Kolaborasi Budaya Tutup Festival Panji

Dihadiri Seniman Dunia dan Kota-Kota di Indonesia

img_0249MOJOKERTO – Penampilan teatrikal kolaborasi para seniman dari berbagai kota menandai penutupan Festival Budaya Panji Internasional ke-2 yang digelar di Petirtaan Jolotundo Trawas kemarin. Para seniman ini mengkritik melalui sosok Panji yang diidentikkan dengan kondisi seorang pemimpin saat ini.

Beberapa orang tampak membingkai wajahnya dengan topeng. Uniknya, semua topeng tersebut tidak satupun yang menggambarkan wajah lengkap. Misalnya, ada topeng yang tidak memiliki mulut, hidung atau mata secara sempurna. ”Kita menyebutnya ini Teatrikal Panji Remeng,” ujar Hari Lentho.

Disebut remeng yang dalam bahasa Jawanya berarti samar karena wajah para pemain teater ini masih samar. Tidak jelas pancaindra yang menjadi pemanis wajah mereka. Sengaja dibuat remeng sebagai bentuk kritik sosial terhadap para pemimpin bangsa Indonesia yang masih samar keberpihakannya. ”Mereka remeng-remeng matanya, karena tidak tahu penglihatannya apakah untuk kepentingan rakyat ataukah tidak. Demikian juga panca indra yang lain,” katanya menjelaskan.

Dalam aksi tersebut, sosok Panji juga mendapatkan godaan dari para perempuan. Dan Panji ini dengan mudah tergoda. Panji dalam aksi kemarin digambarkan sebagai sosok yang rapuh, muda dirayu dan gampang sakit.

Dipilihnya tema kritik untuk para pemimpin ini, kata Hari Lentho, karena sosok Panji sendiri berasal dari bangsawan. Raden Panji dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, sedang Dewi Sekartaji sebagai titisan dari Dewi Sri. Di Jawa dan Bali Dewi Sri dihormati sebagai Dewi Padi dan kesuburan sawah. Banyak ritual dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi Dewi Sri yang erat dengan cerita tentang Candrakirana. Penyatuan Panji dan Sekartaji, sebagai bentuk penyatuan pria dan wanita yang menghasilkan kesuburan atau keturunan, dijadikan simbol kesuburan padi.

Cerita Panji-seseorang pemimpin yang gagah, bijak, sederhana, mengasihi sesama, dan baik budi; menyampaikan teknik pertanian organik yang selaras dengan alam serta nilai penghargaan terhadap lingkungan. Maka, kesenian budaya Panji adalah cara yang tepat untuk menambahkan pengetahuan dan pemahaman karena mengandung banyak muatan pendidikan lingkungan hidup.

Sebelum puncak acara teatrikal ini, para seniman dari Pulau Dewata Bali juga menggelar ritualnya di Candi Jolotundo ini. Dengan dipimpin seorang pedada, ritual ini berjalan lancar sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas berkahnya selama ini.

Puncak acara ini juga dihadiri warga dunia lainnya. Seperti dari dari Jepang, Jerman, Prancis, Australia dan lainnya. Sedangkan, seniman dari dalam negeri antara lain dari Sunda, Jawa Tengah, Malang dan Jakarta.

Salah satu mahasiswa dari Jepang, Jasmin yang menyaksikan atraksi ini mengaku kagum dengan kekayaan budaya di negeri ini. ”Ini kolaborasi budaya yang sungguh bagus,” ujar perempuan cantik ini dalam Bahasa Indonesia yang terbata-bata. (in/yr)

Radar Mojokerto, Jum’at, 21 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: