Supari, Seniman Buta Warna Yang Berprestasi Nasional

Dua Tahun Juarai Lomba Desain Perangko

Bagaimana jika seorang pelukis mengalami buta warna? Sulit dibayangkan tentunya. Namun keadaan itu dialami Supari, salah satu perupa di Kota Santri. Meski demikian, dia mampu berprestasi hingga ke tingkat nasional.

Edy Supriyono, Situbondo

—————————————–

Sulit untuk mempercayai jika Supari mengalami buta warna. Penampilannya yang selalu rapi, profesinya sebagai seorang guru seni rupa, sangat tidak mendukung kalau dia dikatakan buta warna. Cuma, siapa sangka jika profesi sebagai guru itulah yang akhirnya membongkar Supari di hadapan murid-muridnya bahwa dirinya buta warna.

Suatu saat, Supari mengajar menggambar kepada murid-muridnya di kelas VI SD. Dia mengambil pensil warna cokelat. Namun dia memerintahkan kepada murid-muridnya untuk mengambil pensil warna merah. Beberapa muridnya tercengang dengan aksi Supari tersebut. “Pak Guru, (pensil warna yang dipegang Supari) itu kan warna coklat, bukan merah,” kata Supari menirukan kritikan yang pernah disampaikan muridnya.

Menyadari kekeliruannya, Supari langsung meletakkan pensil warna yang dipegangnya. Beruntung dia masih menguasai keadaan dengan mengatakan sengaja mengambil pensil warna cokelat, untuk mengetes kemampuan para murid. “Namun buta warna saya ini tidak parah. Ibarat penyakit bukan stadium lanjut. Saya hanya tahu warna-warna pokok saja,” ungkap Supari kepada RaBa, di kediamananya di Dusun Panji Lor, Kecamatan Panji, kemarin.

Kata pria kelahiran 1963 itu, dirinya tahu kalau buta warna saat duduk di bangku akhir SD. Ketika itu, gurunya memberikan sebuah buku berisi padu-paduan warna yang membentuk angka. Karena buta warna, Supari tak satupun bisa menebak angka yang ditanyakan gurunya.

Kelainan yang dimiliki Supari tersebut seringkali membuatnya kelimpungan saat sudah berurusan dengan dokter. Saat akan masuk di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika (STKW) Surabaya, misalnya. Dokter sempat mempertanyakan dirinya apakah benar-benar pelukis. “Dokternya ya heran juga, kok ada pelukis buta warna,” kenang bapak dua anak itu. Beruntung, dokter yang juga seorang seniman itu akhirnya tetap meluluskan Supari karena melihat kemampuan lukis dan semangat Supari yang begitu besar.

Buta warna yang dialami Supari juga sempat mempersulitnya saat mengurusi persyaratan Surat Izin Mengemudi (SIM). Saat tes kesehatan kepada salah seorang dokter, dokter itu tidak mau memberikan rekomendasinya. Penyebabnya, saat di tes warna jawaban yang diberikan suami Riskiowati itu salah semuanya. “Akhirnya saya cari dokter lain yang tak begitu ketat. Saya hanya ditanya warna-warna lampu lalu lintas, lulus. Ya langsung dikasi surat sama dokternya,” ungkapnya.

Meski buta warna, Supari dikenal cukup sukses mengantarkan murid-muridnya menjadi juara di tingkat nasional dan regional dalam bidang seni rupa. “Dia guru yang sabar dan telaten. Sehingga banyak murid-muridnya yang berhasil,” terang Irwan, guru satu sekolah dengan Supari.

Supari sendiri memiliki prestasi yang tak kalah membanggakan. Dia sempat menjuarai momen-momen membanggakan hingga ke tingkat nasional. Pada 2003, misalnya. Dia menempati posisi III sebagai juara desain perangko dalam rangka hari guru nasional. Melalui perantara momentum tersebut, Supari bisa sampai ke istana negara dan berkesempatan langsung berjabat tangan dengan Presiden RI saat itu, Megawati Soekarno Putri.

Bahkan Supari juga sempat meminta tanda tangan kepada Megawati, Wapres Hamzah Haz serta Menteri Pendidikan Malik Fadjar. “Ini masih ada kenang-kenangannya,” terangnya seraya menunjukkan sketsa desain perangko yang telah terpajang dalam sebuah pigura. Di bawahnya ada tanda tangan Megawati dan Malik fadjar.

Pada 2004 Supari juga menjuarai desain perangko dalam rangka menyambuk Konferensi Asia Afrika. Kali ini dia bertengger di juara II. Dia juga menunjukkan hasil karyanya yang sudah diterbitkan PT Pos dalam bentuk perangko. Supari juga masuk sebagai juara Harapan I cergam tingkat nasional. Karya cergam guru yang mengajar di SDN Kesambirampak, Kapongan ini pernah dimuat dalam beberapa media cetak tingkat nasional. (aif)

Radar Banyuwangi, Sabtu, 17 Januari 2009

2 Responses

  1. wahhh!!hebat-hebat……tenan pak Supari ini…..salud.lama ngak dengar kabarnya…….saat baca nama yg tertera,saya jadi penasaran/???ini apa nama pak Supari yang ku kenal itu????ternyata ngak salah pradukaku!!selamat ya pak Supari……atas keberhasilannya.semangat terus tuk tetap berkarya….

  2. Saya jadi teringat Esref Armagan: Pelukis Buta dari Turki, yang sudah buta sejak lahir. Bahkan, ia bisa melukis wajah Bill Clinton, mantan presiden Amerika.

    Artikelnya bisa di baca di sini:
    http://kalipaksi.wordpress.com/2009/05/10/esref-ermagan-pelukis-buta-dari-turki/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: