Gelar Budaya Panji. Jadikan Sebagai Icon Jatim

Mojokerto – Surabaya Post
Pasamuan Budaya Panji Internasional (PBPI) ke-2 bertema “Budaya Panji dan Lingkungan Hidup” bakal digelar di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Seloliman dan Candi Jolotundo Udayana Trawas, Mojokerto, 18 – 20 Nopember 2008. Ajang ini, salah satunya diharapkan masuk dalam Indonesian Heritage dan menjadi icon Jawa Timur.
Acara yang telah dipersiapkan secara matang itu bakal menghadirkan sejumlah budayawan dan seniman Indonesia, sekaligus menggelar workshop, seminar dan lokarya hingga pameran seni panji.
Worshop, seminar, dan lokakarya bakal membahas Budaya Tutur oleh Made Taro (Bali), Pertanian Ramah Lingkungan: JKTI (Agus Bimo) dan Udi Prasetya (Klaten), PPLH Seloliman Pranata Mangsa: Kasimun (Pasuruan), Wayang Suket Panji oleh Eyang Thalib (Sidoarjo), dan Wayang Beber oleh Narsen Afatara (Solo).
Pendidikan Seni Nusantara bakal disampaikan oleh Endo Suanda (Bandung), Cerita Panji oleh Sholeh Adipramono (Malang), Ibu Catrini Pratihari dan Sugadi dari BPPI-Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (Jakarta), Diane Butler, Dharma Nature Time (Bedulu, Bali).
Kemudian pementasan seni oleh Sholeh Adipramono (Tumpang, Malang), Slamet Gundono (Solo), Nyoman Sura (ISI-Denpasar, Bali), Ni Wayan Sekariani (Batuan, Bali), Wangi Indria (Indramayu, Jawa Barat), Heri “Lentho” Prasetyo (Surabaya),
Mardiguno (Pacitan), Dian Sukarno-Jatiduwur (Jombang), Mahasiswa Penciptaan ISI Surakarta, dan Jaran Kepang Anak (Seloliman, Mojokerto).
Heri Lentho yang dihubungi membenarkan kalau dirinya bakal mengisi PBPI lewat kolaborasi seni dengan karya Panji Remeng (Panji Gelap). Sebagai dramaturgi, Lentho juga melibatkan pemusik Pambuko dan astistiknya digarap oleh seniman lukis dan patung Toyib Tamsar.
Panata tarinya dipercayakan pada Purbandari yang sekaligus sebagai penari. Kemudian didukukung penari Mega Kartika, Erna, Supriyadi dan Hariyanto. Penata lampu dipercayakan pada Grandong. “Kami sedang bersiap-siap untuk berlatih,” kata Heri Lentho, Rabu (5/11).
Sementara pameran seni panji akan melibatkan Titik – Lestari Handycraft, Lawang Malang (Wayang Klithik), Lungayu, Jombang (Topeng dan Pusaka Panji), Kedung Monggo, Pakisaji Malang. Pada 20 Oktober digelar Sesaji Seni Alam Desa di Candi Jolotundo, oleh masyarakat desa, para seniman, Suprapto Suryodarmo, dan Ki Ageng Sri Widadi.

Secara historis, Budaya Panji muncul dalam sastra kuno Jatim abad ke-8 s/d ke-15. Ini juga tersebar ke daerah di Indonesia–seluruh Jawa dan Bali dan berbagai daerah Sumatra. Terungkap juga menyebar ke negara lain seperti Champa, Vietnam Selatan, Kambodia, Laos, dan Thailand.
Budaya Panji berkembang melalui berbagai media: ilmu pertanian dan tekniknya, arsitektur, filsafat dan kebanyakan dalam bentuk seni seperti tari, teater, wayang gedhog, wayang beber, dan motif batik.
Meski terdiri dari berbagai versi, inti cerita Panji selalu bercerita tentang kehidupan tokoh Raden Panji (Panji Asmorobangun) dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candrakirana (Dewi Sekartaji) dari Kerajaan Daha – Kediri.
Penyatuan Panji dan Sekartaji, sebagai bentuk penyatuan pria dan wanita yang menghasilkan kesuburan atau keturunan, dijadikan simbol kesuburan padi.
Maka, kesenian budaya Panji adalah cara yang tepat untuk menambahkan pengetahuan dan pemahaman karena mengandung banyak muatan pendidikan lingkungan hidup.(gim)

Surabaya Post, Rabu 05/11/2008 10:50:45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: