Pelukis Jansen Jasien Khawatirkan Musnahnya Cagar Budaya

Surabaya – Pelukis asal Krian, Sidoarjo, Jansen Jasien mengkhawatirkan semakin banyaknya benda-benda cagar budaya di Kota Surabaya yang musnah dengan menggunakan ungkapan lewat karya sketsa.

Jansen Jasien disela-sela pembukaan pameran bertajuk “Soerabaia di Oejoeng Doepa” di Galeri “Houses of Sampoerna” (HoS), Surabaya, Rabu menjelaskan, perlu dukungan semua pihak untuk menjaga benda-benda bersejarah di Kota Pahlawan ini.

“Saya melakukan upaya lewat karya seni bekerjasama dengan beberapa elemen masyarakat lain yang peduli pada warisan sejarah bangsa ini, seperti ‘House of Sampoerna’, ‘Surabaya Haritage’ dan Universitas Ciputera,” katanya.

Pelukis berambut panjang yang juga Ketua Kelompok Pekerja Seni Pecinta Sejarah (KPSPS) Surabaya itu mengemukakan, jika tidak ada perhatian dari banyak pihak, maka akan semakin banyak benda cagar budaya musnah yang ia ibaratkan seperti dupa yang terbakar.

Pimpinan “Surabaya Haritage”, Freddy H Istanto yang juga kurator pameran lukisan Jansen Jasien mengemukakan, memang banyak orang yang merasa miris dengan judul pameran kali ini yang mengibaratkan kondisi Surabaya seperti di ujung dupa.

“Namun semua ini menjadi peringatan untuk kita semua agar sadar akan pentingnya pelestarian budaya masa lalu. Kalau Jansen Jasien menggunakan tema dupa, karena dupa itu sendiri memang mengandung misteri yang tinggi,” ujarnya.

Ia mengemukakan, lewat lukisan pihaknya terus mendorong Jansen Jasien untuk berkarya dengan mencari inovasi-inovasi baru. Dengan cara itu, Jansen Jasien telah melakukan dua hal, yakni menghasilkan karya seni bernilai tinggi.

“Dan kedua, kalau lukisan itu dibeli dan dipajang oleh pengusaha, maka benda itu ada nilai sejarahnya dan selalu menjadi pengingat agar pengusaha itu ikut melestarikan warisan sejarah,” kata peraih gelar master bidang kritikus karya arsitektur itu.

Ia mengemukakan, pihaknya memang selalu berupaya melakukan pendekatan atau melibatkan pengusaha agar mereka memiliki kesadaran pada sejarah. Sebab, katanya, ada keyakinan selama ini bahwa yang suka menghancurkan benda cagar budaya adalah pengusaha.

Sementara Rektor Universitas Ciputera Surabaya, Toni Antonio, mengatakan, pihaknya sangat mendukung apa yang dilakukan Jansen Jasien dan komunitas pecinta sejarah itu. Karena itu pihaknya datang ke lokasi pameran untuk memberikan dukungan.

“Apalagi untuk beberapa jurusan di Universitas Ciputera juga ditanamkan nilai-nilai pelestarian sejarah itu. Saya datang ke pameran ini untuk memberikan
contoh kepada para mahasiswa,” katanya.

Menurut dia, pihaknya menanamkan kesadaran kepada para mahasiswanya agar mereka tidak terjebak pada tujuan hanya untuk komersialisasi.

“Apalagi Pak Ciputera (pendiri dan pemilik Universitas Ciputera,-red) sendiri juga memiliki kepedulian pada seni budaya dan benda-benda bersejarah,” katanya.

Masuki M. Astro
antarajatim,
Rabu, 28 Jan 2009 16:22:25

3 Responses

  1. bisa minta data pak Jansen Jasien?
    alamat atau no hape yg bisa dihubungi….

    mau buat tugas kuliah…
    trims…

  2. Makasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: