15 Menit Rampungkan Panderman Hill

ON THE SPOT. Dengan kelima jari tangan kanannya, Rahmansyah merampungkan lukisan berjudul Panderman Hill di Genesis Art, kemarin. SANDHI NURHARTANTO/RADAR SURABAYA

ON THE SPOT. Dengan kelima jari tangan kanannya, Rahmansyah merampungkan lukisan berjudul Panderman Hill di Genesis Art, kemarin. SANDHI NURHARTANTO/RADAR SURABAYA

Menurut Rahmansyah, ide melukis bisa didapat setiap saat. Kemarin dia langsung klik dengan Panderman, karena secara pribadi dirinya punya story dengan tempat tersebut. Laki-laki gondrong ini belajar melukis di Panderman, dan hingga kini tempat tersebut memberi inspirasi yang kuat pada karya-karyanya. Tak heran bila ia berhasil merampungkan lukisan secara kilat.

NOFILAWATI ANISA

nofilawatianisa@yahoo.co.id

SURABAYA – Menandai keberadaan Genesis Art, pelukis aliran ekspresionis, Rahmansyah diundang melukis on the spot di galeri yang terletak di kompleks pertokoan Plaza Andika, Simpang Dukuh itu, kemarin. Tanpa dikomando, Rahmansyah langsung meletakkan kanvas putih berukuran 140 cm x 90 cm di lantai keramik coklat.

Setelah menyiapkan piranti lukisnya, selang beberapa saat kedua tangannya mulai beraksi. Tangan kanan memegang kuas dan valet secara bergantian, sementara yang kiri membawa cat akrilik beragam warna. Cat pertama yang ia pilih adalah warna biru tua. Laki-laki gondrong ini mengambil sekitar dua sentimeter benda seperti odol itu, lalu meletakkannya begitu saja di atas kanvas di sisi paling atas. Selanjutnya, warna biru muda, oranye, kuning dan hijau, secara berselang-seling juga ia letakkan di beberapa sudut kanvas.

Dia lantas memandang kanvas itu sekejap. Berikutnya, laki-laki dengan beragam aksesori di tubuhnya itu mengambil kuas selebar lima sentimeter dan mulai beraksi. Cat-cat akrilik itu mulai ia corat-coret membentuk beragam gambar. Warna-warna baru juga bermunculan ketika cat beda warna saling bertemu. “Ide bisa didapat kapan pun. Saya dapat ide lukisan ini juga baru saja kok. Kira-kira lima menit yang lalu,” katanya.

Ramanhsyah pun bergerak lihai. Ke samping kiri kanan, bahkan melangkahi kanvas di depannya.

Sepuluh menit berselang, lukisan yang ia buat mulai bisa dibaca bentuknya. Rupanya dia melukis sebuah bukit dengan terasiring berisi tanaman kol, wortel, maupun seledri di sisi depan. Di atas bukit itu, Rahmansyah memilih warna biru muda yang melukiskan keadaan langit yang cerah.

“Hayo, ini lukisan apa,” tanyanya pada sejumlah pengunjung galeri. Tanpa menunggu jawaban, ia pun melanjutkan, “Ini bukit Panderman (Batu) jika dilihat dari kawasan Jatim Park.” Rahmansyah merampungkan lukisan tak lebih dari 15 menit.

Menurutnya, untuk membuat sebuah karya lukis, ide bisa didapat setiap saat. Hanya saja kemarin dia langsung klik dengan Panderman, karena secara pribadi dirinya punya story dengan lokasi tersebut.

“Saya belajar melukis di Panderman. Sampai sekarang pun tempat itu selalu memberi inspriasi yang kuat pada karya-karya saya,” jelasnya.

Manager Genesis Art, Maria Ella mengatakan, secara resmi galerinya belum buka. Tapi untuk sementara sudah ada sekitar 15 lukisan yang dipajang. Lukisan-lukisan itu karya Djojo Sunjoto, pelukis aliran absrak yang mumpuni.

“Nantinya galeri ini juga dipakai untuk workshop seni maupun seminar,” kata Ella. (*)

Radar Surabaya, 30 Januari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: