Ludruk Antara Hidup dan Mati

Kesaksian James L Peacok, kehidupan ludruk pada tahun 1963-1964 menjadi agen perubahan. Peacok menyebutnya sebagai ritus modernisasi. Sebagai agen perubahan, ludruk membantu orang menetapkan gerak peralihan mereka dari satu situasi ke situasi yang lain, yakni dari situasi tradisional ke situasi modern.

Gerak peralihan ini memiliki beberapa bentuk, ada yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, seperti urbanisasi. Pertunjukan ludruk membantu gerak peralihan masyarakat dan sekaligus memahami posisinya dalam gerak peralihan tersebut.

Dalam hal ini Peacok mengklasifikasi tiga bentuk peralihan yang ditawarkan ludruk yaitu klasifikasi simbolik (symbolic Clasifications) yang bermakna dan tegas, kedua ludruk mendorong para partisipan (penonton) untuk menghayati proses modernisasi, ketiga ludruk melibatkan partisipannya memasuki bentuk-bentuk estetika dengan cara-cara yang bisa menstimulasi proses modernisasi.

Namun sebenarnya pada awalnya ludruk punya sejarah yang panjang dalam kaitannya dengan peralihan kehidupan di masyarakat. Karena itu sejarah ludruk terkait pula dengan pola perkembangan masyarakat pendukungnya (local genius).

Karena keberadaannya yang lahir dari rahim kebudayaan rakyat jelata, ludruk jelas lebih merakyat daripada seni tradisional (Jawa) lain, terutama yang berasal dari kalangan Keraton. Dengan bahasa daerah sederhana dan egaliter, sindiran dan kritik-kritik tajam, serta pemilihan cerita yang tidak terbatas, ludruk memiliki kekuatan komunikasi yang sangat besar terhadap masyarakat.

Kekuatan ini sejak lama disadari berbagai pihak, yang tentu saja bisa berarti positif maupun negatif bagi seni ludruk itu sendiri. Ludruk bisa digolongkan sebagai media seni daerah yang mampu mengungkapkan peristiwa sosial. Sebagaimana dikemukakan George Lukacs—penganut dan pemikir seni-seni realis—persoalan utama dalam seni adalah relasi antara seni dan realitas sehari-hari.

Sebagaimana dikutip Ibe Karyanto (1997:97), George Lukacs mengungkapkan seni merupakan karya yang memiliki daya transformasi, yakni untuk mengubah kesadaran manusia. Seni akan menggerakkan orang kalau ia benar-benar indah. Keindahan baru akan tampak kalau seni secara jujur menampilkan kebenaran. Sementara kebenaran, dalam realitas sosial, adalah kenyataan adanya penderitaan, keterasingan, dan kecacatan manusia.

Namun, apa yang dikemukakan George Lukacs barangkali tidak secara langsung bisa digunakan untuk mengamati seni ludruk. Akan tetapi, dengan menilik perjalanan sejarah atau perkembangan ludruk pada tiap-tiap periode, minimal bisa ditarik satu benang merah bahwa teater rakyat ini memang berpihak pada realitas sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat, terutama kaum marjinal atau rakyat jelata.

Beberapa lakon seperti Sarib Tambayoso, Sakera, Sawunggaling, Suminten Edan, dan lain sebagainya, memberikan contoh nyata, bahwa ludruk pada mulanya sebagai alat perjuangan rakyat cilik. Seniman dan budayawan yang bergelut dalam dunia ludruk selama bertahun-tahun, Henricus Supriyanto, dalam satu bukunya Lakon Ludruk Jawa Timur (1987), ludruk adalah kesenian khas Jawa Timur yang merupakan ekspresi atau gambaran yang menyeluruh tentang masyarakatnya Jatim.

Menurut almarhum Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo, mengutip kamus Javanansch Nederduitssch Woordenboek karya Gencke dan T Roorda (1847), ludruk artinya Grappermaker (badutan). Di Jawa Timur kata badut sejak tahun 760 masehi di masa kerajaan Kanyuruhan Malan dengan rajanya Gjayana, seorang seniman tari yang meninggalkan kenangan berupa candi Badut.

Dari badut itu berkembang menjadi seni besutan (lerok besut 1920-1930). Pertunjukan ini berkaitan dengan upacara adat yang berupa persembahan atau penghormatan ke empat arah angin dan empat kiblat. Pemain utama memakai topi merah Turki, tanpa atau memakai baju putih lengan panjang dan celana stelan warna hitam. Dari sini berkembalah akronim Mbekta maksud arinya membawa maksud, yang akhirnya mengubah sebutan lerok menjadi lerok besutan.

Setelah masa besutan banyak bermunculan ludruk di daerah Jawa Timur. Istilah ludruk sendiri lebih banyak ditentukan oleh masyarakat yang telah memecah istilah lerok. Nama lerok dan ludruk terus berdampingan sejak kemunculan sampai tahun 1955, selanjutnya masyarakat dan seniman pendukungnya cenderung memilih ludruk (gela-gelo lan gedhruk-gedhruk).

Afiliasi Politik
Sezaman dengan masa perjuangan dr Soetomo di bidang politik yang mendirikan Partai Indonesia raya, pada tahun 1933 Cak Durasim mendirikan Ludruk Oraganizatie (LO). Ludruk inilah yang merintis pementasan ludruk berlakon dan amat terkenal keberaniannya dalam mengkritik pemerintahan baik Belanda maupun Jepang.

Ludruk pada masa ini berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada rakyat, oleh pemain pemain ludruk digunakan untuk menyampaikan pesan pesan persiapan Kemerdekaan, dengan puncaknya peristiwa akibat kidungan Jula Juli yang menjadi legenda di seluruh grup ludruk di Indonesia yaitu : Pagupon omahe dara, melok Nipon tambah sengsara.

Salah satu kehebatan ludruk sebelum 1965, seperti yang diungkap Peacock, adalah konsistensinya sebagai pertunjukan proletar, improvisasi-kreatif, suka memainkan simbol untuk menyampaikan pesan-pesan perubahan kehidupan di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya dan sekitarnya. Pertunjukan ludruk selalu tampil bukan hanya memikat tetapi juga mampu membangkitkan emosi dan semangat penontonnya yang plural.

Bahkan lebih dari itu, simpul Peacock pula, ludruk adalah pendorong, agen atau mediator perubahan massa rakyat Jawa Timur. Komunitas ludruk sendiri yang semula berada dalam kehidupan kampung yang homogen dan komunal mulai beringsut ke arah ekstra kampung yang heterogen dan rasional-spesifik. Perlu dicatat bahwa ketika modernitas menjadi idaman terpenting saat itu, ludruk dan komunitasnya menjadi modern sekaligus agen yang mengantarkan perubahan di masyarkat.

Ludruk pada periode kemerdekaan sampai tahun 1965 berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada rakyat, untuk menyampaikan pesan pesan pembangunan. Pada masa itu ludruk yang terkenal adalah ludruk Marhaen milik Partai Komunis Indonesia (PKI). Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika PKI saat itu dengan mudah mempengaruhi rakyat, dimana ludruk digunakan sebagai corong PKI untuk melakukan penggalangan masa.

Sesudah proklamasi kemerdekaan 1945, ludruk, baik secara perseorangan maupun organisatoris, seringkali mempunyai afilisasi dengan partai atau kepentingan-kepentingan politik. Selain ludruk Marhaen yang condong ke perjuangan kaum kiri, juga tersebut Ludruk Tresna Enggal yang cenderung ke perjuangan kaum nasionalis.

Peristiwa G30S PKI benar benar memporak porandakan grup grup Ludruk terutama yang berafiliasi kepada Lembaga Kebudayaan Rakyat underbow PKI. Terjadi kevakuman antara 1965-1968. Sesudah itu munculah kebijaksanaan baru menyangkut grup grup ludruk di Jawa Timur. Peleburan ludruk dikoordinir oleh Angkatan Bersenjata dalam hal ini DAM VIII Brawijaya proses peleburan ini terjadi antara tahun 1968-1970.

Diberbagai daerah ludruk ludruk dibina oleh militer, sampai tahun 1975. Sesudah itu mereka kembali ke grup seniman ludruk yang independen hingga kini. Namun pengalaman pahit itu, kesenian ludruk seperti kehilangan spiritnya bahkan seperti meninggalkan trauma. Tidak hanya itu, kesenian ludruk semakin ditingal oleh penontonnya. n gir

Surabaya Post, Minggu, 16 Nopember 2008 | 11:54 WIB

One Response

  1. http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/22/11581226/itb.gelar.pesta.rakyat.jawa.timuran

    ITB Gelar Pesta Rakyat Jawa Timuran/

    Sabtu, 22 November 2008 | 11:58 WIB

    BANDUNG, SABTU–Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar “Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008” yang akan dilaksanakan di Kampus Ganesha Kota Bandung, 30 November 2008 mendatang.

    Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008 itu mengambil momentum yang bertepatan dengan ulang tahun perak atau 25 tahun terbentuknya “Loedroek ITB”.

    Kegiatan ini untuk mengenalkan seni Jatim dan membangkitkan semangat nasionalisme melalui penguatan benteng budaya, sekaligus mencari solusi berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini,” kata Rizki Primasakti, Ketua Panitia Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008, di Bandung, Jumat.

    Rangkaian kegiatan pesta itu antara lain tradisi “Nggendheng Loedroek”, Festival Seni Budaya dan kuliner Jawa Timur, diskusi panel “Kerajaan Indonesia, Kenapa Nggak?” serta Maen Gedhe Loedreok ITB dengan lakon “Deja vu De Java” di Sasana Budaya Ganesha 30 November mendatang.

    Kegiatan pesta rakyat itu diisi juga dengan tari tradisional Jatim seperti Jejer, Gandrung dan Ngremo. Kemudian, Reog Ponorogo, kesenian patrol dari Banyuwangi, stan komunitas budaya, stan Loedroek ITB.

    Sedangkan parade kuliner antara lain festival kuliner, stan jamu, pecel Madiun, sate Ponorogo, rujak cingur, rawon, soto Lamongan, bebek goreng serta aneka jajanan pasar khas Jawa Timur.

    Selain itu juga akan dilakukan kolaborasi Darma Wanita Loedroek ITB dengan Keroncong Merah Putih Bandung.

    Loedroek ITB bermula dari pendirian perkumpulan seni Guyu Sedaya Jamuran yang merupakan singkatan Paguyuban Seni Budaya Jawa Timuran.

    Kemudian perkumpulan itu populer dengan Loedroek ITB yang pentas dengan Bahasa Indonesia tapi tetap mempertahankan pakem ludruk asli dengan gaya mahasiswa ITB. (ANT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: