Peny Priyono, Seniman Tari di Kota Probolinggo

Dari Penggila Sepakbola sampai Penari

Pak Pri. Begitu pria bernama lengkap Peny Priyono ini biasa disapa. Di sempalan jagad seni di Kota Probolinggo, nama itu terdengar ampuh. Membicarakan tari di kota mangga ini sama saja membicarakan pimpinan sanggar tari Bayu Kencana tersebut.

Peny Priyono sebenarnya adalah lare osing, arek Banyuwangi. Dia asli dari Kampung Sepuluh, Desa Kendarjo, Kecamatan Tegal Delimo, Kabupaten Banyuwangi.

Di usia belasan, Pri tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia tinggal bersama neneknya, Mbah Sumo Kadam, di Tegal Delimo. Sedangkan kedua orang tuanya berdagang dan menetap di Sanglah, Bali. Untuk biaya sekolah, Pri mengandalkan kiriman dari orang tuanya. Kalau telat sedikit saja, pasti keteteran urusan sekolahnya.

Tapi, Pri berhasil lulus dari SMP 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Saat itu minatnya pada olahraga sangat menggebu-gebu. Sepak bola menjadi olahraga favoritnya. Dia pun masuk klub bola di desanya.

Lulus SMP, Pri ingin meneruskan di sekolah kejuruan olahraga. Dari gurunya, dia dapat informasi ada sekolah olahraga di Jogjakarta. Berangkatlah dia ke Jogjakarta. Selepas mendaftar, Pri balik ke Banyuwangi. Eh, dia mendapat informasi di SMP-nya bahwa ada Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA) di Probolinggo.

Tanpa pikir panjang lagi, Pri pun berangkat ke Probolinggo. SMOA Probolinggo saat itu ada di komplek pendidikan Achmad Yani di Jl Dr Soetomo. Tahun 1974, Pri mulai masuk Kota Probolinggo. Sekolahnya di SMOA, kosnya di Jl Patiunus Mayangan.

“Bayangan saya, saya itu sudah mampu dan hebat di SMOA. Ternyata, saya tidak ada apa-apanya. Mereka yang sekolah di sana (SMOA) itu anak yang hebat di bidang olahraga. Kemampuan sepak bola saya tidak ada apa-apanya dibandingkan teman-teman,” kenang Pri saat ditemui di kediamannya Jumat (2/1) lalu.

Pri gagal masuk seleksi bidang sepakbola di sekolah itu. Ia pun ganti memilih olahraga voli. Pri jadi pengumpan. Dua tahun duduk di bangku SMOA Pri mendirikan klub voli yang diberi nama Yunior Sport Voli Probolinggo. Waktu itu di tahun 1976 kota ini sudah bergaung dengan voli-nya.

Lulus SMOA, Pri yang sempat berminat jadi seorang tentara KKO -kini bernama Marinir- melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Yang dipilih ialah Sekolah Tinggi Olahraga (STO) di Jl Kawung, Surabaya.

Baru sebulan kuliah di STO, Pri kembali ke Probolinggo. Saat ia datang, teman-temannya pada sibuk melamar jadi PNS (guru). “Teman-teman juga ngajak, ya sudah akhirnya saya ikut coba-coba,” ceritanya.

Keberuntungan berpihak padanya. Pada 1977 Pri diterima menjadi guru di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Baru jadi PNS Pri sudah ditugaskan sebagai guru olahraga di SD Gajahmada (kini SDN Sukabumi II).

Jadi PNS, Pri merasa aneh. Dia sehari-harinya terbiasa tampil cuek, dengan rambut gondrong. Begitu jadi PNS, dia harus berpakaian rapi, termasuk rambut. “Aneh wis pokoke,” tutur Pri sambil menghisap rokok kretek favoritnya.

Pri masih ingat, waktu itu ia masih mendapatkan gaji Rp 8 ribu per bulannya. Kota Probolinggo saat itu dipimpin Wali Kota Harto Haryono, wali kota yang sangat doyan kesenian. Khususnya musik. Grup-grup tenar kala itu macam AKA, Koes Plus, Panbers, Soneta didatangkan ke Kota Probolinggo.

Pri sempat berusaha mengejar cita-citanya jadi tentara. Dia sampai mencukur gundunl rambutnya sebelum daftar ke Surabaya. Tapi, niatannya mendaftar terkubur setelah berkonsultasi dengan neneknya. “Wis to, penak dadi guru ora ono musuhe. Nek TNI kowe perang karo musuh terus,” pesan si Mbah Sumo kepada Pri.

Kembalilah Pri ke “dunianya”. Mengajar sambil menjadi wasit voli. Pada 1978, Pri meningkatkan keilmuannya dengan kuliah di IKIP PGRI Probolinggo. Ini juga ada di kompleks pendidikan Achmad Yani. Pri berhasil meraih gelar sarjana muda untuk jurusan administrasi pendidikan.

Pada 1982, Pri diberi kepercayaan oleh Depdikbud sekolah di STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) di Surabaya jurusan tari. Sejak saat itu Pri mulai mengasah kemampuannya dalam bidang seni tari. Bidang seni yang sebenarnya sudah dia kenal sejak masih SMP. “Di sekolah saya (SMP) dulu saya juga pernah dapat bagian penabuh alat musik angklung mengiringi tari,” katanya mengenang.

Sukses dengan akademisnya, anak pasangan Lilik Suparni dan Winarko ini memutuskan menyunting kekasihnya sejak SMP, Tatik Sunarti. Semenjak menikah Pri kemudian memboyong istrinya dan menetap di Jl Cokroaminoto Gg Kirana. Di sebuah rumah nan asri, Pri tinggal bersama istri dan tiga buah hatinya.

Kecintaan Pri kepada seni tari diwujudkannya dengan mendirikan sanggar tari Bayu Kencana bersama empat temannya. Yakni Subur Hariyono, Ribut Iriyani, Rudianto dan Nur Ikhsan. Empat orang itu plus pihak Depdikbud yang memberi rujukan, menunjuk Pri sebagai pelatih sekaligus pimpinan sanggar tersebut.

“Karya pertama yang dibuat sanggar tari Bayu Kencana itu Kiprah Lengger. Tari yang menggambarkan budaya lengger di kota Probolinggo,” ucap Pri. Butuh waktu sebulan bagi Pri untuk menciptakan tari itu. Untuk inspirasinya, setiap malam Pri harus melihat seni lengger yang ada dan selalu berpindah-pindah tempat di kota ini. Dari Timur Pasar Gotong Royong, pindah ke belakang stasiun kota, lalu hingga saat ini lengger “show” bertempat di Pasar Mangunharjo.

Di mata Pri, lengger adalah satu-satunya kesenian yang ngabdi. Tidak peduli berapa uang yang didapat, tak peduli dengan cemoohan orang tetapi seniman lengger masih tetap menghibur minoritas penontonnya.

Kini di tengah kesibukannya mengasuh sanggar tari Bayu Kencana, sekaligus menjalani profesinya sebagai pengawas TK dan SD pada Dinas Pendidikan kota, Pri punya “kerjaan” baru. Dia didapuk jadi ketua Komunitas Pariwisata (Kopara) kota Probolinggo. Ini sebuah komunitas baru yang ingin menghidupkan pariwisata di kota mangga.

“Kopara ini asale soko omong-omongan ngalor ngidul terus diseriusi. Saya jadi ini asline ketua tudingan. Akhirnya bisa membuat even Kobuda (kontes busana daun) kemarin,” ungkap Pri sambil tertawa.

Baginya, antara sanggar tari yang diasuhnya dengan Kopara tidak bisa dipisahkan. Karena mereka yang ada di sanggar tari juga menjadi bagian dari Kopara. “Kopara tempat menuangkan ide demi pariwisata di kota ini,” tutur Pri. (*)

Radar Bromo, Senin, 05 Januari 2009

One Response

  1. bangga punyaa bapak kyakk pak.priyono…🙂
    semangatt bapakk. . .
    harumkan teruss kota tercintaa. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: