Ki Mudho Juwito, Dalang Gendeng dari Bangorejo, Banyuwangi

Misuh dan Joget Agar Akrab dengan Penonton

Nama Ki Mudho Juwito, 38, sudah tidak asing bagi para pecinta wayang kulit di Bumi Blambangan. Dalang asal Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo ini dikenal sebagai dalang gendeng. Gaya urakan dengan kata-kata kotor serta jogetan sering dilakukan saat menggelar pementasan wayang kulit.

AGUS BAIHAQI, Banyuwangi

Ki Mudho Juwito adalah salah satu deretan dalang yang akhir-akhir ini lagi ngetop di Banyuwangi. Saking ngetopnya, sebagian para pecinta wayang kulit menyejajarkan namanya dengan dalang kondang seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto dari Solo, Jawa Tengah, atau dengan almarhum Ki Narto Sabdo asal Jogjakarta.

Setiap pementasan, Ki Mudho Juwito selalu dibanjiri oleh penonton. Meski namanya sudah melambung, dalang yang dikenal cukup urakan dengan rambut gondrong dan telinga penuh tindikan ini, ternyata dikenal cukup ramah. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan tertawa lepas adalah salah satu ciri khasnya. “Orang mau bilang saya ini edan atau gendeng, monggo mawon (Silakan saja). Saya orangnya memang seperti ini,” ujarnya saat ditemui di rumahnya yang persis di depan kantor Desa Sukorejo.

Bukan hanya ramah, dalang yang mengaku memiliki lima anak dari lima kali perkawinannya itu, ternyata juga enak untuk diajak ngobrol. Masalah hidup dan kehidupan, seolah cukup menguasai. Semua bisa dikupas dengan penuh filosofi. “Dalang itu piwulang (pelajaran), wayang kulit memiliki nilai kehidupan yang tinggi,” katanya.

Perjalanan hidup Ki Mudho Juwito ternyata penuh dengan lika-liku. Putera Ki Suwito dan Kholimah ini, kali pertama mengenal wayang kulit dari orang tuanya yang juga seniman wayang. “Uripku iki rekoso (Hidupku dulu sengsara). Saya SD hingga SMA ikut ibu di Sumatera,” ujarnya.

Selepas SLTA, Ki Juwito kembali ke tanah leluhurnya yang ada di Desa Sukorejo, Bangorejo. Di tanah Jawa itu, dia mulanya tidak memiliki pekerjaan tetap. “Saya sudah punya istri, tapi tidak punya pekerjaan yang jelas,” kenangnya.

Untuk menghidupi keluarga, Juwito terpaksa menjadi kuli truk materialan. Untuk menyalurkan jiwa seninya, dia ikut kesenian ludruk, ketoprak dan janger yang ada di kampungnya. “Meski bayarannya tidak seberapa, tapi saya bisa puas dan bangga,” tuturnya sambil menerawang.

Selama masa-masa sulit dalam hidupnya itu, Ki Juwito mencoba belajar menjadi dalang pada Ki Hadi Sarjono. Saat itu, dalang yang juga masih pamannya yang tinggal di Kedungagung, Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo dikenal paling ngetop. “Ki Sarjono itu paman yang sekaligus guru saya,” sebutnya.

Dengan kemampuan yang masih terbatas, pada tahun 1994 Ki Juwito mulai menerima tawaran untuk pentas. Mulanya, undangan ini hanya sebatas di lingkungan sekitarnya. “Saat pentas pertama, yang nonton itu sangat sedikit. Saya sedih sekali,” terangnya.

Hingga akhirnya, dia mencoba melakukan kreasi agar bisa diterima oleh masyarakat, terutama kalangan muda yang saat itu enggan untuk melihat wayang kulit. “Saya mencoba mengisi tambahan dengan campursari dan dangdut, ternyata peminatnya banyak,” ungkapnya.

Ki Juwito mengakui, pergelaran wayang kulit dengan melakukan kreasi ini menyimpang dari pakem. Tidak jarang, kritik pedas datang dari para dalang senior, terutama gurunya sendiri yakni Ki Hadi Sarjono. “Kalau dikritik, saya hanya diam saja. Saya juga tidak marah atau dendam,” cetusnya.

Apalagi, jelas dia, yang dilakukan ini termasuk tuntutan pasar yang memang lagi gandrung dengan musik dangdut atau campursari. “Dengan tambahan musik dangdut, kawula muda yang nonton wayang kulit jadi banyak,” dalihnya.

Gaya panggung yang urakan seperti misuh dan jogetan, sebenarnya dilakukan dengan cara terbatas. Semuanya sudah izin dari pihak yang mengundang. Anehnya, justru gayanya ini yang membuat para pecinta wayang kulit banyak mengundang. “Kalau kata-kata kotor dan jogetan, itu ya pas lagi tarung atau debat. Dan ini yang membuat penonton lebih senang dan tertarik,” pungkasnya sambil tertawa.(bay)

Radar Banyuwangi, Minggu, 04 Januari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: