Wayang Masuk Sekolah

BERBEK- Banyak cara mengenalkan budaya Jawa khususnya wayang kulit ke generasi muda. Salah satunya dengan masuk langsung ke lingkungan sekolah. Seperti dilakukan Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Nganjuk di SDN Berbek I, Kamis (30/10) kemarin. Halaman sekolah seluas lapangan voli disulap menjadi panggung wayang. Lengkap dengan dalang dan sinden.

Sedikitnya sekitar 750 orang dari SD, SMP dan SMA di Kecamatan Berbek mengikuti kegiatan yang dimulai pukul 08.00 ini. Sebelum wayang dimulai, juga digelar tari, teater dan puisi yang tentu saja temanya tentang wayang kulit.

Ratusan siswa yang mengenakan seragam khas sekolah masing-masing itu tampak asyik menuangkan kreativitasnya di atas kertas. Bermodal krayon dan cat air mereka menggambar dengan model wayang asli. Bahkan, ada juga yang menggambar panggung wayang lengkap dengan gamelannya.

Berlakon Tumuruning Wahyu Tunggulwulung, Dalang Anom Suseno asal Berbek membawakannya dengan penuh humor. Berkali-kali pria yang juga guru SD di Sawahan ini mengocok perut anak-anak.

Apalagi dia banyak membagikan hadiah. “Senang, Mas. Tapi gak ngerti bahasanya,” ujar Efril, siswa kelas 4 SDN I Berbek yang mengaku baru kali ini menonton wayang secara langsung. Memang, seperti wayang kulit biasanya, bahasa lebih banyak didominasi bahasa jawa halus, hanya saat bercanda, keluar bahasa ngoko yang lebih dikenal siswa.

Menurut Kepala Disparbud Tri Wiyoso, acara ini memang bertujuan untuk memperkenalkan kembali kebudayaan tradisional. “Karena selama ini budaya tradisional semakin dijauhi generasi muda,” ujarnya.

Wayang kulit dinilai merupakan alat yang paling tepat dan efektif untuk merepresentasikan kebudayaan tradisional Jawa. Sebelumnya, program ini diadakan di Kecamatan Patianrowo, Lengkong dan Sukomoro.

Tahun ini merupakan tahun keempat program wayang kulit masuk sekolah. Meskipun begitu Tri tidak berharap bisa langsung mengakrabkan siswa dengan wayang kulit. “Bahasanya saja kadang mereka tidak mengerti. Memang perlu proses,” terangnya. Program ini akan terus dilakukan di tiap-tiap kecamatan. Hanya saja, pagelaran di Berbek kemarin adalah pagelaran terakhir untuk tahun ini. (aya/dea)

Radar Kediri, Sabtu, 01 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: