Boneka Kathok; Kesenian Asli Bondowoso yang Punah Tergerus Zaman

Tampil Pamungkas di Surabaya Tanda Perpisahan

Kesenian ini disebut-sebut asli made in Bondowoso. Sempat diberangus Jepang kala itu, namun akhirnya mencapai popularitas dan sering dapat order pentas pada akhir tahun 90-an. Namanya seni Boneka Kathok.

EKO SAPUTRO, Bondowoso

————-

NASIBNYA mungkin seperti ludruk. Dulu, setiap ada pertunjukkan ludruk, masyarakat berbondong-bondong menonton. Sekarang, sudah jarang ditemui orang yang nanggap ludruk bila punya hajatan. Ludruk pun seolah lenyap begitu saja.

Nasib kesenian Boneka Kathok yang asli Bondowoso ini juga seperti itu. Kini, jangankan orang nanggap pertunjukan Boneka Kathok, apa itu Boneka Kathok saja mungkin tidak banyak yang tahu. Akibatnya, onggokan boneka-boneka yang mirip wayang golek itu hanya tersimpan rapi di kotak.

Seni tradisi Boneka Kathok lahir setelah masa penjajahan Jepang berakhir. Dan, kelahirannya tidak bisa dilepaskan dari sosok Ramidin. Saat itu, salah satu pelopor lahirnya Boneka Kathok memang Ramidin, kini berusia 72 tahun. Meski tentara Jepang melarang keras kesenian tersebut, Namun, Ramidin Cs tetap saja menghibur warga Bondowoso dan sekitarnya dengan kesenian itu.

Ditemui di rumahnya yang sederhana di Gang Malabar Jl Diponegoro, Kota Kulon, Bondowoso, Ramidin bersama istrinya, Rukiah, 67, serta anak-anaknya masih bersemangat mengenang kesenian ini. Ramidin tampak semringah. Ia pun pamit untuk berganti baju. Lalu, ia mengeluarkan sekotak peti kayu berisi puluhan Boneka Kathok. “Boneka-boneka Kathok ini masih utuh. Kami membuatnya puluhan tahun lalu,” katanya.

Mengapa diberi nama kathok yang artinya celana? Ramidin mengaku tidak tahu persis. Mungkin, nama kathok itu muncul begitu saja karena sebagian bahan boneka ini terbuat dari kain.

Ramidin bercerita, pelopor kesenian Boneka Kathok sebenarnya adalah Arji, warga Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami. Dan, dia sendiri tangan kanan dari Arji. Juga ada puluhan anggota lainnya. “Tetapi, Pak Arji sudah lama meninggal dunia. Tinggal saya dan beberapa anggota yang meneruskan seni Boneka Kathok ini,” ujarnya.

Dia pun bercerita, pada saat pendudukan tentara Jepang, segala bentuk kesenian seperti ludruk diberangus. Namun, setelah Jepang angkat kaki, Ramidin Cs membuat kesenian Boneka Kathok. “Itu kami buat sekitar tahun 1947 atau 1948,” ujarnya sambil menerangkan bahwa tentara Jepang pernah mengejar-ngejarnya karena seni Boneka Kathok yang dipopulerkannya pada masyarakat Bondowoso.

Seiring dengan berjalannya sang waktu pasca kemerdekaan bangsa Indonesia, seni Boneka Kathok mendapat tempat di hati warga Bondowoso juga warga Jember dan Probolinggo. “Pada tahun 1950-an, banyak sekali undangan tanggapan Boneka Kathok ini. Saat itu, kami dibayar sebesar Rp 10 (sepuluh rupiah, Red). Dan uang itu kami bagi-bagi ke para anggota,” katanya.

Dan dari tahun ke tahun, seni Boneka Kathok ini terus memperoleh kejayaannya. “Kami bisa makan dari hasil tanggapan Boneka Kathok ini,” katanya sambil menyatakan biaya tanggapan semakin lama semakin besar seiring naiknya kurs rupiah.

Puncaknya terjadi pada 1990-an. Kalau ada acara pengantin atau sunatan, kelompok seninya sering diundang menghibur para undangan. “Sampai kami pernah menolak-nolak. Karena, jadwal yang padat,” katanya.

Kini, seiring kemajuan teknologi, seni Boneka Kathok mulai ditinggal masyarakat. Bahkan, bisa dikatakan hampir punah atau punah sama sekali. “Terakhir, Boneka Kathok ini tampil di Balai Pemuda Surabaya pada 2006. Saat itu, kesenian yang ditampilkan adalah seni tradisi yang hampir punah,” katanya.

Tentang isi cerita Boneka Kathok ini, Ramidin menceritakan tentang cerita rakyat. Namun dibumbui humor. “Kebanyakan, yang menyukai cerita ini adalah anak-anak,” katanya. (*)

Radar Jember, Rabu, 26 November 2008

One Response

  1. paman ku juga senang dengan boneka khatok dan sekarang masih terus di simpan di almarinya, tiap seminggu sekali diadain pementasan dari kelas ke kelas di Taman kanak kanak At-Taqwa Bondowoso. semoga Boneka kathok tidak ikut tergilas perkembangan zaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: