Mbah Karimun, Maestro Topeng Malangan

Di Malang, pernah muncul tari topeng yang sempat melegenda menjadi tari topeng Malangan. Kini tari itu tergerus zaman, seperti juga nasib maestro penari topengnya, Mbah Karimun, makin ringkih dan melemah di usia tua. Tak banyak lagi pewarisnya yang bakal mempopulerkan tari topeng ini.

Oleh : INDAH INSIATI

Di rumah sederhana di Dusun Kedongmonggo, Kec. Pakisaji, Kab. Malang, tempat Mbah Karimun (92), dapat dilihat jejak-jejak kepopuleran maestro penari topeng ini. Di dinding dan lemari terpajang banyak penghargaan dari Presiden Soeharto, Gubernur Jatim Imam Utomo, Bupati Malang Sujud Pribadi, hingga Museum Rekor Indonesia (MURI). Penghargaan itulah yang menjadi catatan sejarah pengabdiannya menekuni seni tari topeng Malangan.

Mbah Karimun sendiri sekarang juga sudah menjadi sejarah. Dia sudah tak mampu lagi menari dengan lincah. Jangankan menari berdiri saja susah. Dia lebih banyak berbaring di kamarnya yang lusuh. Tubuh tuanya kering dan sakit-sakitan. Kadang suaranya terasa tenggelam, pelan namun kadang masih terlihat tegas meski kurang jelas di telinga orang lain.

Tubuhnya makin kurus dan kulitnya menghitam. Ke mana pun pergi, pria yang sempat menikah tujuh kali ini selalu menggunakan kursi roda. Untuk berkomunikasi, dia menggunakan alat bantu dengar yang dipasang di telinga. Meski begitu, alat tersebut tidak membantu banyak. Mbah Karimun kadang kurang bisa menerima pembicaraan orang lain secara jelas.

Saat wartawan koran ini bertandang ke rumahnya, pria yang tergolek itu tiba-tiba bangun dan ingin mengajak diskusi. Istrinya, Siti Mariyam atau yang akrab disapa Mak Yam, langsung memapah suami tercintanya menuju ruang tamu. Dengan dibantu istrinya, Mbah Karimun yang masih banyak mengingat masa lalunya itu mulai berkisah, bahwa dia tetap ingin membuat topeng Malangan.

“Cepetan beli kayu, nanti tak buatkan rangkanya (awalan topeng). Kemudian kamu yang neruskan ya dik,” ujar Mbah Karimun pada istri yang setia mendampingi.

Saat ditanya apakah masih ingin terus membuat topeng? Pria yang Juli 2008 lalu menerima penghargaan dari Gubernur Jatim Imam Utomo, di Grahadi dengan sembilan seniman lainnya, mengangguk-anggukkan kepalanya menandakan niatnya yang masih besar.

Tapi pria yang dulunya dikenal energik, sepertinya sadar bahwa kesehatannya kurang mendukung. Sehingga profesi sebagai penari dan pembuat topeng diteruskan istri dan anak-anaknya. Apalagi, dengan kondisinya yang makin melemah, Mbah Karimun menganggap dirinya sudah merepotkan keluarga yang sudah merawatnya selama ini.

“Nduwe duwit tah dik? Aku tidak bisa banyak membantu dan tubuhku makin sakit jika digerakkan,” katanya.

Selain mengeluhkan tubuhnya, dia juga banyak bercerita tentang pertemuannya dengan mantan Presdiden Soeharto hingga seringnya diundang ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) serta ke mancanegara untuk memperagakan tari topeng Malangan yang dulu sangat dikenal.

Sayangnya, saat ini tidak banyak yang tertarik untuk mengembangkan budaya yang dirintisnya bersama bapaknya, Kiman. “Anak-anak siapa yang ngajari nari, guru-gurunya kok belum ada yang ke sini hari ini,” tanya Mbah Mun, sapaan akrabnya, pada istrinya itu.

Meski kurang jelas namun semua pasti mengerti bahwa Mbah Mun memang ingin terus melestarikan budaya Malang itu. Setiap hari yang ditanyakan hanyalah hal yang terkait dengan topeng dan sejenisnya. Meski kesehatannya menurun dia enggan merepotkan anak-anak dan istrinya.

Jika dia merasakan tubuhnya sakit dan panas, Mbah Mun langsung minta istrinya untuk dimandikan. “Sampai siang begini Mbah Mun sudah minta mandi empat kali. Sepertinya badan Mbah Mun selalu sakit dan panas,” ujar Mak Yam.

Melihat kondisi suaminya yang semakin lemah, Mak Yam sudah lebih 20 tahun meneruskan pekerjaan suaminya. Meski begitu, Mak Yam mengakui kalau karya topeng yang dibuatnya tidak sebagus suaminya. Karena itu, awalan pembuatannya masih dibantu suami yang sudah memberinya tiga buah hati.

“Selama ini, Mbah Mun sedikit-sedikit masih bisa membantu membuat topeng. Kalau dia ngotot ingin membuat topeng ya saya penuhi. Hasilnya masih tetap bagus seperti dulu dan lebih berkarakter,” ujar mantan penyanyi keroncong itu.

Topeng yang dikerjakan suaminya, memiliki tokoh idola, seperti Klonosewandono, Patisabrang, dan Anoman. Jika sudah membuat tokoh itu, bisa dipastikan hasilnya akan lebih bagus jika dibandingkan karya topeng yang lain. Bahkan, karyanya itu selalu menjadi jujukan (koleksi) para turis asing yang ingin mendapatkan oleh-oleh khas Malang.

“Kami sebenarnya berharap Pemda memiliki museum karya yang khas dari kita sendiri atau Malangan. Jika ada turis yang tiba-tiba datang untuk mendapatkan topeng atau melihat yang unik dan kuno, bisa terlayani. Namun saat ini, kadang kami tidak bisa memenuhinya,” kata dia.

Keinginan adanya museum itu pernah dijanjikan para petinggi di Kabupaten Malang namun hingga kini belum terealisasi. Bahkan, saat suaminya semakin tua dan sering sakit-sakitan serta terbaring lemah, museum belum terwujud.

“Untuk perawatan Mbah Mun, Dinas Pariwisata membantu biaya pengobatan setiap seminggu dua kali. Kami mengambilnya langsung di Puskesmas,” jelas dia.

Meski merasa kesulitan, sang maestro tidak terlihat mengeluh dan terus ingin berjuang mempertahankan karya khas Malang ini. “Untuk biaya hidup, kami anggap cukup, meski kadang juga masih kekurangan. Meski begitu, saya selalu membesarkan hati Mbah Mun agar tetap sabar demi kesehatannya,” pungkas Mak Yam. (*)

Surabaya Post, 3 November 2008

2 Responses

  1. tubuh yang dimakan usiapun
    mulai kelahan
    merasakan beban yang berat
    untuk menghadapi ujianNya

    tetp berjuang
    demi kelestarian karya
    yang mulai
    hilang tersapu waktu

    kegigihan mu
    panuwun kulo mugi mugi
    budoyo jawi meniko
    saget to di pun uri – uri
    nagtos wekasanipun
    zaman…

  2. tolong untuk seniman tari topeng malangan kabupaten malang
    lebih serius lagi untuk menumbuhkan generasi penerus tari topeng malangan
    dari keturunan mbah karimun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: