FESTIVAL SASTRA JAWA 2009

Organisasi Pengarang Sastra Jawa, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya [PPSJS], dan Sanggar Triwida menyelenggarakan Festival Sastra Jawa (FSJ), tanggal 30 Juli 2009 di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.

I. DASAR PEMIKIRAN

[1] Sastra Jawa adalah warga Sastra Indonesia , adalah warga Sastra Dunia, yang layak diberi ruang untuk hidup: tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat dan keinginan masyarakat pendukungnya.

[2] Jawa Timur memiliki Jaya Baya dan Panjebar Semangat, keduanya terbit di Surabaya, adalah majalah berbahasa Jawa yang memiliki sejarah yang panjang dan masih memiliki pembaca setia hingga saat ini.

[3] Jawa Timur memiliki tokoh-tokoh yang disegani di jagad Sastra Jawa. Di Surabaya ada Dr. Suripan Sadihutomo [alm.], Suparto Brata, Satim Kadaryono, Drs. Moechtar, Suharmono Kasiyun, Widodo Basuki, di Tulungagung ada Tiwiek SA, di Bojonegoro ada: Djayus Pete, JFX Hoery, di Banyuwangi ada Esmiet [alm.], di Mojokerto ada ST Iesmaniasita [alm.] sekadar menyebut mereka yang pernah mendapatkan Hadiah Rancage.

Di Trenggalek ada pula nama-nama yang dipandang cukup mewarnai perkembangan dunia sastra Jawa modern, antara lain: Bonari Nabonenar (Dongko), Widodo Basuki (Munjungan/Redaktur Jaya Baya), Slamet Sri Purnanto (Panggul), Jarot Setiyono, Edy Santosa, Sita T Sita (Pogalan), dll.

[4] Media berbahasa Jawa yang ada di Jawa Timur, pun para tokoh/sastrawannya, selama ini kurang mendapatkan perhatian di wilayahnya sendiri [Jawa Timur], padahal mereka disegani di lingkup yang lebih luas, misalnya seorang Suparto Brata pernah masuk buku Five Thousand Person in the World, tiga kali mendapatkan Hadiah Rancage, dan mendapatkan penghargaan Sastra Asia Tenggara dari Ratu Sirikit (SEA Write Award).

[5] Perlu media ekspresi alternatif, sekaligus untuk menghormati mereka yang telah menunjukkan dedikasi dan prestasi di Sastra Jawa. Melalui pembicaraan dengan beberapa kalangan/komunitas Sastra Jawa, diputuskanlah bahwa media ekspresi alternative itu ialah Festival Sastra Jawa –yang selama ini belum pernah diselenggarakan.

[6] Dapat diasumsikan bahwa sebagian besar masyarakat pendukung sastra Jawa modern ada di daerah-daerah pinggiran, di desa-desa, dan oleh karenanya perlu dikaji hubungan imbal-balik antara sastra Jawa (modern) dengan masyarakat pedesaan, dan peran apa yang perlu dipertegas oleh para pengarang/sastrawan Jawa dalam rangka berpartisipasi pada pembangunan masyarakat pedeaan tersebut, terlebih di Era Global seperti sekarang ini.

[7] Di dalam rangka membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, Festival Sastra Jawa bisa dijadikan agenda tahunan, sebagai upaya untuk menuju forum ’’silaturahmi budaya’’ yang lebih besar (berskala nasional) yang kelak bisa dinamakan Festival Sastra Etnik Nusantara.

II. NAMA KEGIATAN

– Festival Sastra Jawa 2009

III. TUJUAN

[1] Memberi ruang ekspresi alternatif bagi sastrawan Jawa.

[2] Menggali informasi melalui ’’dokumen kebudayaan’’ yang berupa karya-karya sastra [novel, cerpen, puisi] berbahasa Jawa.

[3] Semakin mendekatkan Sastra Jawa dengan masyarakat pendukungnya, terutama yang tinggal di pedesaan.

[4] Menyegarkan kembali kesadaran pengarang/sastrawan Jawa akan peran dan tanggung jawab sosial mereka atas masyarakat pendukung/pembaca.

[5] Ikut ambil bagian dalam upaya memupuk generasi yang paham dan menghormati kebudayaan sendiri untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara bersama, bergaul secara damai, saling memahami dan saling menghormati dengan komunitas dari budaya/etnis lain, dan pada akhirnya menjadi generasi bangsa yang bisa dengan luwes bergaul dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

IV. TEMA

Desa dan Sastra Jawa

V. PENYELENGGARA

Penyelenggara kegiatan ini adalah Organisasi Pengarang Sastra Jawa, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya [PPSJS], dan Sanggar Triwida.

VI. PELAKSANAAN

Waktu: 30 Juli 2009
Tempat: Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kec. Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Acara: [1] Pentas Baca Crita Cekak (Cerpen), Guritan (Puisi), Drama (berbahasa Jawa). [2] Sarasehan/Seminar, [3] Pameran Buku, [4] Pemutaran Film Dokumenter.[ ]

*) DESA CAKUL
adalah sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, 10 km dari ibukota kecamatan (Dongko), 46 km dari ibukota kabupaten (Trenggalek) . Seperti halnya wilayah di bebukitan kapur jalur selatan Pulau Jawa, lokasinya cukup indah dengan kekayaan bebatuan kapur, marmer, dan banyak lubang bawah tanah (gua). Sayangnya, kalau kemarau memanjang, warga makin keras menjerit kekurangan air. Dusun Nglaran tempat FSJ akan dilangsungkan dilintasi jalan raya Trenggalek Pacitan, sehingga cukup mudah dijangkau dengan kendaraan umum jenis colt atau bus. Tetapi, jika Anda menjangkaunya dari Trenggalek kota , begitu pukul 17.00 petang kendaraan umum itu sudah sulit dan bahkan tak bisa didapat. Dari Surabaya atau Jogja ada layanan travel. Kelak nomor telepon perusahaan angkutan itu akan diberikan jika diperlukan. (panitia)

Kontak: Bonari Nabonenar , bonarine@yahoo.com, 081.837 4138

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: