Protes Kerusakan Hutan lewat Tari

00-tari1SURABAYA – Bertelanjang dada, pria itu mengenakan rumbai-rumbai dari rangkaian daun kelapa untuk bawahan. Tanpa musik, si pria meliuk-liukkan tubuh atletisnya. Sesaat kemudian, dia melepaskan gelungan rambutnya yang panjang. Tidak berapa lama, dia hilang di balik panggung. Keberadaannya digantikan empat wanita bertopeng yang mengenakan sackdress cokelat muda. Seperti si lelaki, keempat wanita itu menari meliuk-liuk.


Adegan tersebut merupakan cuplikan pertunjukan tari Pe-thoi karya koreografer muda Solo, Bobby Ari Setiawan, yang ditampilkan kelompok Independent Expression pada hari kedua Festival Cak Durasim (FCD) 2008 di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, tadi malam (11/11). Selain Pe-thoi, tampil pertunjukan tari Napel karya Adinda Miranti (Jember) dan tari Rai karya Yeni Wahyu (Surabaya).

Tari Pe-Thoi mengangkat isu lingkungan. Keempat penari wanita disimbolkan sebagai kondisi hutan yang rimbun. Beberapa menit berikutnya, penari pria kembali muncul. Masih bertelanjang dada, kali ini dia berganti bawahan. Dia mengenakan celana panjang dengan motif army. Dia juga menutup wajahnya dengan topeng putih.

Sesuai aliran tari kontemporer yang dibawakan, iringan musik yang disuguhkan kaya berbagai jenis suara. Mulai suara serangga, desiran angin, hingga buang angin. Keragaman suara tersebut mengiringi aksi para penari yang kali ini beraksen gerakan tari hip hop.

Pada adegan selanjutnya, para penari wanita mengganti ranting pohon yang dibawa dengan sarung tangan bercahaya lampu di bagian ujungnya. Ketika panggung gelap, sarung tangan penari wanita dan celana penari pria bersinar memberikan nuansa eksotis. Sinarnya membentuk bulatan-bulatan mesin.

Memang, tari tersebut sengaja ditampilkan untuk mengangkat isu lingkungan di kawasan Kalimantan Timur yang tercemar modernisasi. Nama tari Pe-Thoi berarti kostum yang digunakan dalam tari Hudo’ asal Kalimantan Timur.

Menurut sang koreografer, Bobby Ari Setiawan, tari tersebut diciptakan berdasar pengalamannya beberapa tahun lalu di daerah pedalaman Kalimantan Timur. ”Saya menyaksikan sendiri kerusakan alam akibat modernisasi yang berlebihan. Dari situ, saya tergugah untuk menciptakan karya ini,” jelas pria 25 tahun itu.

Hari ini FCD menampilkan dua kelompok teater. Yakni, Teater Samarinda (Kaltim) dan Teater Lentera Sumenep. (ken/ari)

Jawa Pos, Rabu, 12 November 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: