Menghidupkan Sastra Jawa

Oleh Beni Setia

Acara Temu Sastra Nasional MPU III di Bandung 4-6 November 2008, duta Jawa Timur diwakili oleh Beni Setia, Lan Fang, Mashuri, dan Mardiluhung. Acara itu menyenangkan, tetapi ada ihwal di luar konteks yang lebih menantangkan yang rasanya lebih pantas buat dibicarakan. Bocoran kalau salah satu wakil Jawa Barat, Nazarudin Ashar, sebagai penulis puisi Sunda, memenangi Hadiah LBSS lagi.

Hadiah LBSS diberikan per 2 tahun untuk karya yang dipublikasikan lepas pada media massa Sunda. Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda (LBSS) merupakan institusi nonpemerintah, semacam LSM yang dibentuk di dekade 1950-an, sebelum institusi itu jadi mode. Institusi itu berfungsi menjadi penjaga kelangsungan bahasa dan sastra Sunda, dan melakukan lobi agar pemda mau ikut memberikan payung hukum untuk mengayomi pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Sunda.

Tidak berjalan mulus, sering kolaps, bahkan pada awalnya roda administrasi dihidupkan oleh iuran anggota dan pemberian hadiah didukung masyarakat dengan membuka sumbangan dompet LBSS di Mangle. Ada perjuangan, sebelum tiba pada keleluasaan mengembangkan program, terutama pemberian hadiah, karena LBSS diakui dan diberi dana legal-konstitusional dari APBD Provinsi Jawa Barat. Hadiah yang lumayan dan merangsang kreativitas sastrawan muda Sunda, dengan kebijaksanaan penjurian: mengutamakan sastrawan muda.

Ada lelucon. Soni Farid Maulana bercerita ia mendapatkan bocoran itu setelah diberi selamat oleh orang dalam LBSS karena mendapatkan Hadiah Bulanan Mangle. Hadiah ini inisiatif perorangan yang menyerahkan duit pada redaksi Mangle untuk diberikan pada sajak, cerpen, dan esai terbaik yang dipublikasaikan di Mangle. Hanya Rp 300.000, tapi itu sudah sepuluh kali lipat dari honor normal. Sementara hadiah pertama LBSS sepuluh kali lipatnya. “Saya kira abdi yang dapat hadiah LBSS,” kata Soni Farid Maulana tertawa.

Banyak kawan yang menganjurkan agar Nazarudin Anshar tak pulang dari acara Temu Sastra Nasional MPU III, menginap saja di GGM Bandung, dan pada Sabtu 8 November 2008 malam menggondol piagam dan uang tunai bersama Sarabunis Mubarok, yang juga merupakan kekuatan sastrawan Sunda dan Indonesia baru yang dibangkitkan oleh SST Tasikmalaya dengan diskusi dan buletin Lingari.

Hadiah

Eksistensi anggota komunitas yang semakin bergairah oleh rangsangan dari luar: iming-iming hadiah bagi karya yang dipublikasikan lepas di media massa . Ada yang institusional resmi, lewat LBSS yang menjalankan dana pemda sesuai dengan proposal yang telah disepakati dan diberikan setiap 2 tahun-selain anugerah seni yang lebih fokus pada pengabdian yang terus-menerus dan diberikan untuk segala corak seni.

Dan ada inisiatif pribadi Uu Rukmana, memilih sebuah media Mangle dengan segala selera serta policy redaksionalnya untuk memilih karya terbaik tiap bulan. Di sini penekanannya lebih pada karya terbaik per bulan. Karenanya, bisa bersifat yang terbaik dari yang baik atau sekadar yang lumayan di antara yang mediocre. Itu tidak penting, yang terutama adalah ada penghargaan yang membuat sastrawan muda Sunda terangsang untuk berkarya.

Lantas apa penghargaan itu karena Uu Rukmana seorang anggota DPRD Provinsi Jawa Barat yang selain cinta bahasa dan sastra Sunda juga instingtif ingin membina massa pendukungnya?

Jawaban itu jadi tak relevan dalam konteks tulisan ini. Yang penting: kenapa tak ada orang Jawa yang merasa terpanggil untuk nguri-nguri bahasa dan sastra Jawa dengan memberi dana dan kepercayaan yang sama pada PS atau JB, misalnya. Apa komunitas Jawa yang mayoritas penduduk Indonesia itu tak menghasilkan manusia berbudaya yang tertarik untuk mendinamisasi sastra Jawa dengan hadiah bulanan?

Ada potensi di masyarakat yang tidak dimobilisasi. Hadiah Rancage, pada awalnya diberikan pada buku sastra Sunda yang diterbitkan per 1 tahun, kemudian melebar ke sastra Jawa dan Bali, terbentuk oleh inisiatif pribadi Ajip Rosidi. Dana pribadi, meski ada dana pihak lain tapi berasal dari proposal lisan individual, dan selera penjurian pribadi Ajip Rosidi. Tapi ia tak berhenti di titik itu, lobi yang terus dipertahankan dan membentuk aliran dana tetap dideporesonalisasi jadi aliran dana ke Yayasan Rancage.

Pertanyaan mendasarnya, bisakah intelektual Jawa melakukan ihwal yang sama, mengingat orang Jawa itu mayoritas dalam jumlah serta beberapa memiliki power untuk memaksa melakukan pembiasaan budaya hirarkis priyayi Mataraman lewat hegemoni bahasa ala Gramsci dengan memaksa arek Surabaya bicara bahasa Jawa keraton, misalnya. Tapi kenapa tak ada yang tergerak untuk memobilisasi potensi dari manusia dan dana yang ada untuk menyejahterakan sastra dan sastrawan Jawa? Atau sastra Jawa yang adiluhung itu, dengan teks mistik semacam Serat Wulangreh, yang erotik kayak Serat Centini atau Gato Loco, misalnya, tidak melahirkan sikap agresif nguri-nguri yang tak melulu tranced mengusap aura filologis teks masa lalu, tapi juga teks mutakhir masa kini? Piye iki?

BENI SETIA Budayawan Tinggal di Caruban

(Kompas edisi Jawa Timur, Jumat, 28 November 2008 | 14:52 WIB )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: