Hampir Seminggu di Rumah Sakit, Baru Ditangani Dokter Spesialis

Hardjono WS, Seniman Kreatif Itu Kini Tergolek Sakit
Di sini tinggal orang-orang yang tak pernah tidur dan mengeluh
Karena putih matanya telah menjadi bianglala
(Hardjono WS)

KHOIRUL INAYAH, Mojosari

SEBAIT syair di atas nyaris tak terpisahkan dengan seniman yang tinggal di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Hardjono WS. Dan, ia benar-benar tidak mengeluh ketika kondisi tubuhnya drop pada Hari Natal lalu dan hingga kini tergolek lemas di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari.

Saat koran ini bertandang ke RSUD bersama networker kebudayaan Abdul Malik kemarin siang, di ruangan tempatnya dirawat, hanya Marwiah Derang istrinya yang setia menunggu. Sesekali diusapnya rambut Hardjono yang sebagian besar telah memutih itu. ”Pa, ada tamu datang,” ujar Marwiah, ujarnya lembut sembari mengecup kening suaminya.

Dua mata yang semula terkatup itu berangsur membuka. Meskipun sudah mulai ada sedikit perubahan, namun tubuh Hardjono masih sangat lemah. Selang infus masih terhubung pada lengan kanannya. ”Apa kabar?” ujarnya dengan terbata ketika koran ini menyapa.

Bagi istrinya, ini sudah menjadi perkembangan yang berarti. Saat dibawa ke RSUD, 25 Desember lalu, tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan, matanya menatap kosong, dan tidak bisa berbicara. ”Biasanya setiap orang yang bertandang, Papa tidak mengenal sebelum saya kasih tahu. Tetapi, terhadap anda, papa langsung mengenalnya. Ini perkembangan yang bagus,” kata wanita asal Bugis tersebut.

Bagi Marwiah, tergoleknya Hardjono di RSUD ini membuyarkan rencana liburannya ke tanah asalnya Bugis yang sudah lama ia tinggalkan. Sebagai suami, Hardjono mengajak istrinya berlibur ke kampung halaman istrinya bersama Bintang anaknya. ”Papa bilang, Ma, nanti kalau novel saya dapat juara kita gunakan berlibur ke Bugis ya,” ujar Marwiah menirukan suaminya.

Namun, kondisi berkata lain. Tepat 25 Desember ia mendapati suaminya tergolek di depan televisi seusai bekerja di depan komputer. Sayangnya, pagi itu, ia belum juga sadar bahwa suaminya dalam kondisi pingsan. ”Pagi itu pukul 06.00 saya lihat papa tidur di depan TV, saya kira ya tidur biasa saja. Waktu saya bangunkan untuk sarapan pagi barulah saya sadar kondisi yang sebenarnya,” kata Marwiah, yang segera membawa suaminya ke RSUD bersama Sukiyat.

Lalu, sakit apa Hardjono WS? Dikatakan istrinya, diduga Hardjono mengalami penyumbatan pada pembuluh darah otak kirinya. Ini yang menyebabkan syaraf motorik Hardjono tidak berfungsi. Sayangnya, diagnosa ini baru bisa ditegakkan kemarin lusa ketika spesialis syaraf datang dari Surabaya. ”Sebelumnya hampir seminggu ditangani dokter umum saja sehingga tidak diketahui penyebab pastinya,” ujar Mbak Wik, panggilan akrab Marwiah. Pihaknya juga sangat menyayangkan keterlambatan penanganan ini. ”Selama di sini, ya baru kemarin dikunjungi dokter spesialis syaraf,” katanya.

Sakit yang menimpa penulis naskah teater anak Layang-Layang ini cukup menyengat para seniman. Secara bergantian, seniman -tidak hanya dari Mojokerto–datang menjenguk. Belasan kawan-kawan dari komunitas seni menyempatkan diri berkunjung.

Antara lain, pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur diwakili Syahlan Husein (sekretaris umum), Meimura (Bendahara), Koesen LD (Padepokan Bumi Pakarti Aji, Pacet), Cak Kadaruslan (Pusura Surabaya) dan istri, Sirikit Syah (Surabaya) dan suami, Harriyadie BS (Sidoarjo), perupa Mojokerto Alfie Fauzie, Nanang, Joni Ramlan, Hadi Sucipto, Samsul Hadi, Agus Widodo, Anik, Bung Gono, Irul, Affandi Abdul Hadi (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto), Eko Edy Susanto (Ludruk Karya Budaya Mojokerto), Cak Supali, Heri Purwanto (caleg Partai Demokrasi Pembaruan Propinsi Jatim), Anang Timoer (Surabaya), M Arif (pekerja teater, Mojokerto), Ribut Sumiyono dan Nanang Moeni (pematung batu Trowulan), komunitas sastra pondok kopi Pacet Dadang Ari Murtono dan Samsul Arifin; sejumlah guru sebuah SMP di Gondang; Markus (pemijat, Mojokerto), Suliadi (penulis puisi, Mojokerto).

Meimura berharap agar Pemkab Mojokerto memperhatikan kondisi Hardjono WS. Sebab, sebagai putra daerah, Hardjono WS telah ikut serta mengharumkan nama daerah ini. Dia pernah mengharumkan nama Indonesia yang mendapatkan penghargaan dunia melalui Unesco bersama 14 pengarang Asia Pacifik mewakili penulis teater anak-anak. Ia satu-satunya pengarang dari Indonesia pada waktu itu. Dan sampai sekarang belum ada satu pun warga Mojokerto yang mendapatkan penghargaan yang sama.

Selain itu, tak terhitung lagi penghargaan baik tingkat regional maupun nasional yang didapatkan sosok yang lahir pada 11 maret 1945 ini. Antara lain, Lembaga Indonesia Amerika lewat Dewan Kesenian Jakarta berupa Award khusus teater, Juara I puisi Jatim versi Dewan Kesenian Surabaya, tiga naskah teater anak-anaknya jadi juara Jatim versi Dewan Kesenian Surabaya, tiga naskah teater anak anak juara nasional versi Dewan Kesenian Jakarta. Naskah televisi juara nasional versi TVRI Surabaya dan masih banyak lagi. (yr)

Radar Mojokerto, Kamis, 01 Januari 2009

2 Responses

  1. Mohon kabar, dimana saya bisa bertemu Bapak Hardjono WS
    alamat dan telp yang bisa sy hub, saya adalah anak didikan beliau saat ikut operette sanggar Kucica bimbingan beliau, mohon kabar ke email saya, terima kasih

    • jawab:
      Hardjono (masih) tinggal di desa Dukuhjati, kec. Gondang, Mojokerto
      Telp: 0812 3153 8634 atau 0321 7277330

      salam
      henri nurcahyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: