Dua Perupa Surabaya Pamer di Malaysia

Karya bertajuk Bangkit karya Djunaidi Kenyut adalah satu dari 15 lukisan yang siap diusung ke IAE Malaysia 2008. DOK/RADAR SURABAYA

BANGKIT: Karya bertajuk Bangkit karya Djunaidi Kenyut adalah satu dari 15 lukisan yang siap diusung ke IAE Malaysia 2008. DOK/RADAR SURABAYA

Pameran lukisan bertajuk 2nd International Art Expo (IAE) Malaysia 2008 digelar 26 November. Dalam pameran yang digelar di Matrade Exhibition and Convention Centre (MECC), Kuala Lumpur, itu, 17 perupa Indonesia terlibat.

HETI PALESTINA YUNANI

heti_palestina@yahoo.com

SURABAYA-Indonesia bukan satu-satunya negara, melainkan ada 19 negara lain yang turut serta. Yang membanggakan, Indonesia menjadi negara yang paling banyak menyertakan pesertanya. Dari 17 pelukis tadi, ada dua pelukis Surabaya, Djunaidi Kenyut dan Anas Etan. Karya keduanya ini akan dipajang dalam ajang bergengsi itu hingga 30 November. Ke-15 pelukis yang lain datang dari Bali, Bandung, Jogajakarta dan Jakarta.

Mereka adalah Antonius Kho, Linthon Paul, Neneng S Ferier, Elisha, Yanuar Ernawati, Wayan

Handoko, Freddy Sofian, Santosa, Abun Adira, YS Nurjoko, Wayan Artana, Abraham Freddy K,

Made Somadita, Anak Agung Oka Agung, dan Made Kaek.

Untuk perhelatan bergengsi yang digelar di Malaysia kali kedua itu, Kenyut menyertakan 15 lukisan. Sementara Anas lebih banyak lagi, 20 lukisan. Menurut Kenyut yang sedang berada di Ubud, Bali, saat Radar Surabaya menghubunginya, setiap perupa diberi kebebasan menentukan lukisan apa yang boleh disertakan dalam pameran. Bahkan, temanya pun boleh ditentukan para peserta. Yang pasti, lewat lukisan itu, para perupa bias menghadirkan wajah negerinya atau lingkungan sekitar para pelukis itu berada.

Di jagad seni rupa Surabaya dan Jatim, Kenyut yang lahir 11 Maret 1979 ini sudah dikenal sebagai perupa muda berpotensi. Untuk IAE, Kenyut menyertakan lukisan baru yang ia garap hanya untuk IAE. Di studionya, Kecil Art, Kentut yang mulai berkesenian pada 1998, saat belajar di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Surabaya, di antaranya membawa Bangkit. Lukisan ini merespon 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Figur kuning yang terikat dengan latar berlakang merah putih adalah simbolnya untuk menunjukkan dirinya sendiri pada bangsa dan dunia.

Dalam In The Shadow, Kenyut yang pernah menggelar pameran tunggal tahun ini juga berbicara tentang dirinya. ’’Saya merasa terus dibayangi masa lalu yang justru memacu diri untuk terus maju,’’ kata Kenyut yang juga belajar teater.

Dari tangan Anas, beberapa adalah penuturannya tentang berbagai persoalan lingkungan atau alam. Seperti dalam Quiet Think yang dilukis di atas kanvas berukuran 120 x 120 cm dengan media acrylic serta pencil on canvas. Serupa wajah manusia, namun Anas membuatnya tak biasa. Wajah itu adalah bagian dalam bumi, hidungnya adalah akar pepohonan, dan dengan bentuk mata yang imajinatif. Buat Anas, lukisan itu amat simbolik yang menggambarkan merananya bumi dengan segala pepohonan yang tak menancap baik karena tanahnya sakit. Lewat semua karyanya, Anas berharap siapa pun orangnya bisa melakukan hal positif tanpa ada anarkhi maupun eksploitasi alam. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: