Natalini Widhiasi Pameran Tunggal setelah 17 Tahun ”Menghilang”

SETELAH 17 tahun menghilang dari peredaran dunia seni lukis, Natalini Widhiasi, 44, muncul membawa perubahan. Mulai kemarin (14/11) hingga 6 Desember, mantan pelukis cilik yang memiliki segudang prestasi itu mengadakan pameran tunggal bertajuk The Eye’s of Lini di Art Gallery, House of Sampoerna.

“Terakhir saya pameran pada 1991. Sekarang saya menggelar pameran tunggal ke-17 setelah 17 tahun vakum,” kata putri perupa Tedja Suminar itu.

Meski tercatat sebagai pameran tunggal ke-17, Natalini menganggap pergelarannya kali ini sebagai langkah awal. Sebab, dia menampilkan sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya. Natalini mengeksplorasi ide tanpa batas, menerjemahkan karya dwimatra menjadi trimatra. “Karena itu pula, saya tidak menamakan pergelaran ini sebagai pameran lukisan, meski semuanya berangkat dari lukisan,” terang pelukis yang kerap disebut Anak Ajaib oleh maestro seni (alm) Affandi itu.

Untuk pameran yang sudah dipersiapkan selama setahun itu, Natalini bakal menampilkan sekitar 25 lukisan dua dimensi dan 10 karya tiga dimensi. Khusus untuk karya tiga dimensi, Natalini telah menyiapkan stained glass (2 karya), pahatan kayu (3 karya), patchwork dan kolase kain (2 karya), serta patung resin (3 karya).

Karya tiga dimensi itu awalnya hanyalah sebuah lukisan biasa. Dia tidak berpikir akan mengeksplorasi karya-karya tersebut menjadi pahatan maupun patung. Lama kelamaan, penglihatannya mulai berkelana. “Bayangan saya, kalau lukisan itu diterjemahkan ke dalam tiga dimensi, hasilnya akan lebih luas,” tambah istri Eko Budi Jatmiko, salah seorang dosen teknik kelautan ITS.

Letupan-letupan ide tersebut justru muncul ketika Natalini sibuk menjadi ibu rumah tangga. Sejak saat itu, dia tidak mau terkungkung dengan materi datar dan kotak saja. Baginya, seni lukis itu luas, tak lagi berbatas.

Kesibukan sebagai ibu rumah tangga plus aktivitas di lingkungan sosial menjadi inspirasi bagi Natalini. Salah satunya karya berjudul People. Karya seni itu berupa beberapa wajah manusia yang saling menyatu dan dibuat dalam bentuk puzzle. Bentuknya adalah pahatan kayu suar yang berdiri di atas foodstek (landasan kayu).

Kaki yang Berdoa adalah karya lain Natalini jenis stained glass yang berbentuk panel ukuran 275 x 155 cm. Karya itu merupakan bentuk lain dari lukisannya yang memiliki judul sama. Karya tersebut menggambarkan dua kaki yang jarinya saling mengait, layaknya posisi tangan ketika berdoa. Dengan berbagai warna, karya seni berbahan kaca itu tampak memesona. “Untuk menyelesaikan karya ini, saya dibantu delapan kru,” katanya.

Memang, untuk menyelesaikan karya-karya tiga dimensi, Natalini tak lagi bisa bekerja sendiri. Bahkan, penyelesaian tiga patung resinnya itu melibatkan sekitar 30 mahasiswa desain interior Universitas Ciputra. Patung-patung tersebut berjudul Overlapping, Elastis, dan Blow in The Wind. “Saya sempat gelisah dengan metode penyelesaian karya ini. Apa mungkin bisa disebut murni karya saya, sementara pembuatannya melibatkan tangan orang lain,” tuturnya.

Namun, salah seorang kolektor ternama Indonesia Dr Oei Hong Djien menjawab kegelisahan Natalini tersebut. ”Itu sah sebagai karya Anda, meski tidak diselesaikan seluruhnya oleh tangan Anda sendiri,” ucap Oei Hong Djien.

Di antara 25 lukisan dua dimensi Natalini itu, terdapat 10 lukisan yang merupakan hasil perenungan saat melakukan perjalanan haji pada 2002. Judulnya Journey to Hajj. Natalini yang seorang mualaf merasakan benar-benar berhubungan dengan Tuhan ketika menunaikan ibadah haji. (jan/fat)

Jawa Pos, Sabtu, 15 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: