda dan di kota saya tidak ada tanah liat yang saya butuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: