M. Thalib Prasojo. Warnai Kota dengan Patung Pahlawan

Patung WR Supratman, salah satu karya Thalib Prasojo, di Surabaya. HUREK/RADAR SURABAYA

JASMERAH: Patung WR Supratman, salah satu karya Thalib Prasojo, di Surabaya. HUREK/RADAR SURABAYA

Di usia 77 tahun, M Thalib Prasojo tetap bersemangat. Energi berkeseniannya meluap-luap. Alih-alih pensiun atau menghabiskan masa senja dengan bersantai atau ngemong cucu, Thalib Prasojo justru membuka padepokan seni rupa di Magersari Permai U/7 Sidoarjo. Setiap hari dia menggarap patung, membimbing anak-anak muda, dan keluyuran membuat sketsa.

AGUNG NUGROHO

radarsurabaya@yahoo.com

EYANG Thalib—sapaan akrab ayah lima anak ini—bahkan terang-terangan menantang generasi

muda. “Saya mau lihat apakah stamina anak-anak muda masih bisa mengimbangi saya. Hehehe,”

ujar Thalib Prasojo yang ditemui Radar Surabaya di padepokannya kemarin. Berikut petikan percakapan dengan pelukis peraih penghargaan seni dari Gubernur Imam Utomo itu.

Sejak kapan Anda membuka padepokan di sini?

Sejak Februari 2008. Ini sudah jadi obsesi saya sejak lama. Apalagi, sekarang saya merasa betul-betul sudah kaya.

Sudah kaya?

Iya. Benar-benar kaya ide. Kaya ide itu nilainya jauh lebih tinggi daripada kekayaan materi. Sekarang saya harus memberi waktu sepenuhnya kepada sesama, khususnya anak-anak muda. Mereka yang belajar di sini, termasuk ibu-ibu rumah tangga, tidak harus jadi seniman.

Tapi paling tidak punya apresiasi seni. Kalau tahu seni, ibu-ibu itu lebih punya estetika. Cara menata piring, gelas, lemari… akan berbeda. Mungkin ini kelihatan kecil, halhal sepele, tapi justru sangat penting. Jangan lupa, virus dan kuman itu sangat kecil, tapi pengaruhnya sangat besar.

Apakah ini semacam obsesi lama Anda?

Bisa dikatakan begitu. Waktu kecil saya punya tetangga yang pintar gambar. Saya ingin belajar gambar sama dia. Setiap kali saya datang ke rumahnya, pintu ditutup. Saya hanya ditemui di teras. Saya merengek-rengek minta belajar mengambar. Tapi dia bilang tidak bisa. “Kalau kamu belajar gambar, nanti jadi saingan saya.”

Sejak itu saya punya obsesi. Kalau bisa menggambar, saya akan membagikan kepada siapa saja yang mau. Saya tidak takut punya saingan. Punya saingan itu malah bagus. Orang menikah itu kan supaya dapat saingan. Kenapa takut? Hehehe….

Nah, padepokan ini wujud pembalasan dendam saya. Sekarang saya total, 100 persen, mengajar di sini. Dan—ini yang penting—saya tidak memungut biaya apa pun. Gratis!

Sudah banyak orang yang belajar di sini?

Alhamdulillah, banyak. Ada dua macam murid saya, yaitu cantrik dan siswa. Cantrik itu mereka

yang berguru, siang malam berkarya, makan minum, tidur di sini. Mereka ada sekitar 15 orang. Selain belajar seni rupa (menggambar, sketsa, patung, instalasi), juga belajar filsafat dan hakikat hidup.

Kalau siswa itu anak-anak SD sampai SMP. Mereka belajar hanya hari Minggu. Saya kasih dasar-dasar seni rupa seperti volume, proporsi, gelap-terang, bentuk. Setelah itu mereka bebas berkarya, diskusi, dan ada kritik seni. Siswa diberi kesempatan untuk bicara, mempertahankan pendapatnya. Mereka dan saya kan sama saja hanya beda usia dan pengalaman. Jangan dikira anak-anak muda itu kalah sama orang tua. Belum tentu.

Anda banyak membuat patung-patung di Surabaya sejak 1970-an. Apa masih punya keinginan untuk mengisi ruangruang publik dengan patung?

Oh, jelas. Tapi saya ingin agar patung-patung itu punya karakter Indonesia, bukan karakter asing. Makanya, semua patung yang saya buat di Surabaya itu selalu figure pahlawan. Mulai tahun 1978 saya buat (patung) Akabri Laut di Bumimoro. Kemudian di Grahadi (1980), WR Supratman (2006), Pahlawan Tak Dikenal di Tugu Pahlawan (2007), semuanya pahlawan. Surabaya ini disebut Kota Pahlawan, maka patung-patungnya pun kalau bisa menggambarkan sosok pahlawan Indonesia. Bukan pahlawan Romawi atau Yunani.

Mengapa tidak bikin patung besar-besar seperti di Monumen Jalesveva Jayamahe?

Itu yang bikin sudah kelas PT (perseroan terbatas, Red). Miliaran rupiah itu. Saya cukup yang sedang-sedang saja. Saya kan tidak punya PT dan tidak punya bakat bikin PT. Hehehe…. (*)

Radar Surabaya, 2 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: