Sehari-Semalam, 12 Dalang Tampil

Festival Dalang 2008 di Taman Budaya Jatim

dalang1SURABAYA – Festival Dalang 2008 di Pendapa Taman Budaya Jawa Timur kemarin ditandai dengan penampilan 12 dalang sekaligus. Mereka mendalang 16 jam nonstop mulai pukul 10.00 hingga pukul 02.00 dini hari tadi. Yang menarik, mereka tampil dengan lakon sendiri-sendiri.

Dalam penampilannya, para dalang Surabaya itu diiringi empat sinden dan 15 pengrawit. Setiap dalang diberi kesempatan membawakan cerita selama 56 menit.

”Di Surabaya kini terdapat 30 dalang dan kebanyakan masih muda. Bakat mereka perlu dipupuk karena telah melestarikan seni tradisional Jawa itu” ujar ketua panitia Ir Maulisa Nusiara.

Lomba dalang yang diselenggarakan Dinas Budaya daas Budaya dan Pariwisata Surabaya itu merupakan kali ketigatuFestival ter diharapkan bisa merangsang para dalang maupun calon dalang untuk berlomba menintkan kemampuan. Terbukti, di antara peserta, ada yang memang menjadikan dalang sebagai profesi.dhosutedjo, 40, dalang yang cukup laris. Dalam penampilannya kemarin, dia membawakan lakon berjudul Sumantri Ngenger (pengabdian Sumantri).

”Cerita ini saya pilih karena pesannya bagus. Kita diajari untuk tidak sombong. Di atas langit masih ada langit,” terang Ki Tedjo, panggilan dalang Tionghoa itu.

Menurut Ki Tedjo, lakon Sumantri Ngenger tidak membutuhkan banyak wayang. ”Dua puluh dua wayang saja, cukup. Tidak terlalu kompleks. Apalagi waktu yang disediakan juga terbatas,” jelasnya.

Dalang Termuda Dalang termuda yang mengikuti festival ini adalah Hery Sadewo, 29. Hery sehari-hari bekerja sebagai karyawan sebuah hotel di Surabaya. Dia memainkan cerita berjudul Palguno Palgunadi. ”Saya sangat menyenangi seni wayang kulit. Kedua orang tua saya dulu juga dalang,” tuturnya.

Dalam festival itu Hery juga ”bersaing” dengan kakak kandungnya, Bambang Dwi Sumanto, 36. Tapi, Hery tidak merasa canggung meski melawan kakaknya. ”Yang penting, wayang harus tetap lestari,” ujarnya.

Performa para peserta itu dinilai dewan juri yang terdiri atas Djumiran Ranto Admodjo, Surono SSn MSi, dan Drs Subroto. Juri akan memilih penyaji terbaik 1-6 yang memenuhi kriteria penampilan, komunikasi, dan respons dengan penonton, orisinalitas garapan, kualitas bahasa, kualitas garap sabet, serta kualitas iringan pakeliran (iringan gamelan). Peserta yang memiliki komposisi musik terbaru bisa menjadi nilai tambah. (jan/ari)

Jawa Pos, Kamis, 27 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: