Himpun Minat Seni via Gallery

AGUNG RAHMADIANSYAH/RADAR SURABAYA

ALAT UKUR: Elizabeth Y Yuliawati mejeng di antara lukisan koleksi Orasis Art Gallery. Foto: AGUNG RAHMADIANSYAH/RADAR SURABAYA

Tak seperti memajang barang dagangan dalam estalase kaca, mengelola galeri seni membutuhkan komitmen kuat pemiliknya.

HETI PALESTINA YUNANI
heti_palestina@yahoo.com

MEMPEROLEH karya berkualitas dan menarik apresiasi masyarakat terhadap seni adalah beberapa persoalan dalam berbisnis galeri seni. ’’Keberadaan galeri seni di sebuah kota, salah satunya, jadi alat untuk mengukur bagaimana kadar cita rasa buah salah satu pilihan media sharing, menambah wawasan, berinteraksi antarmasyarakat. Jadi, bukan menampung ambisi saya untuk bisa menampilkan karya yang mahal lalu dikoleksi orang lain,’’ ungkap wanita ayu ini.

Untuk menghidupkan galeri seninya, dalam setahun, Liza menargetkan menggelar minimal empat kali pameran. Pameran yang merupakan agenda tetap sepenuhnya difasilitasi Orasis. Di luar itu, ada even tambahan atau program usulan yang bisa digelar jika ada rekomendasi para seni sebuah masyarakat,’’ kata Elizabeth Y Yuliawati, owner Orasis Art Gallery.

Karena itu, galeri seni jangan lagi dianggap sebagai sekadar sebuah tempat memajang benda-benda seni dan menunggu kolektor datang membelinya. Sebagai pilihan tempat untuk menghimpun minat orang yang tertarik, galeri seni juga jadi sarana mengajak orang mengungkapkan apresiasi pada kehidupan yang terungkap lewat karya para seniman.

Maka, tak mudah mengusung misi itu. Pengalaman Liza, panggilan Elizabeth, mengelola Orasis sejak 2005 membawa karya terbaik ke tempatnya bukan jaminan akan membuat orang datang ke galeri.

Bagi sebagian orang yang memahami karya seni, mendatangi galeri seni bukan hal memberatkan. Namun di tengah banyaknya pilihan tempat-tempat lain yang lebih menjanjikan suasana menghibur, pemilik atau pengelola galeri harus pintar-pintar mengemas antara keinginan masyarakat dan idealisme.

”Keseimbangan ini saya terapkan untuk menjaga agar galeri seni ini jadi salah satu pilihan media sharing, menambah wawasan, berinteraksi antarmasyarakat. Jadi, bukan menampung ambisi saya untuk bisa menampilkan karya yang mahal lalu dikoleksi orang lain,’’ ungkap wanita ayu ini.

Untuk menghidupkan galeri seninya, dalam setahun, Liza menargetkan menggelar minimal empat kali pameran. Pameran yang merupakan agenda tetap sepenuhnya difasilitasi Orasis. Di luar itu, ada even tambahan atau program usulan yang bisa digelar jika ada rekomendasi para seniman, penikmat galeri seninya, dan masyarakat.

Jeda di antara even satu ke yang lain dipakai untuk memajang koleksi Orasis yang di antaranya tak akan dilepas ke kolektor atau koleksi tetap Orasis. Seperti galeri seni yang lain, pameran yang merupakan agenda tetap sepenuhnya difasilitasi Orasis.

Even ketiga tahun ini digelar Liza pada 11 November, yaitu pameran lukisan Toni Ja’far bertema Membangun Rumah. Untuk membawa seniman berpameran di tempatnya, Liza memakai bantuan kurator. (*)

Radar Surabaya, 31 Oktober 2008

4 Responses

  1. Nice article…………..
    thank u

  2. Beri kesempatan pada pelukis-pelukis pemula seperti saya untuk memperkenalkan karya-karyanya.Kalau bisa saya ingin ikut dalam pameran-pameran yang diadakan galeri Orasis,terima-kasih

  3. Explore Heart of Borneo with : Painting, Sketch etc. Maybe you can see my Blog ; galleryborneozulms.blogspot.com

  4. betapa senangnya bisa pameran galeri orasis. moga aq diberi kesempatan .trimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: