Upaya Paguyuban Tunas Budaya Jaya Melestarikan Wayang Kulit

Beranggotakan Bocah, Sekali Tanggapan Diberi Rp 15 Ribu

Sebanyak 19 bocah di Desa Gesikan, Kecamatan Pakel, Tulungagung, bertekad melestarikan kesenian wayang kulit. Mereka tergabung dalam Paguyuban Tunas Budaya Jaya. Berikut laporannya.

Mas Tricahyono-RaTu

————————————

Hembusan angin malam menusuk tulang. Apalagi air hujan baru membasahi Kecamatan Gesikan dan sekitarnya. Namun begitu, di rumah Ki Kaelan Sumitro terdengar bunyi gamelan dipadu suara gending Jawa.

Berdinding bambu dan berlantai tanah, 19 bocah mengasah talenta belajar kesenian wayang kulit. Di ruangan berukuran 7 X 5 meter tersebut mereka memahami notasi gamelan dan gending Jawa yang diajarkan oleh Ki Kaelan.

Sebagai dalang adalah Lenggang Pratitis, 12, putra bungsu Kaelan. Sedangkan sinden maupun penabuh gamelan merupakan anak-anak sekitar.

Ki Kaelan ditemui saat melatih anak didiknya mengatakan dirinya prihatin dengan generasi muda yang kurang peduli terhadap kesenian warisan leluhur. Maklum, ayah tujuh anak itu merupakan dalang sejak tahun 1969. “Saya heran, kenapa remaja zaman sekarang mulai kurang mencintai wayang kulit. Padahal dalam wayang terkadung pesan moral,” kata Kaelan.

Pada awal 2008, Kaelan mengajari gending ladras asmarandana ke putra bungsu, Lenggang Pratitis. Rupanya, beberapa teman Lenggang berminat untuk belajar kesenian Jawa. Mereka meminta diajarkan gending-gending yang lain. Seperti pangkur, sinom, kinanti, bimo kurdo, dan udan mas. “Kemudian munculah inisiatif mendirikan Paguyuban Tunas Budaya Jaya,” kata ayah 7 anak itu.

Selanjutnya, semua anggota yang masih duduk di bangku SMP Negeri 2 Pakel itu mulai mengintensifkan latihan. Mereka berlatih dua kali dalam seminggu. Yakni, setiap Minggu sore dan Selasa sore. “Namun anak-anak ada les di sekolah maka latihan kami tunda,” tuturnya.

Bagaimana dengan gamelan? Ternyata hanya memiliki enam gamelan saja. Meskipun peralatan sederhana dan serba terbatas, tak menyurutkan anak-anak untuk tetap berlatih.

“Sesekali kami berlatih ke tempat teman saya yang memiliki peralatan yang lebih lengkap,” tuturnya.

Kiprah Paguyuban Tunas Budaya Jaya memang belum moncer. Maklum baru berumur setahun. Meski begitu, mereka pernah tampil di depan publik. “Warga sekitar sempat meminta anak-anak untuk melakukan pentas,” terang Kaelan.

Sang dalang Lenggang Pratitis menyatakan, dirinya berharap Paguyuban Tunas Budaya Jaya bisa besar. “Untuk itu saya dan teman-teman giat berlatih,” kata siswa kelas III SMPN 2 Pakel itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rerik Sri Rahayu, 11, yang berperan sebagai sinden. Bocah usia 11 tahun itu mengatakan sudah tiga kali diundang untuk pentas. Kami sudah tiga kali pentas. Meskipun, tidak sampai pagi, karena teman-teman sudah ngantuk. Waktu itu, kami mendapat upah Rp 15 ribu, ujar Rerik. ***

Radar Tulungagung, Minggu, 18 Januari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: