Keperkasaan Mempertahankan Seni Tradisi

Pembukaan Festival Cak Durasim IX

Tari Blantek

Tari Blantek

Ada semangat tak hendak menyerah pada gilasan jaman, keperkasaan, gagah berani, dan siap mempertaruhkan nyawa. Itulah yang tersirat dari sajian pertunjukan malam perdana Festival Cak Durasim (FCD) ke IX di pendopo Taman Budaya Jatim, Senin malam (10/11). Lima sajian dari empat daerah mengawali festival tahunan yang berlangsung hingga Minggu (16/11) itu.

Keperkasaan itu agaknya diperlukan bagi seni tradisi di tengah desakan pragmatisme kehidupan. Bagaikan burung Enggang yang selalu menjadi obyek buruan, diperebutkan, dan dirusak habitatnya oleh tangan-tangan nakal manusia. Kejelitaan si Enggang tak jarang memecahkan perang. Pemburu-pemburu liar dengan beringas mengobrak-abrik habitat satwa elok ini. Kilau Mandau dan runcingnya mata sumpit membuat takut permata Borneo ini. Apakah yang dapat diharapkan si rupawan Bumi Eta ini? Masih ada kasih sayang di antara perang.

Kenjet Lasan

Kenjet Lasan

Sanggar Warih Bontang dari Kalimantan Timur, mengangkat tema perburuan burung Enggang itu dalam karya tari berjudul “Kenjet Lasan” dengan koreografer Eddy Sudaryanto. Pertunjukan ini hadir pada giliran kedua, setelah diawali Tari Blantek dari Sanggar Figure Dewan Kesenian Bekasi.
Tari Blantek, sesungguhnya adalah tarian rakyat yang menggambarkan pergaulan remaja antara pria dan wanita dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya ditampilkan pada waktu musim panen tiba atau selamatan acara pernikahan. Namun sayangnya, tari pergaulan ini justru hanya ditarikan seorang diri pada malam itu, bukan berpasang-pasangan. Seorang penari wanita berbusana kuning menyala, mengenakan topeng yang diterimanya dari Kepala Dinas P dan K Jatim, sebagai simbol acara FCD dimulai.
Kesendirian sang penari bertopeng itu seakan menyiratkan kesendirian seni tradisi, yang terasing di tengah masyarakatnya sendiri. Seni tradisi telah tak diperlakukan sebagaimana mestinya, habitatnya tak pernah lagi disuburkan, malah semakin tandus. Dibutuhkan kasih sayang untuk mempertahankannya, sebagaimana mempertahankan kecantikan burung Enggang di bumi Borneo.

Eksotika Borneo

Eksotika Borneo

Bumi Borneo, memang termashur dengan keindahan dan keelokannya. Silakan datang dengan kasih sayang di tangan, bukan dengan kekerasan dan semangat ingin menguasai. A & R Studio Balikpapan, menggambarkan sambutan selamat datang menyaksikan “Eksotika Borneo” dengan koreografer Oemy Facessly B. SH., M.Si.
Tari “Gong” yang disajikan malam itu, mengisahkan putri kepala suku Dayak yang menari di atas alat musik gong. Kecantikan sang putri membuat banyak pemuda berusaha menarik perhatian, beradu Mandau dan mengasah kemahiran, semata-mata untuk dapat merebut hatinya. Atas kebijaksanaan sang Putri, semuanya dianggap memiliki kemampuan dan kemahiran yang sama, dalam menjaga keharmonisan dan kelestarian alam.
Lagi-lagi keperkasaan dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan. Taman Budaya Nusa Tenggara Timur (NTT) menampilkan estetika keperkasaan itu lewat tarian “Njara Humba Matamba Savana” yang berarti “kuda liar dari padang savanna” Sumba. Derap kaki dalam hentakan yang ritmis serta bergemuruh, dilakukan sekelompok lelaki gagah perkasa. Mereka sesekali menirukan ringikan kuda Sumba yang terkenal itu. Kuda Sumba adalah simbol kewibawaan, kekuatan, keperkasaan dan kelincahan masyarakat etnis Sumba di NTT. Kuda Sumba juga merupakan suatu kebanggaan masyarakat terutama bagi kaum bangsawan.

Njara Humba Matamba Savana

Njara Humba Matamba Savana

Tarian dinamis yang bersemangat ini, digarap bersama oleh koreografer Floribertus Fono, Paulina Samosir, Widyawati dan Eldesius Angi.
Dan akhirnya, tampillah sajian penutup dari tuan rumah dengan fragmen Ludruk Lawakan dengan pemain Cak Kartolo, Sapari, Supali, Trubus dan Momon. Mereka mengangkat tema soal keberadaan Jepang, untuk menyambung isu “Jepang” dalam kidungan Cak Gondo Durasim yang legendaris itu. Bahwa Jepang saat ini, sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Namun penampilan para senior itu, sayang kurang memperhatikan bloking. Mereka menggerombol di tengah panggung yang luas sepanjang permainan. Padahal, masing-masing sudah dilengkapi klip on. Ternyata senioritas tak menjamin kualitas. Atau, yang penting lucu?

Ludruk Lawakan

Ludruk Lawakan

Deraian tawa memang berulangkali meledak dalam naungan pendopo, mengalahkan deras hujan yang tahu-tahu mengguyur Surabaya. Maklum, pada saat yang sama di areal Tugu Pahlawan sedang berlangsung pentas musik masa kini untuk memeriahkan Hari Pahlawan. Jangan-jangan, hujan itu memang “digiring” ke arah selatan, ke kawasan Taman Budaya, yang sedang berjuang menyelematkan seni tradisi. – henri nurcahyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: