Pertemuan Penari Reog dan Pelukis

Agus menggoreskan kuas di kanvas, mengabadikan aksi reog dalam lukisan ekspresionis. Dia beraksi bareng saudaranya, Rahmansyah. AGUNG RAHMADIANSYAH/RADAR SURABAYA

KONSENTRASI: Agus menggoreskan kuas di kanvas, mengabadikan aksi reog dalam lukisan ekspresionis. Dia beraksi bareng saudaranya, Rahmansyah. AGUNG RAHMADIANSYAH/RADAR SURABAYA

SURABAYA – Suara gendang, tipung, gong, dan terompet mengalun di pelataran pintu masuk Galeri Meteor kemarin (2/11). Alat-alat musik itu dibunyikan oleh pemain reog dari sanggar Singo Mangkujoyo. Mereka duduk bersila di salah satu sisi pintu masuk.

Di sisi yang lain, 14 orang pelukis mempersiapkan perkakas. Para pelukis itu adalah Andi Solas, Rahmansyah, Agus Kemas, Fatur, Dion Mulyana, M. Fauzi, Asnan Hayadi, Agus Santoso, Arik, D. Kustin, Budi Suryanto, Yacob Sika S., David Sutjahjono (Yonney), dan Suratno. Beberapa di antaranya sudah menarikan jari-jari tangannya di atas kanvas.

Kesibukan dua profesi seni itu terkait dengan acara demo melukis reog. Acara tersebut merupakan rangkaian pameran dan bursa lukisan berjudul Rona Surga. Pameran dan bursa lukisan itu dimulai sejak 15 Oktober hingga 15 November nanti.

Setelah itu, rombongan reog mulai berjalan menuju tepi kiri pintu masuk. Diawali dengan tiga bocah menari Bujang Anom, disusul seorang penari memainkan Dadak Merak. Melihat reog beratraksi, para pelukis seperti kena pecut. Mereka mulai menajamkan penglihatan mengikuti gerak sang penari sembari tangannya bermain di atas kanvas.

Saking banyaknya penonton, para pelukis merasa kesusahan mengikuti gerakan reog karena pandangan mereka terhalang. Misalnya, yang dirasakan Agus Santoso.

Pelukis berambut gondrong itu bekali-kali melongokkan kepalanya. Keringat mulai menghiasi wajahnya.

Sika dan Yonney justru memilih agak menyingkir dari keramaian. Mereka melukis sambil ndeprok di samping mobil. “Saya tadi sudah bikin sket-nya, sekarang tinggal mewarnai saja,” jelas Yonney.

Salah seorang pelukis yang menyelesaikan karya dengan cukup cepat adalah M. Fauzi, 51. Dia memindahkan penglihatannya ke dalam kanvas berukuran 120 x 140 cm dengan media akrilik. Lukisan reog ala Fauzi berbau impresionis. Dia juga menambahkan beberapa objek sebagai simbol. “Melukis kan bukan teknologi. Jadi, saya tidak mau terjebak dengan bentuk aslinya,” tuturnya.

Rahmansyah dan Agus Kemas memilih berkolaborasi. Dalam satu kanvas, dua pelukis berbeda genre itu memadukan karyanya. Torehan Rahmansyah cenderung ekspresionis, sedangkan Agus Kemas kubisme. Kedua orang tersebut memilih teknik finger painting.

Lukisan yang dihasilkan Rahmansyah terasa lebih memiliki ruang dan bidang. Jika biasanya dia memenuhi kanvas dengan warna, kali ini dia membiarkan beberapa bagian tak tersentuh warna. “Di situlah kesan ruangnya terasa,” ucapnya.

Kesan itu diperkental dengan aksen kubisme yang ditorehkan Agus Kemas. “Tidak sulit kok, seorang kubisme, melihat apa pun tetap kubis. Jadi, tinggal memberi garis saja,” tegasnya. (jan/ayi)

Jawa Pos, Senin, 03 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: