Samuel Lianto, Pengusaha Muda Pemilik Sozo Art Space

Ciptakan Galeri Seni tak Sekadar Pajang Lukisan

Samuel Lianto di depan karya Asri Nugroho di Sozo Art Space. HETI PALESTINA YUNANI/RADAR SURABAYA

PENGUSAHA-SENIMAN: Samuel Lianto di depan karya Asri Nugroho di Sozo Art Space. HETI PALESTINA YUNANI/RADAR SURABAYA

Dalam usia 31 tahun, Samuel Lianto membuka galeri seni impiannya semasa kuliah, Sozo Art Space. Ini menambah deretan galeri seni di Surabaya yang kian bertumbuh. Tak seperti menjalankan bisnisnya, Samuel tak lagi berorientasi pada keuntungan.

HETI PALESTINA
heti_palestina@yahoo.com

SEBUAH perhelatan perdana di Sozo Art Space sedang disiapkan Samuel Lianto. Kemarin ketika ditemui di Sozo di Jl Raya Darmo Permai Timur 18/BC-1, ia ditemani Asri Nugroho, pelukis senior Surabaya yang telah mendunia. Bersama Asri, pengelola tetap Sozo, Sam –begitu panggilannya- mengumpulkan sekitar 50 pelukis untuk pameran perdana di Sozo. Semuanya berasal dari Surabaya. Karena itu, ia mengambil judul Surabaya Insight. Pameran yang bakal dibuka Henky Kurniadi itu dimulai 2 Februari nanti.
‘’Karena Sozo di Surabaya, event perdana saya dedikasikan pada para pelukis Surabaya,’’ kata Sam. Selama persiapan pameran penanda dibukanya Sozo, Sam terlihat antusias. Maklum, inilah impian lama Sam. Lulusan Ubaya ini melihat jika semua kota besar di dunia selalu memiliki galeri seni. Bukan hanya sebagai ruang pamer, namun tempat itu mengumpulkan aktivitas semua masyarakat di bidang seni. ‘’Galeri seni itu juga menunjukkan tingkat kepedulian masyarakatnya terhadap masalah-masalah sosial di sekitarnya,’’ kata pria berkacamata itu.
Saat mengambil master di IBMT dan mengambil kelas khusus di Singapura, Sam juga merasakan kebutuhan masyarakat Singapura itu terhadap galeri seni. Selesai menggondol master, impian itu belum juga terwujud. Apalagi ia kemudian berkutat di bisnisnya dalam bidang distributor material pembuatan jalan, Ecomix. Ketika bisnisnya makin mapan, keinginan Sam makin kuat. Ia tak puas hanya memikirkan bisnis tanpa sentuhan lain yang mengolah jiwa seninya.
Seni sendiri sebenarnya tak jauh-jauh dari kehidupan Sam. Ia seorang drummer sejak SMP. Meski awalnya menggeluti musik, sejatinya semua bentuk kesenian ia amati. Ketika menjalankan bisnis, Sam punya pengalaman dalam dunia bisnis yang dianggapnya perlu sentuhan seni. Itu dirasanya saat melakukan lobi dengan rekan bisnis. Ia jenuh jika itu hanya dilakukan di dalam rapat, pertemuan, atau ketika bermain golf.
Ia membayangkan deal-deal bisnis, lobi, dan menjamu kolega bisa dilakukan dengan santai sambil menikmati karya seni. Bahkan ketika menikmati karya seni, urusan bisnis harus ditanggalkan. ‘’Cara-cara itu membuat saya terasa lebih humanis karena kita membincangkan sesuatu secara lebih soft. Bukan hanya berpikir keuntungan atau kesempatan,’’ tegas suami dari Megumi Halim ini.
Baru September 2008, ia bertemu Asri. Pertemuan dengan seniman itu langsung membangkitkan keinginan mendirikan galeri seni. Asri bukan orang baru buat Sam. Sejak SMP, ia sudah mengenal Asri. Jika Asri melukis di studionya, Sam tahu proses seorang seniman berkarya. ‘’Saat itu saya piker seniman itu gila saja kok bisa hidup dari lukisan,’’ kata calon bapak ini.
Asri lah yang kemudian menuntun Sam mendirikan galeri seni. Hanya dalam tiga bulan dan bermodal uang pribadi, Sam merombak ruko yang dahulu menjadi tempat bisnis menjadi galeri seni. Konsep Sam, Sozo lebih difungsikan sebagai art space. ‘’Agar terkesan tak hanya ruang pajang, tapi ruang berkreatif buat semua seniman.
Sozo dalam bahasa Jepang juga berarti kreatif,’’ kata Sam yang ingin memajang karya-karya pelukis kelas dunia. Di dua lantai ruko dengan luas per lantainya 12×15 meter itu, Sam tak hanya menyediakan ruang pajang. Tapi, ia membuat satu ruang untuk tempat segala hal. Mulai dari diskusi atau alternatif tempat bagi para seniman untuk berkarya. ‘’Yang penting harus ada aktivitas dan ada komunitasnya agar Sozo makin hidup,’’ ungkapnya.
Sozo ditegaskan Sam juga bukan galeri seni yang hanya menjadi tempat transaksi lukisan. Karena itu, profit oriented bukan tujuannya dalam mendirikan galeri ini. Jika Sozo tak mendatangkan keuntungan pun, Sam sudah siap sejak awal. ‘’Ada nilai immateri yang saya dapatkan dari Sozo.
Ini proyek berbeda dari bisnis saya yang sudah cukup memberi nafkah buat saya,’’ tegas Sam yang menjadwalkan satu even di setiap bulannya. (*)

Radar Surabaya, 30 Januari 2009

2 Responses

  1. excellent article.

  2. Wah sekarang Bp. Samuel sudah sukses. Saya tahu pergumulan hidupnya dari awal… Salut Sam… God bless you !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: