SANDUR MANDURO, MILIK SIAPA?

oleh Imam Ghozali Ar*

Menyanding Sandur Manduro

Sebuah pertunjukan musti akan berakhir. Dan akhir itu tidak musti harus mati. Sebab kematian adalah kekonyolan. Pertunjukan hidup adalah ritualitas pengabdian manusia. Dan pengabdian tak pernah kenal kata akhir. Sebab akhir pengabdian adalah awal kekonyolan. Manusia boleh berakhir kerana kematiannya, namun kematian itu bukannya sebuah kekonyolan, melainkan keharusan takdir yang musti terjadi. Pendeknya, kematian manusia tidak berambivalensi dengan kematian pengabdian.

Membiarkan Sandur adalah awal kekonyolan dan itu artinya adalah akhir dari sebuah pengabdian. Apa artinya Sandur bila terlalu lama dibiarkan (?), toh keberadaannya tidak signifikan membawa pengaruh terhadap derajad kenaikan ekonomi. Tapi kita boleh percaya atawa tidak bahwa kematian sebuah kesenian adalah awal kematiannya peradaban. Dan sebuah masyarakat yang tak berberadapan adalah masyarakat yang barbar. Barangkali ini adalah salah satunya saja, maka sepakatlah manakala kita musti menjaga, merawat, mengelus, menyayang, dan mencinta.

Sebenarnya, Ada apa dengan Sandur? Paling-paling ya itu-itu saja. Sama dengan yang lain. Ah, apa iya? Tentu, tidak sedemikian cepat untuk mengambil kesimpulan. Soalnya, menyoal Sandur Manduro tak dapat dibiarsandingkan dengan bentuk seni tradisi yang lain.

Sebagai pertunjukan rakyat, Sandur Manduro mempunyai beberapa sifat yang menonjol: pertama, kesederhanaan. Hal ini tercermin terlihat dari aspek tempat pertunjukan, busana, rias, property, peralatan musik, tari, dan cerita. Kedua, keluwesan (mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pertunjukan). Aspek keluwesan ini terpantul dari spontanitas dan improvisasi pendialogannya. Dialog-dialog yang dibangun sentiasa bertalian dengan situasi dan kondisi pada saat Sandur tersebut dipertontonkan. Ketiga, ketotalan dan keintiman. Aspek ketotalan ini tercermin dalam hal bahwa pertunjukan Sandur memadukan beberapa unsur, yang meliputi tari, musik, sastra, kriya, perupaan, dan seni acting, sedangkan aspek keintiman terlihat dari ketiadaan jarak antara pemain dan penonton. Aspek ini memperkuat fungsi sosial sandur yakni kemampuannya sebagai pembangun / pemelihara solidaritas kelompok serta pemahaman kembali nilai-nilai dan pola perilaku yang berlaku dalam lingkungan sosialnya.

Menyandingkan Sandur manduro dengan Sandur-Sandur lain yang berkembang di daerah selain Jombang, ternyata memberikan informasi tersendiri bagi kita. Setidak-tidaknya dengan informasi ini kita mengetahui atawa baru sadar bahwa keberadaan sandur Manduro ternyata memiliki kekhasan. Kekhasan tersebut dapat diuraikan seperti di bawah ini.

Ketika menyaksikan pertunjukan Sandur Manduro, ada beberapa catatan yang dapat kami buat. Catatan pertama, dalam pertunjukan Sandur Manduro tidak kami jumpai adegan kalongking, seperti yang terdapat dalam sandurnya orang Tuban dan Nganjuk. Kalongking merupakan adegan pemain yang naik di atas tambang yang dipancangkan antara dua tiang. Di atas tambang tersebut pemain berakrobatik dengan lincah dalam suasana trance. Pertunjukan Sandur Tuban atau Nganjuk mempunyai banyak kemiripan, yakni diawali dengan upacara ritual yang disusul dengan tari-tarian yang diarak keliling panggung sembari ada seseorang yang memanggul anak kecil, yang selanjutnya diteruskan dengan adegan kalongking. Dalam pertunjukan Sandur Manduro yang ada kemiripannya adalah ritual awal dan adanya serangkaian tari-tarian yang selanjutnya diteruskan dengan cerita. Nampaknya dalam Sandur Manduro, yang mendapat penekanan adalah aspek kesastraan yakni serangkaian cerita-cerita tersebut, bukan aspek akrobatiknya.

Catatan kedua yakni bertalian dengan pendialogan cerita. Dalam pertunjukan Sandur Mandura cerita disampaikan dengan menggunakan bahasa campuran, yakni bahasa Madura dan Jawa. Penggunaan bahasa Jawa yang dimaksud adalah mengacu pada penggunaan bahasa Jawa Timuran. Percakapan tersebut menggunakan dialek Jombangan (kadang dialek suroboyoan), yang khas dan unik, sedangkan bahasa Madura kemunculannya terdapat dalam lirik lagu yang dinyanyikan ketika giro dan transisi antaradegan cerita. Pemakaian kedua bahasa ini tidak bersifat ketat. Bila penontonnya kebanyakan dari etnik Madura, maka bahasa Madura-lah yang paling dominan dalam percakapan; sebaliknya, bila penontonnya kebanyakan dari masyarakat etnik Jawa, maka bahasa Jawa-lah yang mendapat porsi yang cukup besar. Sedangkan dalam Sandur Nganjuk, Bojonegoro, dan Tuban tidak ada pendialogan antartokoh karena penonjolannya dalam hal gerak dan akrobatik.

Keberadaan puisi rakyat, yakni parikan sesindiran, banyak bermunculan dalam pertunjukan Sandur Manduro, baik lewat dialog maupun lirik-lirik lagu, sedangkan dalam pertunjukan Sandur Tuban, Bojonegoro, dan Nganjuk tidak menguat aspek peparikannya.

Ketiga, dari aspek tatarias, pertunjukan Sandur Manduro kebanyakan menggunakan kedok. Oleh kerana itu pertunjukan Sandur Manduro juga dapat disebut dengan pertunjukan Topeng Sandur Manduro. Kedok yang terdapat dalam pertunjukan Sandur Manduro dibedakan dua jenis, yakni kedok binatang dan kedok wajah tokoh manusia. Pewarnaan yang mendominasi kedok Manduro yaitu warna hitam, merah, dan putih. Warna-warna tersebut merupakan pencerminan dari karakter etnis Madura. Sementara penggunaan kedok untuk pertunjukan Sandur-nya wong Nganjuk, Bojonegoro, dan Tuban bukannya sesuatu yang ditonjolkan.

Adapun catatan keempat yaitu bertalian dengan aspek tari. Keragaman dan kekayaan gerak tari dalam Sandur Manduro sangat sederhana, namun dibalik kesederhaan tersebut memiliki kekuatan spiritual yang dasyat. Meskipun gerakannya terbilang sederhana, namun terpancar akan roh/spirit pertunjukannya. Kesederhanaan ragam gerak tari ini dimungkinkan lantaran masyarakat Manduro sebagai pemilik kesenian tersebut mendiami wilayah yang terisolir dari keramaian, — meski sekarang lama kelamaan Manduro tidak terisolasi lagi.

Pendeknya, sebagai sebuah bentuk kesenian, Sandur Manduro mempunyai karakter yang berbeda dengan bentuk Sandur yang berkembang di daerah lain. Maka, sudah selayaknya bila Sandur Mandura menarik untuk disandingbandingkan.

Sebuah Cermin yang Berdebu dan Retak

Sebagai sebuah kesenian rakyat, dewasa ini Sandur mulai menipis penggemarnya di kalangan masyarakat Jombang. Usaha untuk menyelematkan keberadaan Sandur perlu untuk segera dilakukan dan tidak dapat dilakukan secara serabutan/ serampangan. Artinya, penyelamatan kesenian Sandur musti harus dijauhkan dari sebuah acuan yang berdasarkan gejala-gejala yang nampak di permukaan semata, tetapi musti dilakukan berdasar pada pemahaman atas hal-hal yang mendasar yang menyebabkan kemunduran dari kesenian Sandur tersebut.

Sandur dihadapkan adanya beberapa tantangan akibat perkembangan teknologi komunikasi dan perubahan sistem sosial/nilai yang berkembang di tengah masyarakat Manduro dan masyarakat Jombang pada umumnya.

a. Tentang Perubahan Teknologi Komunikasi

Hasil penemuan teknologi komunikasi di Barat terus saja menyerbu ke dalam masyarakat Jombang. Sejak tahun 1960-an, masyarakat kita telah banyak memiliki radio transistor. Semakin lama teknologi komunikasdi ini semakin banyak dan semakin menyempurnakan dirinya dengan sesuatu yang lebih canggih lagi. Maka, teknologi komunikasi tidak hanya melayani kepuasan secara audio semata, melainkan sistem teknologi yang melayani unsur audio-visual mulai merambah dan menggoda masyarakat pada umumnya. Hal ini membuat orang secara berangsur-angsur mulai surut untuk menyaksikan sebuah pertunjukan yang digelar secara langsung. Masyarakat lebih memilih mendengarkan atau menyaksikan pertunjukan via radio atau televisi karena lebih santai dan terjamin akan keamanannya, seperti: hujan maupun bentuk-bentuk kejahatan. Hal ini selanjutnya membuat orang malas meninggalkan rumah dan menjadikan turunnya daya apresiasi masyarakat untuk menyaksikan secara langsung.

Perkembangan teknologi komunikasi ini tidak hanya bertalian dengan masalah bentuk yang dua dimensi saja, melainkan juga bertalian dengan cara/strategi keproduksian. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih hal ini menjadikan pola-pola produksi kesenian yang ditayangkan sangat memperhatikan prinsip efisiensi, baik efisiensi harga maupun waktu, kerana hal ini ada urusannya dengan keuntungan yang musti harus dapat diraihnya. Maka tak ayal bila selanjutnya peralatan komunikasi diproduksi secara mudah, masal, dan berharga murah. Jumlah televisi yang dimiliki oleh masyarakat pun semakin banyak. Kaset video berhasil memasuki rumah-rumah warga masyarakat lapisan menengah, jumlah bioskop di kota semakin banyak,-meskipun sekarang mulai menyusut lantaran ada “bioskop alternatif”.

Perkembangan teknologi ini tidak hanya berhasil mengantarkan secara langsung bentuk-bentuk seni tradisi secara langsung ke rumah-rumah, melainkan juga menawarkan bentuk-bentuk produksi alternatif, seperti musik pop, rock, jazz, sinetron, film-film laga, kuis, dan sebagainya. Maka, ini membuat kuping dan mata masyarakat terbagi. Masyarakat tidak lagi dapat secara total menghayati salah satu bentuk kesenian tradisi. Perkembangan tontonan alternatif ini terlihat di Jombang, misalnya keberadaan Gedung Pertemuan Jombang. Dulunya gedung ini menjadi ruang alternatif untuk pertunjukan Ludruk, teater tradisional, serta ketoprak, menjadi tergusur menjadi gedung film dan selanjutnya berubah menjadi gedun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Terbaginya masyarakat dengan berbagai macam tontonan yang senantiasa mengikuti alur gerak jaman dan tuntutan masyarakat pada akhirnya masyarakat itu sendiri meninggalkan kesenian tradisi yang sejak dulu dari itu ke itu saja, tanpa adanya penyesuaian tuntutan zaman.

Hubungan antara seni tradisi dan perkembangan ini teknologi komunikasi ini kami katakan seperti hamburger yang menggeser godoh telo.

b. Perubahan Sistem Sosial dan Nilai

Arus globalisasi tidak dapat dibendung oleh masyarakat kita kerana sudah menjadi sunatullah. Keterbukaan masyarakat tidak hanya sebatas terhadap masuknya sistem komunikasi modern, tetapi juga terhadap berbagai bentuk peradaban modern. Maka tak ayal bila masyarakat dipaksa membuka dirinya terhadap modal asing, mencoba menerapkan sistem perekonomian modern, mencoba mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan / teknologi, mencoba memberikan penguatan terhadap prinsip-prinsip humaniora, menerapkan birokrasi dan administrasi yang modern, membangun sebuah negara yang demokratis dengan menjunjung HAM, dan sebagainya. Hal ini membuat masyarakat mengalami keterkejutan kontemporer dalam hidup bernegara dan bermasyarakat kerana masyarakat belumlah siap untuk menerima semuanya itu dan sebelumnya kita tidak memiliki strategi kebudayaan yang jelas dalam mengantisipasi persoalan-persoalan yang muncul di kemudian kelak. Meskipun demikian, segala sesuatunya musti dipaksakan karena kebudayaan terus saja menggelinding bagai bola salju yang amat deras.

Sebenarnya, masyarakaat kita (terutama masyarakat Jawa) sejak adanya Tanam Paksa yang diterapkan oleh Belanda, tidak mempunyai system social yang ketat. Penerapan system mata uang dan system pendidikan memberikan peluang yang besar bagi mobilitas sosial dan membuka peluang untuk menghancurkan lapisan sosial kelas atas. Tentu ini melahirkan sebuah kecemasan, seperti yang terekam dalam puisi-puisinya Ronggowarsito yang waktu itu menghadapi kemungkinan lepasnya pengayoman kerajaan atas para seniman. Kencenderungan ini semakin diperparah dengan adanya Jepang menggilas kebudayaan Nusantara melalui penjajahannya. Pendeknya saat itu system social seakan terkocok-kocok sedemikian rupa sehingga struktur sosial menjadi seolah-olah menjadi jungkir balik. Pendudukan Jepang berorientasi pada kekuatan di pedesaan yang selanjutnya memberikan peluang kepada kaum alim ulama untuk tampil ke permukaan dan sebaliknya menekan para priyayi dan abangan ke lapisan yang paling “rendah”.

Tentu saja system social yang seperti ini semakin jelas ketika usai kemerdekaan. Waktu itu secara resmi masyarakat memaklumkan dirinya sebagai masyarakat yang egaliter. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat dijanjikan mempunyai hak yang sama untuk tampil ke permukaan system sosial yang ada. Jika pada saat pendudukan Belanda hanya segelintir orang yang diperkenankan mengenyam pendidikan yang lebih beruntung, pada zaman Jepang seluruh lapisan masyarakat diberi kesempatan bersekolah dengan sebagaimana mana mestinya mereka mempunyai hak untuk mengenyam pendidikan. Pada zaman Orde Baru, kecenderungan sepereti ini semakin kentara dan bertambah. Adanya kenyataan ini oleh Sedyawati (1982:2) dikatakan sebagai “dinding antar golongan telah berpintu tembus”. Keadaan seperti ini selanjutnya memberikan peluang yang lebih besar bagi nilai-nilai kesenian untuk saling bertungkar tangkap. Seni komersial yang notabene diuanggap rendah dapat bertukar nilai pada kesenian rakyat atawa kesenian keraton yang adiluhung.

Adanya penerimaan berbagai bentuk kesenian Barat, termasuk system komunikasinya yang modern, mengakibatkan terjadinya perubahan sistem nilai yang ebih mendasar. Demokrasi yang membuka peluang bagi setiap individu untuk memobilisasi dirinya melahirkan kesadaran masyarakat pada eksisitensi pribadi sebagai dunia yang otonom. Ilmu pengetahuan dan teknologi membuat masyarakat bergerak dari dunia ide ke dunia empirik dan hal yang terakhir masyarakat menjadi lebih realistis, selalu mempertanyakan ruang dan waktu yang dialami atau yang dapat dibuktikan. Faktor tersebut menjadikan novel sebagai salah satu bentuk sastra modern terjebak pada realisme formal. Menurut Watt dalam Kayam, sastra modern cenderung menampilkan tokoh psikologis sebagai suatu unsure kehidupan yang paling konkrit dan juga latar yang tidak berada di dunia antah berantah. Dalam dunia pertunjukan cerita-cerita sudah mengalami penyesuaian diri pada hal-hal yang lebih realistis. Pertunjukan Ludruk tidak hanya berkutat pada cerita Sarip Tambakoso yang bisa hidup dari mati lantaran teriakan ibunya.

Selain menumbuhkembangkan orientasi masyarakat pada sesuatu yang berbau relaistis, peradaban modern juga membuahkan tuntutan budaya efisiensi, efektivitas, dan kebaruan. Tentu saja prinsip itu lahir lantaran system perekonomian Barat, terutama dengan prinsip time is money. Maka pertunjukan rakyat mengalami penyesuaian terhadap nilai-nilai yang berlaku. Simak saja Ludruk yang mulai menyempitkan waktu pertunjukan, menyempitkan pemainnya, menyempitkan ceritanya, dan disiartayangkan via pesawat televisi. Bagaimana dengan Sandur? Sandur masih saja seperti dulu, alami, inefisiensi, boros waktu, dan tetap statis dalam aspek cerita. Maka, jangan disalahkan bila Sandur tak dikenal oleh masyarakat Jombang umumnya lantaran masyarakat tak memberi ruang ekspresi terhadap keberadaannya lantara pula di masyarakat sudah terjadi perubahan nilai yang diyakininya.

Menyikapi persoalan-persoalan tersebut di atas maka ada beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan, terutama untuk menjaga dan mengawetkan Sandur. Beberapa kemungkinan itu, meliputi: pertama mengupayakan Sandur menjadi milik masyarakat empunya. Maksudnya, bagaimana kesenian ini dapat kita saksikan sewaktu-waktu di manduro, entah itu berupa proses latihan, pementasan, pelatihan-pelatihan Sandur, ataupun yang lainnya. Tentu ini membutuhkan kerja keras dari semua pihak bagaimana mengagitasi masyarakat agar mempunyai kesadaran kepemilikan terhadap Sandur. Oleh karena itu diperlukan pendampingan-pendampingan yang dapat dilakukan oleh pejabat public, lembaga swadaya masyarakat yang berkompeten, para seniman/budayawan, serta networker kesenian. Kegiatan pendampingan ini akan berlangsung dengan efektif jikalau menggunakan strategi kebudayaan yang tepat untuk menggedor kesadaran masyarakat Manduro. Institusi pendidikan di Manduro (baca: SD) sebagai salah satu rumah pemberdayaan kuncup-kuncup harapan bangsa perlu mendapat sorongan untuk memberikan mata pelajaran Sandur melalui kegiatan kurikuler yang diberikan pada saat pengajaran apresiasi sastra dan muatan local dan ekstrakurikuler yang dilaksanakan pada sore hari dengan sebuah metode yang strategis. Bila di Manduro, sandur telah mampu menjadi institusi public bagi masyarakatnya maka pada gilirannya kelak akan mampu ”menyedot” perhatian public masyarakat di luar daerah Manduro ataupun kota-kota lain. Tentu saja hal ini musti dibarengi dengan publisitas yang cantik.

Kedua, bertalian dengan hal pertama di atas perlu dibarengi pula adanya upaya menjadikan Sandur tetap kontekstual dengan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat, tanpa mengubah spirit dan roh dari kesenian tersebut. Ada beberapa hal yang menurut hemat kami dapat dipertimbangkan agar Sandur tetap aktuil di tengah masyarakat yang mengalami pergesern nilai budaya. Beberapa hal tersebut, meliputi: (a) aktualisasi, (b) modifikasi/revitalisasi, dan (c) proses adopsi.

Bila Masyarakat Manduro Dapat Bernyanyi

Kami sangat memimpikan bila masyarakat masih dapat bernyanyi. Tentang Alam. Tentang Cinta. Tentang kasih. Tentang keluh kesah. Tentang berkelojotannya hati yang duka, nestapa, pilu, dan gundah gulana. Serta segala apa yang dirasa dan dihayatinya. Sungguh. Kami pingin masyarakat di sana berdaya dalam segala hal kerana soalnya kesenian mampu menjadi institusi pendidikan alternatif bagi semuanya.

Sungguh elok bila masyarakat di sana tercukupi atas ekonominya. Tercukupi atas kesejahteraannya. Tercukupi kelaikannya. Tercukupi atas kemapanannya. Tercukupi akan spiritualnya dan itu tak harus terjawab melalui pembangunan fisik semata, melainkan pembangunan nonfisik yang juga mendapat tempat secara seimbang dan tidak pilih kasih. Pemberdayaan akan potensi kesenian juga penting untuk memberikan sinergi atas pembangunan di bidang lain.

Sungguh. Kami ingin Manduro tidak dikenal di tataran sekeliling tetangga kampung, namun Manduro mampu menelusup ke hati masyarakat di kota-kota lain. Di propinsi lain. Di negara lain. Sungguh dan moga-moga saja!

Imam Ghozali

Jalan Teratai I/36 Jombang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: