Gelar Festival Jaran Bodag

Di Daerah Lain Masih Digandrungi
PROBOLINGGO – Ada banyak upaya melestarikan kesenian tradisional daerah. Misalnya yang seperti yang dilakukan Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kota Probolinggo. Kemarin (26/11), mereka menggelar festival kesenian tradisional jaran bodag.

Festival itu digelar di lapangan Wonoasih sekira pukul 09.00. Sebanyak 14 peserta telah mendaftarkan diri kepada panitia. Sejak awal para peserta sudah bersiap-siap untuk tampil dan memberikan yang terbaik agar menjadi pemenang.

Dengan mengenakan perlengkapan seni jaran bodag, para peserta yang berasal dari Kota Probolinggo itu menunggu satu persatu giliran untuk tampil. Dalam satu tim yang maju sebanyak empat orang. Dua orang di dalam jaran bodag, dua orang bertugas sebagai pengisi acara.

“Jaran bodag ini terkenal dengan arak-arakannya. Tetapi di festival ini peserta harus menyampaikan pesan-pesannya melalui lagu atau teaterikal yang dikemas dalam pertunjukkan,” ungkap Sufandi, Kasi Pemberdayaan dan Kerjasama Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata.

Menurut Sufandi, jaran bodag merupakan salah satu kesenian tradisional yang biasa ditanggap oleh masyarakat ketika menggelar pernikahan atau manten sunat. Jaran bodag adalah termasuk jenis seni pertunjukan seperti tari re re re, terbangan, jaran kencak dan macan-macanan.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan seni jaran bodag semakin terkikis dan tidak terdengar lagi gaungnya. Nah, untuk melestarikan budaya asal Kota Probolinggo itu maka pemerintah melalui satuan kerjanya menggelar festival jaran bodag.

“Sebenarnya kesenian ini masih ada, cuma penggemarnya sedikit seiring majunya perkembangan zaman. Tetapi, di lain daerah kesenian ini masih digandrungi oleh masyarakat banyak. Misalnya di daerah Kabupaten Probolinggo,” ungkap Sufandi saat ditemui di tengah acara festival.

Dari 14 peserta yang mendaftar, panitia hanya akan memilih lima besar dengan nilai tertinggi. Kriteria penilaian itu meliputi irama, gaya, nada, penampilan dan keserasian. “Jika peserta ingin membawa pemain penabuh alat musik sendiri ya tidak apa-apa. Tetapi kami menyediakan,” imbuh pria bertopi ala sutradara dan seniman itu.

Harapan yang muncul dari penyelenggaraan festival jaran bodag ini, pemerintah ingin kesenian tersebut dapat lestari dan para seniman bisa berkreasi dengan seni yang diminati. “Semoga nantinya dapat berkembang. Untuk penyerahan hadiahnya kami lakukan pada saat acara pameran di Giant minggu depan,” ucap Sufandi. (fa)

Radar Bromo, Kamis, 27 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: