Usaha Suster Windi Bangkitkan Musik Keroncong di Surabaya

Sr Windi bersama siswa SMP Santa Maria yang menekuni ekskul keroncong. SANDHI NURHARTANTO/RADAR SURABAYA

CITA-CITA LUHUR: Sr Windi bersama siswa SMP Santa Maria yang menekuni ekskul keroncong. SANDHI NURHARTANTO/RADAR SURABAYA

Rangkul Seniman Jalanan, Jadikan Ekskul di Sekolah

Mendengar musik keroncong, yang ada di benak adalah musik ABG (angkatan babe guwe) alias musik zaman dulu (jadul). Tapi ini tidak bagi Sr (suster) Windi. Di tengah kesunyian para penggemar dan pemain musik keroncong di Surabaya, dia berusaha membangkitkannya dengan segala kemampuan

RATNO DWI SANTO

untukratno@gmail.com

NATAN, siswa kelas 9 SMP Santa Maria semula dikenal sebagai pembetot bass. Memamerkan kemampuan di atas panggung saat ngeband bersama rekannya, menjadi kepuasan tersendiri bagi ABG ini. Bisa ditebak, sebelumnya di kepala Natan tak terbesit sedikitpun keinginan untuk bermain keroncong.

“Terus terang, musik keroncong tak pernah saya dengar sebelumnya. Karena saya nilai sudah kuno,” kata Natan tentang musik tersebut. Tapi kemarin, remaja berkacamata itu menjadi bagian dari kelompok musik keroncong SMP Santa Maria. Dia kebagian membetot cello. “Ternyata asyik-asyik aja, dan tak jauh beda dengan memainkan bass,” ucap Natan.

Cello adalah semacam gitar besar yang dalam musik keroncong dibetot, tidak digesek dengan stick. Ada juga cuk yang layaknya okulele dan menjadi ciri khas musik keroncong. “Bunyi dari dua alat ini yang saya rasa membedakan (keroncong) dengan musik-musik lainnya,” terang Sr Windi.

Sr Noorwindhi Kartika Dewi begitu nama panjangnya, sehari-hari adalah kepala SMP Santa Maria. Sebagai pimpinan di sekolahnya, tak ada kesulitan baginya untuk merealisasikan ide. Namun, ide Sr Windi ternyata tak sekedar ingin membentuk grup keroncong di sekolah. Ia bahkan berambisi music keroncong bisa masuk dalam kurikulum di sekolahnya. “Saya sadar ini tak mudah, karena keroncong terlanjur dinilai musik zaman dulu,” kata Windi.

Untuk mencapai cita-citanya ini, dalam tiga bulan ke depan, ia telah mempersiapkan sebuah seminar khusus tentang keroncong. Tak tanggungtanggung, yang diundang untuk mengupas ‘kehebatan’ musik yang dianggap identik dengan peninggalan penjajah Portugis itu adalah budayawan yang juga musikus, Djaduk Ferianto.

“Saya ingin keroncong menjadi ekstrakulikuler pilihan di sekolah-sekolah, sehingga nantinya ada kompetisi keroncong antarsekolah,” kata Windi.

Di SMP Santa Maria, musik keroncong telah menjadi ekskul pilihan. Mata pelajaran kesenian bahkan telah mewajibkan siswa untuk mengenal keroncong. Salah satunya, siswa diwajibkan memberikan opininya terhadap acara Musik Keroncong yang ditayangkan di TVRI. “Siswa juga ditugaskan mengumpulkan bermacam-macam tembang nusantara yang didapat dari browsing.

Dengan demikian, secara perlahan telah tertanam pengertian tentang keroncong,” tutur Windi. Guna memberi semangat bagi seniman keroncong di Surabaya, Sr Windi juga merangkul kelompok Keroncong Tabung (Taman Bungkul). Mereka diminta menjadi instruktur bagi siswa di SMP Santa Maria. Tapi dalam perjalanannya, ada hal yang meski dipecahkan bersama. Pasalnya, seniman Keroncong Tabung ini tak paham notasi meski piawai bermain musik. “Jalan keluarnya, guru musik sekolah mencoba menerjemahkannya ke dalam notasi,” ucap Windi.

Pada awal pembentukan kelompok Keroncong SMP Santa Maria, Windi bisa dikatakan harus mengorbankan waktu dan tenaga. Bayangkan, untuk pengadaan alat-alat musik, dia memilih untuk hunting ke Solo. “Saya datang sendiri ke sana mencari sebuah desa yang kabarnya sebagai sentra pembuat alat musik keroncong,” cerita Windi. Setelah pesan, baru sebulan kemudian alat-alat musiknya diterima.

Nilainya tak terlalu mahal, sekitar Rp 7 jutaan. “Jika memang ada kemauan kita bisa melestarikan budaya bangsa ini,” yakin Windi.

Di luar lingkungan sekolah, Windi juga berusaha menjalin komunikasi dengan pegiat keroncong di Surabaya. Bahkan beberapa kali, Windi menjadi inisiator pertemuan seniman keroncong di Surabaya. “Untuk yang satu ini, saya ingin kelompok-kelompok keroncong bersatu. Dahulukan soal keroncong, masalah perut nomor dua,” kata Windi.

Ini karena telah menjadi rahasia umum di Surabaya bahwa antar-kelompok keroncong tumbuh adanya persaingan tak sehat. Minimnya pemusik keroncong membuka peluang adanya saling bajak dengan iming-iming imbalan materi lebih besar. “Ini sudah tidak bagus bagi perkembangan keroncong sendiri,” kata Windi lagi. (*)

4 Responses

  1. bagus bagus…..
    ajarkan budaya nusanatara semenjak dini

    Salam

  2. mo numpang nanya, apa ada ekskul desain baju ?

  3. saluut utk Sr Windi dan SMP Santa Maria…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: