Monolog Sindir Jual Beli Gelar

AGUNG RAHMADIANSYAH/RADAR SURABAYA

Foto: AGUNG RAHMADIANSYAH/RADAR SURABAYA

Pesan moral bisa disampaikan lewat media apa pun. Termasuk lewat pentas monolog hari kelima Festival Seni Cak Durasim (FCD) 2008, tadi malam. Lewat lakon Prodo Imitatio, Hamzah Fansuri menyindir maraknya jual-beli gelar pendidikan di tanah air.

NOFILAWATI ANISA

nofilawatianisa@yahoo.co.id

BUKU-BUKU mengenai jualbeli gelar pendidikan berserakan di panggung. Seorang pria sepuh berjenggot, berbusana putih-putih, dan mengenakan toga, keluar dari sudut ruangan dengan tubuh sedikit membungkuk. Dia berdiri persis di tengah panggung dengan gagah. ’’Salam imitasi. Viva Profesor Prodo Imitatio. Panggil saja aku ini produk imitasi,’’ kata sang profesor, lantas tertawa sumbang. Setelah salam pembukaan itu, cerita mengenai aksi jual-beli gelar pun mengalir.

Diceritakan, di sebuah negara bernama Amarakua yang tingkat pendidikannya berseri-seri, ada sebuah universitas. Namanya University of Zuzulapan. Sayangnya, meski dunia pendidikannya jadi panutan bangsa lain, ternyata di negara itu banyak terjadi jual-beli gelar murah. Mulai S1, S2, hingga S3 bisa didapat dengan mudah. Bahkan kalau ada yang mau beli, gelar profesor pun bisa dibeli asalkan harganya cocok.

Seorang perempuan lantas datang kepada sang profesor pintar di University of Zuzulapan itu. Dia ingin sekali punya gelar S1, tapi tak mau repot-repot sekolah. ’’Ooo, gampang. Ada dewa penolong yang siap membantu. Sayalah orang yang tepat itu,’’ jawab sang profesor. Singkat cerita, transaksi pun terjadi dengan mudah. Sayang, transaksi yang sebenarnya sudah dibuat seaman-amannya itu tercium pihak berwajib. Sang profesor pun harus dihadapkan persoalan hukum. Setelah diproses, Profesor Prodo Imitatio terbukti bersalah melakukan kejahatan jual-beli gelar.

Di akhir cerita, sang professor harus berada di balik terali besi alias dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Merasa tak bersalah, profesor pun protes. Sebab, menurut dia, bukan dirinya yang salah dalam kasus jual beli gelar itu, melainkan si pembeli gelar.

Dialog-dialog singkat yang dibuat Ifan, sapaan karib Hamzah Fansuri, membuat penonton pentas tadi malam tidak kesulitan memaknai setiap alur cerita yang disuguhkan. Dari awal dialog, penonton seolah sudah dituntun untuk memahami setiap detil gerak sekaligus dialog yang dilakukannya.

’’Ada sekitar lima tokoh yang saya perankan dalam monolog ini,’’ ujar mahasiswa semester Sembilan Jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Prodo Imitatio bukan lakon monolog asli milik Hamzah Fansuri, melainkan karya Arthur S Nalan asal Bandung. ’’Dialog aslinya sedikit kesunda-sundaan. Saya mengubahnya menjadi dialeg Jawa supaya tidak kesulitan melakonnya,’’ kata pria asli Pamekasan, Madura, itu. (*)

Radar Surabaya, 15 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: